<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372</id><updated>2011-11-27T15:24:41.149-08:00</updated><category term='500 AYAT UNTUK ALI BIN ABI THALIB'/><category term='Al - Mushtofa'/><category term='YA A`LI MADAD'/><category term='SAYID SYARIF RADHI'/><category term='NAHJUL BALAGHAH'/><category term='Syi`a'/><category term='Al-Mahdi'/><category term='Al-Husayn'/><category term='Aba Abdillah'/><category term='Ya SOHIBUZZAMAN'/><category term='Al-Shia.com'/><category term='Abal hasaan'/><category term='GHADIR KHAUM'/><title type='text'>MENTARi MeRAH D UFuK TiMUR</title><subtitle type='html'>"Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka".</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-5722677002199888192</id><published>2008-10-15T10:03:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T10:04:41.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NAHJUL BALAGHAH'/><title type='text'>BUKU AJAIB - NAHJUL BALAGHAH</title><content type='html'>&lt;span style="color:#333333;"&gt;Koleksi berharga dan indah ini bernama Nahjul Balaghah. Masa tidak mampu menjadikannya basi dan kuno. Laju roda zaman dan munculnya ide-ide baru secara berurutan telah memperjelas nilai buku ini. Buku ini adalah pilihan ceramah, doa, wasiat, surat dan kata mutiara Amirul Mukminin Ali as yang dikumpukan oleh Sayid Radhi sekitar seribu tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa Amirul Mukminin as adalah orator. Maka dari itu, beliau sering berceramah. Sering juga terdengar dari beliau kata-kata mutiara yang bijak sesuai dengan momen-momen tertentu. Begitu pula tercatat pula oleh sejarah surat-surat beliau yang berlimpah, khususnya di masa kekhalifahannya. Dan sejak zaman itu, masyarakat memberi perhatian khusus pada kata-kata beliau dan menghafalnya.&lt;br /&gt;Al-Mas‘udi, yang hidup sekitar seratus tahun sebelum sayid Radhi (akhir abad ketiga dan awal abad keempat Hijriah), mengatakan dalam kitabnya Murûj adz-Dzahab jilid kedua pada judul “Fi Dzikri Luma‘in min Kalâmih wa Akhbârih wa Zuhdih”, “Ceramah-ceramah Amirul Mukminin as di berbagai posisi yang telah dihafal oleh masyarakat mencapai angka empat ratus delapan puluh lebih. Beliau membawakan ceramah secara jelas dan tanpa persiapan atau catatan sebelumnya. Masyarakat pendengar pun segera menangkapnya dan secara praktis mengambil keuntungan dari orasi beliau.”&lt;br /&gt;Kesaksian cendekiawan peneliti dan tersohor seperti al-Mas‘udi merupakan bukti betapa banyaknya ceramah Amirul Mukminin as. Nahjul Balaghah hanya memuat 239 ceramah padahal al-Mas‘udi melaporkannya lebih dari empat ratus delapan puluh yang tersimpan di memori masyarakat.&lt;br /&gt;Sayid Radhi dan Nahjul Balaghah&lt;br /&gt;Secara pribadi, Sayid Radhi sendiri sangat terpikat oleh kalimat-kalimat Amirul Mukminin as. Sayid adalah sastrawan, penyair dan mengenal nilai perkataan. Tsa‘âlibî yang hidup semasa dengannya berkata, “Sekarang ini, dia (Sayid Radhi) adalah orang yang paling menakjubkan di tengah masyarakat kontemporer. Dia adalah orang termulia di tengah para sayid Irak. Di samping memiliki nasab dan kehormatan yang sejati, dia juga dihiasi oleh sastra dan keutamaan yang sempurna .… Dialah yang terbaik di tengah pujangga-pujangga keluarga Abi Thalib, padahal keluarga ini punya banyak penyair yang handal. Tidak jauh dari kenyataan apabila saya katakan bahwa dari semua orang Quraisy tiada pujangga yang sampai pada tingkatannya.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Keterpikatan dia pada sastra khususnya pada kalimat Amirul Mukminin as membuatnya lebih sering memandang kalimat beliau dari kaca mata kefasihan dan keindahan, dan hal itu pula yang menjadi tolok ukur pilihan dia dalam kitab Nahjul Balaghah, artinya bagian-bagian yang dia muat di kitab itu lebih menarik perhatiannya lantaran terletak pada puncak kefasihan tertentu; karena itulah koleksi kalimat Amirul Mukminin in diberi nama dengan Nahjul Balaghah, dan dengan alasan yang sama pula kenapa dia tidak begitu memberi perhatian lebih pada refrensi kalimat tersebut, hanya di beberapa tempat saja mengingat ada momentum tertentu dia menyebutkan nama kitab yang jadi rujukannya untuk menukil ceramah atau surat Amirul Mukminin as.&lt;br /&gt;Langkah terutama yang harus diambil dalam buku sejarah atau hadis adalah refrensi dan sanad yang jelas, tanpa itu maka secara ilmiah buku itu tidak bernilai, adapun nilai karya sastra bukanlah pada refrensinya melainkan terletak pada kelembutan, keindahan, manis dan daya tawan karya tersebut. Kendatipun demikian, tidak bisa kita katakan bahwa Sayid Radhi lalai akan nilai histori dan nilai-nilai lain dari karya ini dan semata hanya memperhatikan nilai sastranya.&lt;br /&gt;Untungnya, di masa setelah dia, ada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk mengumpulkan sanad dan refrensi Nahjul Balaghah, mungkin sampai sekarang buku yang paling lengkap dan luas dalam hal ini adalah “Nahjus Sa’adah fi Mustadraki Nahjil Balaghah” karya salah satu peneliti yang mulia dari negri Iraq dan bernama Muhammad Baqir Mahmudi. Kitab ini memuat semua ceramah, perintah, surat, wasiat, doa dan kata mutiara Amirul Mukminin as, di samping memuat semua isi Nahjul Balaghah kitab ini juga menampung ucapan-ucapan Amirul Mukminin as yang tidak terpilih di Nahjul Balaghah atau tidak terjangkau oleh Sayid Radhi pada waktu itu, dan sepengetahuan saya sampai sekarang ini hanya sebagian kecil dari kata mutiara saja yang masih belum disebutkan refrensinya, adapun yang lain sudah ditemukan dan sudah dicetak empat jilid.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga bahwa bukan Sayid Radhi saja yang berperan dalam mengumpulkan kalimat-kalimat Amirul Mukminin as. Tidak sedikit orang lain yang juga memiliki karya koleksi kalimat beliau dengan nama yang berbeda-beda. Salah satu yang paling populer adalah karya bernama “al-Ghurar wa ad-Durar”, karya al-Âmidi yang disyarahi oleh Syaikh Jamaludin al-Khunsari dalam bahasa persia dan dicetak oleh yang terhormat Mir Jalaludin Muhaddis Armawi di universitas Teheran.&lt;br /&gt;Ali al-Jundi, Rektor Fakultas Ulum di Universitas Kairo dalam pengantarnya terhadap buku yang berjudul “Ali bin Abi Thalib, Syi‘ruh wa Hikamuh” (Ali bin Abi Thalib, Syair dan Kata-kata Mutiaranya) menyebutkan beberapa naskah koleksi kalimat Amirul Mukminin as yang sebagiannya masih dalam bentuk tulisan tangan dan belom tercetak, seperti:&lt;br /&gt;1. Dastûr Ma‘âlim al-Hikam, karya Qadla’i Sha’ibul Khutath.&lt;br /&gt;2. Natsr al-La’âlî, karya seorang orientalis Rusia. Satu jilid besar dan terjemahannya sudah menyebar di pasaran.&lt;br /&gt;3. Hikam Sayidina Ali as, tulisan tangan dan bisa dilihat di Darul Kutub al-Mishriah.&lt;br /&gt;Dua Keistimewaan Nahjul Balaghah&lt;br /&gt;Sejak dulu kala, ucapan Amirul Mukminin as terkenal dengan dua keistimewaannya: pertama, kefasihan dan keindahan, dan kedua, kemultidimensiannya. Masing-masing dari dua keistimewaan ini cukup untuk memberikan nilai yang sangat tinggi pada kata-kata Amirul Mukminin as, sedangkan bersandingnya dua keistimewaan ini dalam kata-kata beliau sangat mendekatkannya pada tingkat mukjizat. Maksud dari pertemuan dua kelebihan tersebut dalam kata-kata Amirul Mukmini as adalah ucapan yang disampaikan di berbagai perjalanan dan medan yang berbeda-beda, bahkan juga bertentangan, tetap menjaga puncak kefasihan dan keindahannya secara merata. Oleh karena itu, juga ucapan Amirul Mukminin as berada di posisi tengah antara firman Pencipta (Allah SWT) dan ucapan makhluk-Nya; fauqa kalâmil makhlûq wa dûna kalâmil khâliq. Begitulah sebagian ulama mengungkapkan isi hatinya.&lt;br /&gt;Indah&lt;br /&gt;Keistimewaan Nahjul Balaghah yang satu ini tidak perlu lagi untuk dijelaskan bagi orang yang mengenal nilai sebuah perkataan dan keindahannya, karena pada dasarnya keindahan hanya bisa dirasakan, bukan disifati. Empat abad telah berlalu (di masa hidup Mutahari), akan tetapi Nahjul Balaghah masih memiliki kelembutan, rasa manis, daya tarik dan tawan yang dahsyat bagi pendengar/pembaca masa kini sebagaimana juga hal itu berlaku bagi pendengar/pembaca pada saat Amirul Mukminin as melantunkannya. Kami tidak berada pada posisi pembuktian hal ini; kita sesuaikan dengan momentum saja perihal pembicaraan seputar pengaruh ucapan Amirul Mukminin as pada hati pendengar, begitu juga pengaruhnya dalam membangkitkan perasaan heran setiap pendengarnya sejak zaman itu sampai sekarang, padahal telah terjadi perubahan dan pergolakan intelektual dan selera sepanjang sejarah. Coba kita amati bersama mulai dari masa Amirul Mukminin as sendiri.&lt;br /&gt;Sahabat-sahabat Amirul Mukminin as, khususnya mereka yang mengerti nilai orasi, betul-betul takjub pada kata-kata beliau. Ibn Abbas adalah salah satu dari mereka. Padahal Ibn Abbas sendiri—seperti dinukil oleh al-Jahizh di dalam kitab “al-Bayân wa at-Tabyîn”—adalah seorang orator yang handal.&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Kepada Amirul Mukminin as, Ibn Abbas tidak menyembunyikan kerinduannya untuk mendengar kata-kata beliau dan bahwa dia menikmati ucapan beliau yang selalu indah menawan, seperti juga ketika beliau berceramah yang dikenal dengan orasi Syiqsyiqiah dan dihadiri pula oleh Ibn Abbas. Di tengah ceramahnya, ada orang berpendidikan dari kota Kufah datang mengantarkan surat kepada Amirul mukminin as. Beliau pun segera memotong ceramahnya dan membaca surat yang berisi masalah-masalah tertentu. Setelah membaca surat tersebut, Ibn Abbas memohon Amirul Mukminin as untuk melanjutkan ceramahnya tadi. Namun, beliau tidak mengabulkan permintaan itu. Ibn Abbas berkata, “Sumur hidupku, aku tidak pernah menyesal karena ceramah tertentu sebagaimana aku menyesali terputusnya ceramah ini.”&lt;br /&gt;Ibn Abbas berkomentar tentang salah satu surat pendek Amirul Mukminin as yang dialamatkan kepadanya sebagai berikut, “Setelah sabda Rasulullah saw, saya tidak mendapatkan keuntungan lebih besar dari keuntungan yang saya dapat dari kata-kata surat ini.”&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;br /&gt;Mu‘awiyah bin Abi Sufyan yang merupakan musuh bebuyutan Amirul mukminin as, mengakui keindahan dan kefasihan yang luar biasa dari kata-kata beliau.&lt;br /&gt;Mahqan bin Abi Mahqan berpaling dari Amirul Mukminin as dan menuju ke Mu‘awiyah, dan untuk menarik hatinya yang benci berat terhadap Amirul Mukminin as, Mahqan berkata, “Saya pergi dari orang yang paling tidak berlisan (tidak mengenal bahasa) untuk datang kepadamu.”&lt;br /&gt;Penjilatan ini sangat menjijikkan sehingga Mu‘awiyah sendiri yang memberinya pelajaran. Mu‘awiyah berkata, “Celakalah dirimu! Apakah Ali adalah orang yang paling beradab (sastra)?! Sebelum Ali ada, Quraisy tidak mengenal kefasihan kata-kata. Ali adalah orang yang mengajarkan keindahan kalimat dan kefasihan kepada Quraisy.”&lt;br /&gt;Pengaruh&lt;br /&gt;Mereka yang duduk di bawah mimbar Amirul Mukminin as sangat terpengaruh oleh kata-katanya. Nasihat-nasihat beliau menggetarkan hati setiap pendengarnya sampai mengalirkan air mata. Sampai sekarang pun, hati siapakah yang tidak gemetar ketika membaca ceramah nasihat Amirul Mukminin Ali as atau mendengarnya. Setelah menukil ceramah populer al-gharâ’, Sayid Radhi mennegaskan, “Sewaktu Amirul Mukminin as menyampaikan ceramah ini, badan pendengar jadi gemetar, air mata mengalir deras, dan hati pun berdetak kencang.”&lt;br /&gt;Humam bin Syuraih—salah seorang sahabat Amirul Mukminin as yang hatinya dipenuhi rasa rindu kepada Allah swt dan jiwanya berkobar oleh api spiritual—sekali bersikeras meminta Amirul Mukminin as untuk menggambarkan sifat manusia bertakwa secara utuh. Di satu sisi, beliau tidak ingin mengecewakannya dengan jawaban negatif dan di sisi lain, beliau khawatir Humam tidak siap mendengarnya. Oleh karena itu, beliau menyingkat jawaban dalam kalimat yang pendek. Akan tetapi, Humam tidak rela dengan jawaban itu melainkan api kerinduannya semakin berkobar-kobar. Dia tetap bersikeras dan menyumpah beliau untuk menggambarkan lebih luas. Akhirnya Amirul Mukminin as pun memulai uraiannya. Sekitar 105&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; sifat yang beliau bawakan dalam penggambaran ini dan masih berkelanjutan. Akan tetapi, setiap kata beliau berlanjut dan meningkat, detak jantung Humam pun semakin kencang dan jiwanya semakin tidak tenang seperti ayam yang terkurung dan ingin merdeka. Tiba-tiba saja terdengar teriakan kencang yang histeris dan menarik perhatian hadirin sekalian. Orang yang berteriak tadi tidak lain adalah Humam. Ketika kepalanya sampai ke bantalan, dia telah mengosongkan tubuhnya dan memasrahkan rohnya kepada Pencipta roh. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un!&lt;br /&gt;Amirul Mukminin as berkata, “Inilah yang saya khawatirkan sebelumnya. Heran! Lihatlah apa yang dilakukan oleh nasihat yang indah kepada hati yang siaga?!” Inilah tadi reaksi orang-orang yang mendengar kata-kata Amirul Mukminin as secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; Abduh, Syaikh Muhammad, Pengantar Nahjul Balaghah, hal. 9.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; Pada masa hidup Syahid Muthahari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; Al-Bayân wa at-Tabyîn, jilid 2, hal. 230.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; Nahjul Balaghah, Surat ke-22.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/muthahri/02.htm#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt; Sesuai dengan penghitungan saya pribadi, jika tidak salah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-5722677002199888192?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/5722677002199888192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=5722677002199888192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/5722677002199888192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/5722677002199888192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/10/buku-ajaib-nahjul-balaghah.html' title='BUKU AJAIB - NAHJUL BALAGHAH'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-498939310812375132</id><published>2008-10-15T09:53:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T10:01:34.183-07:00</updated><title type='text'>Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhVMushoI/AAAAAAAAANs/NcWRWnGKb0A/s1600-h/muhammad-fahham.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257426263079683714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhVMushoI/AAAAAAAAANs/NcWRWnGKb0A/s400/muhammad-fahham.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhQRTgamI/AAAAAAAAANk/ukmB8kOqvC0/s1600-h/mahmud-syaltut.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257426178408475234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhQRTgamI/AAAAAAAAANk/ukmB8kOqvC0/s400/mahmud-syaltut.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhIVT-dXI/AAAAAAAAANc/0ZOd5u1jPB0/s1600-h/abdulhalim-mahmud.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257426042045232498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhIVT-dXI/AAAAAAAAANc/0ZOd5u1jPB0/s400/abdulhalim-mahmud.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhAZbi_wI/AAAAAAAAANU/3qS2ystJupw/s1600-h/salim-albashri.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257425905711775490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhAZbi_wI/AAAAAAAAANU/3qS2ystJupw/s400/salim-albashri.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Sejak lama Al-Azhar yang berada di kota Kairo-Mesir telah menjadi pusat dan kiblat buat pendidikan masyarakat Ahlusunnah. Al-Azhar telah banyak mencetak para ulama dan tokoh Ahlussunah yang kemudian tersebar di segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Para alumni al-Azhar dapat bersaing dengan alumni-alumni Timur Tengah lainnya seperti Saudi Arabia, Sudan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunis, Maroko, Yordania, Qatar dan negara-negara lainnya. Inilah salah satu penyebab al-Azhar menjadi semakin mencuat citranya di berbagai negara muslim dunia, sehingga seorang pemimpin al-Azhar menjadi rujukan dan panutan bagi pemimpin perguruan tingi lain di Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini, kita akan menunjukkan beberapa fatwa dari para petinggi al-Azhar perihal bermazhab dengan mazhab Jakfari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariyah. Kita akan mulai dengan fatwa dari guru besar yang memulai fatwa pembolehan tersebut, Syeikh Allamah Mahmud Syaltut RA:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#ff0000;"&gt;Kesemua dari para petinggi al-Azhar tadi memberi respon positif terhadap mazhab Jakfari (Syiah Imamiah Istna ‘Asyariah) dan mengakuinya sebagai salah satu mazhab dalam Islam dimana seorang muslim bebas untuk menentukan bermazhab dengan mazhab tersebut, kelegalannya sebagaimana mazhab Ahlussunnah yang ada. Tentu, bagi sebagian kelompok kecil yang merasa benar sendiri (ego) dan fanatisme golongannya telah melingkupi dirinya, plus akibat dari kekotoran jiwa yang tidak menerima fatwa-fatwa petinggi dan pemuka al-Azhar tersebut. Mereka hanya akan menerima fatwa dari ulama-ulama golongan mereka saja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-498939310812375132?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/498939310812375132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=498939310812375132' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/498939310812375132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/498939310812375132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/10/fatwa-fatwa-resmi-al-azhar-tentang.html' title='Fatwa-Fatwa Resmi Al-Azhar tentang Mazhab Jakfary (Syiah Imamiah)'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SPYhVMushoI/AAAAAAAAANs/NcWRWnGKb0A/s72-c/muhammad-fahham.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-4400930067155913366</id><published>2008-08-12T02:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-12T04:46:46.322-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='500 AYAT UNTUK ALI BIN ABI THALIB'/><title type='text'>PENCIPTAAN MALAIKAT</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;Inilah alam yang disebut dengan Alam "Adhillah" (bayangan), "Mitsaq" (perjanjian), atau "Anwar" (cahaya). Banyak ayat dan riwayat yang menunjukkan hal ini, di antaranya adalah "Mereka tidak sombong untuk menyembah-Nya  ...mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai oleh-Nya dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. barangsiapa di antara mereka yang mengatakan, ~Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain allah,~ia akan diganjar dengan neraka."(al-anbiya`: 19 dan 28-29) Mufadhal pernah bertanya kepada Imam ja`far al-shadiq as tentang dalil keberadaan Ahlul Bait di Alam Bayangan. Imam as lalu membaca ayat di atas dan berkata ,'Wahai Mufadhal, bukankah kalian tahu bahawa yang ada di langit adalah para malaikat, sedangkan yang berda di bumi adalah jin, manusia, dan semua makhluk yang bergerak? Lalu, siapakah mereka yang berda di sisi Allah dan bukan dari golongan malaikat?' 'Siapakah mereka, wahai junjunganku,' tanya Mufadhal. 'Siapa mereka? Mereka adalah Kami. Kami ada ketika tidak ada wujud (makhluk) selain kami, tidak ada langit, bumi, malaikat, nabi, dan rasul.'(al-hidayah al-Kubra, hal. 433) Ketika Imam al-Shadiq as ditanya, bagaimana wujud kalian sebelum Allah menciptakan langit dan bumi? Beliau menjawab,'Kami adalah cahaya-cahaya di sekitar A`rsy Allah dan bertasbih kepada-Nya hingga Dia menciptakan malaikat. Ketika mereka diperintahkan untuk bertasbih, mereka mengatakan,'Kami tidak tahu caranya.'  Allah lalu menyuruh kami untuk bertasbih, dan kami bertasbih diikuti para malaikat. Ketahuilah bahwa kami diciptakan dari cahaya Allah."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-4400930067155913366?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/4400930067155913366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=4400930067155913366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/4400930067155913366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/4400930067155913366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/08/penciptaan-malaikat.html' title='PENCIPTAAN MALAIKAT'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-8235313443973710093</id><published>2008-08-11T23:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-11T23:58:11.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='500 AYAT UNTUK ALI BIN ABI THALIB'/><title type='text'>TAFSIR AHLUL BAYT</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SKE0dM8qOII/AAAAAAAAALg/meYaCXXsiPw/s1600-h/zaenab.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SKE0dM8qOII/AAAAAAAAALg/meYaCXXsiPw/s400/zaenab.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233521918277728386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan akhir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1&lt;/em&gt;Beginilah riwayat: Imam Ali as berkata,"Basmalah adalah bagian dari ayat-ayat surat al-fatihah, yang semuanya berjumlah tujuh ayat."(kemudian beliau berkata)," Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,"Sesungguhnya Allah berfirman kepadaku: Wahai Muhammad, Kami telah berikan padamu tujuh ayat dari al-Fatihah dan juga al-Quran.Allah mengkhususkan al-Fatihah untukku dan menyetarakannya dengan al-Quran. Sesungguhnya al-Fatihah lebih agung dari apa yang tersimpan di ~Arsy.~Allah mengkhususkan Muhammad dengan basmalah dan memuliakan beliau dengannya. Tak seorangpun yang menyamai beliau, kecuali Sulaiman as. Bukankah kalian tahu bahwa Allah telah menceritakan Bilqis yang berkata," Telah sampai kepadaku sebuah surat yang dikirim Sulaiman dan dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim"? Ketahuilah, barangsiapa membaca basmalah dengan kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya, taat kepada mereka, dan beriman pada lahir dan batin mereka, maka Allah akan memberinya sebuah kebaikan bagi setiap hurufnya. Setiap kebaikan lebih baik dari dunia dan segala isinya. Dan barangsiapa mendengar seseorang membaca basmalah, maka dia mendapat sepertiga pahala orang yang membacanya. Karena itu, seringlah membaca basmalah yang penuh berkah ini. Ia merupakansebuah harta yang tiada habisnya, dan orang tidak akan menyesal membacanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-8235313443973710093?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/8235313443973710093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=8235313443973710093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/8235313443973710093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/8235313443973710093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/08/tafsir-ahlul-bayt.html' title='TAFSIR AHLUL BAYT'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SKE0dM8qOII/AAAAAAAAALg/meYaCXXsiPw/s72-c/zaenab.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-66680393579461402</id><published>2008-08-08T04:22:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T04:48:33.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ya SOHIBUZZAMAN'/><title type='text'>ASSALAMMUA`LAIKUM YA SOHIBUZZAMAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SJwyMeiULoI/AAAAAAAAALY/wReNdEjB9is/s1600-h/nbalaghah.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SJwyMeiULoI/AAAAAAAAALY/wReNdEjB9is/s400/nbalaghah.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232112057034485378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan petunjuk dan hidayah bagi masyarakat dari kesesatan menuju jalan kebenaran yang diridoi oleh Allah swt adalah merupakan sebuah sejarah umat manusia yang sejak dulu ada dan tidak akan pernah berhenti, dan dengan adanya manusia, Allah swt telah mengirim para nabi guna menunjukkan jalan lurus kepada mereka, dan demi mengemban misi ini Allah telah medatangkan mereka dalam jumlah yang besar hingga mencapai 124.000 nabi, yang diawali oleh nabi Adam dan diakhiri oleh nabi besar Muhammad SAWW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Para nabi yang mulya walaupun dengan segala jerih payah, daya dan upaya, umur mereka habis demi menjalankan tugas misi Allah, yaitu memberikan jalan petunjuk kepada umat manusia, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil sampai menegakkan pemerintahan secara global dan universal, mereka hanya berhasil membentuk sebuah pemerintahan pada waktu dan batas-batas tertentu. Dan tentunya sebuah perbaikan global yang diharapkan adalah terbentuknya sebuah pemerintahan yang sifatnya mendunia dan bukan pada batasan-batasan daerah tertentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dengan demikian harapan seluruh umat manusia adalah adanya seorang pribadi yang meneruskan misi para nabi dan mewujudkannya dengan cara mempersiapkan diri dan lahan untuk terciptanya sebuah pemerintahan global yang dipimpin oleh Sahib Al-Zaman af, sehingga seluruh nabi dan orang-orang yang tertindas mencapai harapan dan keinginannya dengan terbentuknya pemerintahan yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan “baldatun thoyibatun wa rabbun ghofuur”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Harapan semacam ini selalu ada dan akan berlanjut, nabi besar Muhammad SAWW danpara imam tiada satupun dari mereka yang dapat sampai membentuk sebuah pemerintahan yang mereka inginkan, sehingga mereka selalu berulang-kali bersabda:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya dunia ini hanya tinggal satu hari saja, maka Allah akan memanjangkan hari itu, sehingga ditegakkan pemerintahan Sahib Al-Zaman”. [1] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Dan dialah Al-Mahdi yang dijanjikan yang akan menutup perkara penting ini dengan  tindakan dan juga sebagaimana ungkapan yang telah disampaikan oleh pemimpin besar revolusi slam Iran, Imam Khomaini  (rahmatullahi alaih) tentang beliau af, :           “Saya tidak dapat menaruh kata pemimpin untuk beliau (Al-Qaaim), namun  ada sesuatu yang lebih besar dari hal itu, tidak dapat saya ucapkan sebagai orang yang pertama karena tidak ada yang kedua. Kita tidak akan pernah bisa memberikan ungkapan untuk beliau selain “Al-Mahdi yang dijanjikan”, dialah sosok pribadi yang disimpan sebagai cadangan oleh Allah SWT untuk manusia”[2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dan sebagai pamungkas untuk para imam dan yang akan membalas tetesan-tetasan darah Al-Husain yang ditumpahkan di padang Karbala, Pent.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Kalimat  “Baqiyatullah” adalah salah satu laqab terkenal yang dimiliki oleh  Imam Zaman, yang menjelaskan  bahwa Allah SWT menyimpan beliau sebagai cadangan, sehingga beliau dapat merealisasikan cita-cita dan harapan semua orang tertindas, para nabi dan para pendukung tauhid dan kebenaran dari seluruh penjuru dunia.  Sekarang perhatikanlah beberapa riwayat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*        Salah seorang penolong Imam Shadiq as berkata: “Ketika aku mendapat taufiq berkunjung menemui Imam Shadiq as, aku bertanya  kepada beliau: Apakah engkau sahib kami? Kemudian beliau menjawab: Apakah aku adalah sahib kalian? Kemudian beliau memegang dan menarik lenganku, seraya bersabda: Aku sudah mulai beranjak tua, adapun sahib kalian adalah seorang yang masih muda”.[3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dijelaskan bahwa ungkapan “sahib” hanya digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Imam Zaman, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan global beliau yang dijanjikan akan memenuhi dunia ini dari segala arah dan penjuru, dan seluruh umat muslim sedunia harus berusaha untuk mendapatkannya dan menunggu kemunculannya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*        De’bel adalah seorang penyair yang hidup pada zaman Imam Ridho as, mendapat taufiq bertemu dengan beliau dan mendapat kesempatan untuk menguraikan bait-bait syairnya yang penuh arti dalam memuji dan menjunjung tinggi keluarga Nabi SAW yang suci dan disucikan. Di akhir uraian bait-bait syairnya Imam Ridho as bersabda: Tambahkan juga dua bait syair ini dalam bait-bait syairmu! Yang salah satu baitnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; الى الحشر حتى يبعث الله قائما  *  يفرج عنا اليهم والكربات &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musibah dan petaka ini, dan segala kesulitan yang menimpa akan terus berlanjut sampai Allah SWT membangkitkan Al-Qaaim (penegak kebenaran), sehingga ia akan menepis segala kesulitan dan musibah itu dan menggantinya dengan kebahagiaan dan memberikan kami kesenangan dan kegembiraan”. [4] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*        Imam Shadiq kepada salah satu penolongnya bersabda: “Tafsiran dari ayat       { فاصبر على ما يقولون  }  beristiqomahlah dengan apa yang diucapkan oleh para  penentang,[5] adalah: wahai Muhammad hadapilah para penentang, karena aku akan membalaskan dendammu dengan seseorang dari keturunanmu yang dia akan aku berikan kekuatan untuk menguasai darah orang-orang yang zalim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dengan memperhatikan sebagian dari ucapan-ucapan para imam dan para ulama, dapat kita simpulkan bahwa Imam Al-Qaaim adalah harapan sepanjang sejarah dan seluruh dunia. Namun yang pasti harus diperhatikan adalah seluruh manusia tidak akan sampai pada harapan yang sangat besar ini, kecuali dengan berusaha dan berjerih payah, berjihad, penuh kesabaran dan kesadaran, bertempur dan menegakkan amar makruf dan nahi anil mungkar, sebagaimana berkali-kali disarankan oleh para imam.[] &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[1] Itsbatul Huda, jilid 7, hal. 51, pemerintahan yang diinginkan seluruh Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ucapan-ucapan Imam Khomaini pada pertengahan bulan Sya’ban, 1360 HS, di Husainiyah Jamaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Biharul Anwar, jilid 52, hal. 280.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Safinatul Bihar, jilid 2, hal. 448. dan Uyun Al-Akhbar(Akhbar Ar-Ridho) jilid 2, hal. 263&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] QS. Thaha 13&lt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-66680393579461402?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/66680393579461402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=66680393579461402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/66680393579461402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/66680393579461402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/08/assalammualaikum-ya-sohibuzzaman.html' title='ASSALAMMUA`LAIKUM YA SOHIBUZZAMAN'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ck5dvzXYWDY/SJwyMeiULoI/AAAAAAAAALY/wReNdEjB9is/s72-c/nbalaghah.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-2871796190994431690</id><published>2008-08-05T07:45:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T07:48:59.485-07:00</updated><title type='text'>KEKASIH ALLAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Benarkah Nabi SAW Manusia Biasa? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Nabi saw hanya manusia biasa tidak ubah-nya seperti kita-kita? Demikian, mungkin keyakinan sebagian pihak. Biasanya mereka mengajukan ayat: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. Hanya saja kepadaku disampaikan wahyu.” (QS. 18:110). Berdasarkan ayat ini dan tunjangan ayat-ayat senada, semisal “Katakan: ‘Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku hanya seorang manusia yang diutus?” Kelompok ini percaya bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, dapat membuat kesalahan, kekeliruan, bahkan mungkin, na’udzubillah, pelanggaran. Oleh karena itu kelompok ini menuding para pemuja Nabi saw telah berlaku berlebih-lebihan dan pengkultusan yang tidak perlu. Benarkah demikian? Untuk itu kita harus melihatnya dari berbagai sisi. &lt;br /&gt;Pertama, sejauh mana al-Quran mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw, apakah hanya sebagai manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, atau sebagai manusia yang luar biasa, yang tidak dapat disamakan dengan manusia umum, bahkan dengan malaikat sekalipun? &lt;br /&gt;Jika kita telusuri dengan seksama ayat-ayat yang menyinggung tentang Nabi saw atau malah riwayat-riwayat yang berkenaan dengan Nabi saw, maka dengan yakin kita akan menganut pandangan kedua dan menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw memang bukan manusia biasa. Ia adalah manusia utama, “superman” yang telah berhasil melewati tingkat umum manusia dan mencapai derajat keutamaan yang tiada taranya. Katakanlah insân kamîl. Tapi mengapa masih ada yang memandang Nabi saw sebagai manusia biasa? Kita akan melihatnya. &lt;br /&gt;Kedua, apa yang dimaksud bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya? Apakah maksudnya bahwa kedudukannya di mata Allah sama dengan manusia lainnya? Saya kira kelompok penolak pemujaan kepada Nabi pun tidak membenarkan anggapan seperti ini. Mereka juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul dan memiliki kedudukan yang sangat khusus di sisi Allah. Tapi mengapa mereka menganggap bahwa Nabi tidak ubahnya seperti manusia lain yang dapat lupa, salah, atau keliru? Kita coba mengkajinya. &lt;br /&gt;Ketiga, bagaimana kita harus menyikapi Nabi Muhammad saw? Di satu sisi, ia adalah Nabi dengan kemuliaan yang tiada tara, tapi di sisi lain al-Quran menegaskan bahwa ia juga adalah manusia seperti kita. Kita akan sampai ke pembahasan ini setelah kita melewati pembahasan pertama dan kedua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Nabi dalam al-Quran &lt;br /&gt;Seperti yang telah kita singgung di atas, kedudukan Nabi Muhammad saw dalam al-Quran sungguh luar biasa. Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. &lt;br /&gt;Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulullah sebagaimana dalam al-Quran. &lt;br /&gt;Pertama, keimanan semua rasul kepada Nabi Muhammad SAW. &lt;br /&gt;Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata: &lt;br /&gt;Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;Untuk hal ini, Allah Swt. berfirman dalam QS. 3:81: &lt;br /&gt;Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.” &lt;br /&gt;Kedua, kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya: &lt;br /&gt;Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana (QS. 2:129). &lt;br /&gt;Ketiga, penciptaan Nabi Muhammad saw sebelum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nûr” atau cahaya. Ketika Allah mencip-takan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan: &lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: &lt;br /&gt;Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum menciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib. &lt;br /&gt;Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfirman: &lt;br /&gt;Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219). &lt;br /&gt;Keempat, Nabi Muhammad saw adalah manusia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33: &lt;br /&gt;Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. &lt;br /&gt;Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri. &lt;br /&gt;Kelima, Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya semuanya di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt. &lt;br /&gt;Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan semuanya semata-mata adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (QS. 53:3-4). &lt;br /&gt;Keenam, Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7) &lt;br /&gt;Ketujuh, dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: &lt;br /&gt;Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27). &lt;br /&gt;Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini. &lt;br /&gt;Kedelapan, Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4). &lt;br /&gt;Kesembilan, siapa saja yang berhadapan dengan Nabi Muhammad saw maka berhadapan dengan Allah Swt. Sebaliknya, siapa saja yang membelanya, Allah berada di belakangnya. Firman Allah (QS. 9:61). Pada kesempatan lain, Allah bahkan mengancam kedua istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Hafsah, karena mengkhianatinya dalam soal rahasia yang disampaikannya kepada mereka. Jika mereka tidak tobat dan masih melawan Rasulullah, maka Allah sendiri yang akan menghadapi mereka (QS. 66:4). &lt;br /&gt;Kesepuluh, Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepadanya (QS. 33:56). Arti shala-wat Allah kepada Nabi adalah penganugrahan rahmat dan kasih sayang-Nya; shalawat malaikat adalah permohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shalawat orang-orang beriman. &lt;br /&gt;Kesebelas, orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak memperlakukan Rasulullah sebagaimana perlakuan mereka terhadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul ha-rus dengan suara yang pelan, tidak boleh teriak-teriak, karena hal itu akan menghapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3). &lt;br /&gt;Kedua belas, Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi saw. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah wewenang memberi syafaat kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pengabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umatnya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya. &lt;br /&gt;Ketiga belas, Nabi saw ditetapkan sebagai perantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bahkan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa. &lt;br /&gt;Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih (QS. 4:64). &lt;br /&gt;Bahkan tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya. Kita dapat membaca riwayat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Dikisahkan bahwa tatkala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permohonannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebesaran Muhammad, aku mohon ampun pada-Mu kiranya Engkau ampuni dosaku.” &lt;br /&gt;Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?” &lt;br /&gt;Adam berkata, “Tuhanku, ketika Engkau ciptakan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Engkau cintai.” &lt;br /&gt;Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.” &lt;br /&gt;Nabi Sebagai Manusia Biasa &lt;br /&gt;Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah dipersiapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperintahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as. &lt;br /&gt;Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Muhammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia. Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum musyrikin terhadap Nabi saw bahwa ia bukan dari golongan malaikat atau paling tidak bekerjasama dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa yang menganggapnya sebagai Tuhan. &lt;br /&gt;Akan tetapi ketika kita mengatakan bahwa Nabi adalah manusia biasa seperti manusia lainnya tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau berakhirlah segalanya sesudah ia wafat. Sama sekali tidak demikian. Kesucian, keterpeliharaan dari dosa, maksum, hidup abadi bersama Allah sesudah kematian atau kemampuan berhubungan dengan-Nya sesudah kematian adalah perkara ruhani yang dapat saja dicapai oleh manusia manapun jika ia telah mencapai kedudukan ruhani yang tinggi atau katakanlah maqam Insan Kamil. Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah ciptakan juga unsur lainnya, yakni ruh Allah, yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk manapun, termasuk malaikat. Yaitu jika melalui ruh itu ia mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muhammad SAW telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani. &lt;br /&gt;Kesalahan terbesar pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu hanya manusia seperti mereka, orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai nabi atau rasul. &lt;br /&gt;Dan tidaklah menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka mengalaskan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94). &lt;br /&gt;Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimani-nya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7). &lt;br /&gt;Sikap kepada Nabi &lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya. Coba perhatikan ayat shalawat. Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukannya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh takzim dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya. Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya telah memutus hubungan silaturrahmi dengannya. &lt;br /&gt;Pada ayat tawassul kita bahkan diperingatkan Allah jika ingin dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan permohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita, sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3). Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkannya lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah. &lt;br /&gt;Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4). &lt;br /&gt;Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran-Nya saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri? Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau. &lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57). &lt;br /&gt;Sebagai penutup renungkan peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi saw di bawah ini. ‘Abdullah bin Amr berkata: &lt;br /&gt;Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk kepada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang keluar dari sini kecuali kebenaran.” Camkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Shahab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-2871796190994431690?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/2871796190994431690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=2871796190994431690' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2871796190994431690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2871796190994431690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/08/kekasih-allah.html' title='KEKASIH ALLAH'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-6654243570960658485</id><published>2008-07-31T21:17:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T21:20:26.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NAHJUL BALAGHAH'/><title type='text'>DARI JALUR HADIS MANAKAH KEISLAMAN KITA?</title><content type='html'>Khotbah 209&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin tentang hadis-hadis palsu yang diada-adakan orang, yang bertentangan dengan ucapan Nabi, yang terdapat di kalangan rakyat.[1]Atasnya Amirul Mukminin berkata:&lt;br /&gt;Sesungguhnya apa yang berada di kalangan rakyat itu adalah benar (haqq) dan batil (bâthil) sekaligus, benar (shidg) dan dusta (kidzb), menasakh dan dinasakhkan, yang umum dan yang khusus, yang jelas dan samar. Bahkan di zaman Nabi, ucapan-ucapan dusta telah diatributkan kepada beliau sedemikian rupa sehingga Nabi mengatakan dalam khotbah beliau, "Barangsiapa berdusta tentang saya maka sedialah tempatnya di neraka." Orang-orang yang meriwayatkan hadis terbagi dalam empat jenis, tak lebih.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kaum Munafik Pendusta&lt;br /&gt;Orang munafik adalah orang yang memamerkan keimanan dan mengambil wajah seorang Muslim; ia tak ragu-ragu berbuat dosa dan tidak menjauh dari kemungkaran; ia dengan sengaja mengatributkan hal-hal yang dusta kepada Rasulullah SAWW. Apabila orang tahu bahwa ia seorang munafik dan pembohong, mereka tidak akan menerima apa pun dari dia dan tidak akan mengukuhkan apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mereka katakan bahwa ia sahabat Nabi, ia telah bertemu dengan beliau, mendengar (kata-kata beliau) dari beliau dan mendapatkan (pengetahuan) dari beliau. Oleh karena itu mereka mendengarkan apa yang dikatakannya. Allah juga telah mempetingatkan kepada Anda tentang orang-orang munafik dan menggambarkan mereka sepenuhnya bagi Anda. Mereka telah berlanjut setelah Rasulullah. Mereka beroleh kedudukan dengan para pemimpin sesat dan pendakwah ke neraka melalui kepalsuan dan fitaah. Maka mereka menempatkan mereka (para munafik) itu pada jabatan-jabatan tinggi dan menjadikan mereka para pejabat di atas kepala-kepala rakyat dan menumpuk harta melalui mereka. Orang-orang selalu bersama para penguasa dan mengejar dunia ini, kecuali orang-orang kepada siapa Allah memberikan perlindungan. Ini yang pertama dari keempat golongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Orang yang Keliru&lt;br /&gt;Kemudian ada orang yang mendengar (suatu ucapan) dari Rasulullah tetapi tidak menghafalnya sebagaimana adanya, melainkan menyimpulkannya. la tidak berdusta dengan sengaja. Lalu ia membawa ucapan itu dan meriwayatkannya, mengamalkannya dan mengaku bahwa, "Saya mendengarnya dari Rasulullah." Apabila kaum Muslim itu mengetahui bahwa ia telah melakukan suatu kekeliruan dalam hal itu, mereka tidak akan menerimanya dari dia, dan apabila ia sendiri mengetahui bahwa ia keliru maka ia akan melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Orang yang Tak Tahu&lt;br /&gt;Orang yang ketiga adalah orang yang mendengar Rasulullah SAWW memerintahkan untuk melakukan sesuatu, dan kemudian Nabi melarang orang melakukannya, tetapi orang itu tidak mengetahuinya. Atau ia mendengar Nabi melarang orang terhadap sesuatu dan kemudian beliau mengizinkannya, tetapi orang itu tidak mengetahuinya. Dengan demikian ia memelihara dalam pikirannya apa yang telah dihapuskan dan tidak menahan hadis yang menggantikannya. Apabila ia tahu bahwa hal itu telah dihapus maka ia akan menolaknya, atau apabila kaum Muslim tahu, ketika mereka mendengarnya dari dia, bahwa hal itu telah dihapus, maka mereka akan menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Orang yang Menghafal dengan Benar&lt;br /&gt;Yang terakhir, yakni orang yang keempat, adalah orang yang tidak berbicara dusta terhadap Allah maupun terhadap Rasul-Nya. la benci akan, kepalsuan karena takut kepada Allah dan menghormati Rasulullah, dan tidak membuat kekeliruan, tetapi menahan (di pikirannya) tepat apa yang didengaraya, dan ia meriwayatkannya sebagaimana ia mendengarnya, tanpa menambah sesuatu atau meninggalkan sesuatu. la mendengar hadis yang menasakh, ia menahannya dan beramal menurutnya, dan ia mendengar tentang hadis yang sudah dinasakh dan menolaknya. la juga mengerti (tentang hal-hal) yang khusus dan yang umum, dan ia tahu yang umum dan yang khusus, dan menempatkan segala sesuatu pada kedudukannya yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan-ucapan Rasulullah biasanya terdiri dari dua jenis. yang satu khusus dan yang lainnya umum. Kadang-kadang seorang lelaki mendengar beliau tetapi ia tak tahu apa yang dimaksud Allah Yang Mahasuci dengannya atau apa yang dimaksud Nabi dengan itu. Secara ini si pendengar membawanya dan menghafalnya tanpa mengetahui maknanya dan maksudnya yang sesungguhnya, atau apa sebabnya. Kalangan sahabat Rasulullah semua tidak biasa mengajukan pertanyaan dan menanyakan maknanya kepada beliau; sebenarnya mereka selalu menginginkan seorang Badui atau orang asing datang dan menanyakan kepada beliau SAWW supaya mereka pun dapat mendengarkan. Bilamana suatu hal semacam itu terjadi pada saya, saya bertanya kepada beliau tentang artinya dan memeliharanya. Itulah sebab dan dasar perbedaan di kalangan orang tentang hadis-hadis mereka. •&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Orang itu ialah Sulaim ibn Qais al-Hilali yang merupakan salah seorang periwayat hadis melalui Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Dalam Khotbah ini Amirul Mukminin membagi-bagi para periwayat hadis dalam empat kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori pertama, seseorang mengada-adakan sebuah hadis lalu mengatributkannya kepada Nabi. Hadis-hadis palsu ini dan diatributkan kepada beliau, dan proses ini berlanjut, dengan hasil munculnya banyak hadis baru. Ini suatu kenyataan yang tak tersangkal. Tetapi, bilamana seseorang menyangkalnya, basisnya bukan pengetahuan atau kearifan melainkan kebutuhan oratoris atau argumentatif. Maka, pada suatu ketika 'Allamul Huda Sayid al-Murtadha berkesempatan bertemu dengan seorang ulama Sunni dalam konfrontasi dan pada kesempatan itu Sayid al-Murtadha membuktikan dengan fakta-fakta sejarah bahwa hasis-hadis tentang keutamaan para sahabat besar telah diada-adakan dan palsu. Atasnya, ulama Sunni itu membantah bahwa mustahil bahwa ada seorang berani mengucapkan suatu dusta terhadap Nabi dan mengada-adakan hadis sendiri lalu mengatributkannya kepada beliau. Sayid Murtadha mengatakan bahwa ada hadis Nabi menyebutkan, "Banyak hal-hal batil akan diatributkan kepada saya setelah saya mati, dan barangsiapa berkata dusta tentang saya sedialah kediamannya di neraka. (al-Bukhârî, I, h. 38, II, h. 102, IV, h. 207, VIII, h. 54; Muslim, VIII, h. 229; Abû Dawûd, III, h. 319-320; Tirmidzî, IV, h. 524, V, h. 35-36, 40, 199, 634; Ibn Mâjah, I, h. 13-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda memandang hadis ini benar, maka Anda harus menyetujui bahwa hal-hal batil telah diatributkan kepada Nabi; tetapi bila Anda memandangnya batil (palsu) maka ini akan membenarkan pendapat kami." Namun, orang-orang itu berhati munafik dan yang biasa mengada-adakan "hadis" mereka sendiri untuk menciptakan bencana dan perpecahan dalam agama dan menyesatkan kaum Muslim yang berkeyakinan lemah. Mereka tetap bercampur dengan kaum Muslim sebagaimana mereka lakukan di masa hidup Nabi; dan sebagaimana mereka tetap sibuk dalam kegiatan-kegiatan membawa bencana dan kehancuran di hari-hari itu, demikian pula setelah Nabi pun mereka tak ragu-ragu untuk mengubah ajaran Islam dan mengubah wajahnya. Malah, di masa Nabi mereka selalu takut kalau-kalau beliau mengungkapkan tabir dan mempermalukan mereka, tetapi setelah wafatnya Nabi kegiatan munafik mereka meningkat dan mereka mengatributkan hal-hal batil kepada Nabi tanpa merisaukan akhir nasib mereka sendiri. Dan orang-orang yang mendengarkan mereka mempercayai mereka karena status mereka sebagai sahabat Nabi, dengan berpikir bahwa apa saja yang mereka katakan adalah tepat dan apa saja yang mereka berikan adalah benar. Kemudian, kepercayaan bahwa semua sahabat itu benar menjadi pembungkam lidah, yang menyebabkan mereka dianggap di luar kritik, pertanyaan, pembahasan dan sensor. Di samping itu, kineija mereka yang mencolok membuat meieka menonjol di mata pemerintah dan karena itu pula diperlukan keberanian untuk berbicara melawan mereka. Ini dibuktikan oleh kata-kata Amirul Mukminin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang ini beroleh kedudukan pada para pemimpin kesesatan dan penyeru ke neraka, melalui kebatilan dan fitnah. Maka, mereka (penguasa) menempatkannya pada kedudukan tinggi dan menjadikannya pejabat di atas kepala rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan penghancuran Islam, kaum munafik juga bertujuan menumpuk harta. Mereka berbuat demikian secara bebas sambil mengaku Muslim, yang karenanya mereka tidak hendak melepaskan kedok Islam dan keluar secara terbuka, melainkan meneruskan kegiatan setani mereka dalam jubah Islam dan menyibukkan diri dalam penghancurannya secara mendasar dan menyebarkan perpecahan dengan mengada-adakan hadis palsu. Sehubungan dengan ini Ibn Abil Hadîd menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilamana mereka dibiarkan bebas, mereka pun meninggalkan banyak hal. Bilamana rakyat berlaku diam tentang mereka, mereka pun berlaku diam tentang Islam, tetapi mereka terus melanjutkan kegiatan gelap mereka seperti pemalsuan hadis yang disinggung Amirul Mukminin, karena banyak hal yang tak benar telah dicampuradukkan dengan hadis oleh sekelompok orang yang berkepercayaan batil yang bertujuan sesat dan memutarbalikkan pandangan dan kepercayaan, sementara sebagian dari mereka juga bertujuan menonjol- nonjolkan suatu pihak tertentu dengan siapa mereka mempunyai tujuan-tujuan duniawi lain pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lewatnya masa itu, ketika Mu'awiyah mengambil alih kepemimpinan agama dan menduduki tahta kekuasaan duniawi, ia membuka suatu bagian resmi untuk memproduksi hadis palsu, dan memerintahkan para pejabatnya untuk mengada-adakan hadis dan mempopulerkannya dalam menistakan Ahlulbait Nabi, dan dalam menonjol-nonjolkan 'Utsman dan Bani Umayyah, dan menjanjikan hadiah dan pemberian tanah untuk perbuatan itu. Akibatnya, banyak hadis tentang keutamaan yang dibuat-buat beroleh jalan masuk ke dalam kitab-kitab hadis. Maka, Abul Hasan al-Madâ'inî menulis dalam kitabnya Kitab al-Ahdats dan dikutip oleh Ibn Abil Hadîd, yakni,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mu'awiah menulis kepada para pejabatnya bahwa mereka harus memperhatikan secara khusus orang-orang yang terpaut kepada 'Utsman, para pembela dan pencintanya, untuk menghadiahkan kedudukan tinggi, keutamaan dan kehormatan kepada orang-orang yang mriwayatkan hadis-hadis tentang keutamaannya dan keislimeaannya, dan menyampaikan kepadanya apa saja yang diriwayatkan tentang seseorang, bersama namanya, nama ayahnya dan nama sukunya. Para pejabatnya berbuat sesuai dengan itu dan mengumpulkan hadis-hadis tentang keutamaan dan keistimewaan 'Utsman, karena Mu'awiah biasa memberi hadiah, pakaian dan tanah kepada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana hadis-hadis palsu tentang keutamaan 'Utsman itu telah tersiar di seluruh kerajaan, maka dengan gagasan bahwa kedudukan para khalifah yang sebelumnya tak boleh tetap rendah, Mu'awiyah menulis kepada para pejabatnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segera setelah Anda menerima perintah saya ini, Anda harus memanggil rakyat untuk mempersiapkan hadis-hadis tentang keutamaan para sahabat dan para khalifah lain pula, dan perhatikanlah bahwa apabila seorang Muslim meriwayatkan suatu hadis tentang 'Abfl Turab ('Ali), Anda harus menyediakan suatu hadis yang sama tentang para sahabat untuk melawannya, karena hal ini memberikan kepada saya kegembiraan besar dan kesejukan di mata saya, dan hal itu melemahkan kedudukan Abu Turab dan orang-orang yang beipihak kepadanya, dan lebih keras terhadap mereka daripada keutamaan dan keistimewaan 'Utsman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika surat-suratnya dibacakan kepada rakyat, sejumlah besar hadis semacam itu diiiwayatkan, yang memuji-muji para sahabat, yang dibuat-buat tanpa mengandung kebenaran. (Syarh Nahjul Balâghah, XI, h. 43-47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini Abu 'Abdullah Ibrahim ibn 'Arafah yang dikenal sebagai Nifthawaih (244-323 H./856-935 M.), ulama dan pakar hadis terkemuka, menulis, dan Ibn Abil Hadîd mengutipnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebanyakan dari hadis palsu tentang keutamaan para sahabat dibikin di zaman Mu'awiah untuk beroleh kedudukan di hadapannya, karena menurut pandangannya dengan cara itu ia dapat menghina dan merendahkan Bani Hâsyim." (ibid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu pemalsuan hadis menjadi suatu kebiasaan; para pencari dunia menjadikannya sarana untuk mendapatkan kedudukan di sisi para raja dan bangsawan, dan untuk mengumpul kekayaan. Misalnya, Ghiyât ibn Ibrahim an-Nakha'î (abad kedua Hijrah) membuat suatu hadis tentang terbangnya merpati untuk menghibur Khalifah 'Abbasiah al-Mahdi ibn Manshflr dan beroleh kedudukan di sisinya. (Tarikh al-Baghdâdî, XH, h. 323-327; Mîzânu I'tidâl, m, h. 337-338; Lisân al-Mîzân, IV, h. 422). Abu Sa'id al-Madâ'inî dan lain-lain menjadikannya sarana untuk mencari rezeki. Puncaknya ercapai ketika al-Karramiyyah dan sebagian al-Mutashawwifah memberikan penetapan bahwa mengada-adakan hadis untuk mencegah dosa atau untuk meyakinkan ke arah ketaatan adalah halal. Akibatnya, sehubungan dengan amar makruf nahi mungkar, hadis-hadis diada-adakan dengan bebas, dan ini tidak dipandang bertentangan dengan hukum agama atau moral. Malah pekerjaan ini pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang berpenampilan pertapa atau takwa, yang melewati malamnya dalam salat dan doa dan mengisi siang harinya dengan daftar pembuatan hadis palsunya. Suatu gagasan tentang jumlah hadis palsu ini dapat diperoleh pada kenyataan bahwa dari 600.000 hadis, al-Bukhari memilih 2.761 hadis (Târîkh al-Baghdâdî, II, h. 8; Shifatush-Shafwah, IV, h. 143), Muslim merasa pantas memilih 4.000 dari 300.000 (Târîkh Al-Baghâdî, XIII, h. 101; al-Muntazham, V, h. 32; Thabaqât al-Huffâzh, II, h. 151, 157; Wafayât al-A'yân, V, h. 194). Abu Dawud mengambil 4.800 dari 500.000 (Târîkh al-Baghdâdî, IX, h. 57; Thabaqât al-Huffâzh, II, h. 154; al-Muntazham, V, h. 97; Wafayât al-A 'yân, II, h. 404; dan Ahmad ibn Hanbal mengambil 30.000 dari hampir 1.000.000 hadis (Târîkh al-Baghdâdî, IV, h. 419-420; Thabaqât al-Huffâzh, II, h. 17; Wafayât al-A'yân, I, h. 64; Tahdzîb at-Tahdzîb, I, h. 74). Akan tetapi, bila pilihan ini dikaji, beberapa hadis darinya sama sekali mustahil diatributkan kepada Nabi. Hasilnya ialah bahwa sekelompok besar telah muncul di kalangan kaum Muslim yang, mengingat kitab-kitab yang disebut koleksi hadis yang otoritatif dan benar ini, sepenuhnya menolak nilai pembuktian hadis. (Untuk rujukan selanjutnya, lihatlah al-Ghadîr, V, h. 208-378)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori kedua, para perawi hadis adalah orang-orang yang, tanpa menilai waktu atau konteksnya, meriwayatkan apa saja yang mereka ingat, benar atau salah. Maka, dalam al-Bukhari (jilid II, h. 100-102; jilid V, h. 98), Muslim (jilid III, h. 41-45); Tirmidzi (jilid III, h. 327-329); an-Nasa'i (jilid IV, h. 18); Ibn Majah (jilid I, h. 508-509); Malik ibn Anas (al-Muwaththa', jilid I, h. 234; Syafi'i (Ikhtilâful Hadîs, pada garis pinggir tentang "al-Umm", jilid VII, h. 41, 42) dan al-Baihaqi (jilid IV, h. 72-74) dalam bab berjudul "Menangisi Orang Mati" dinyatakan bahwa ketika Khalifah 'Umar terluka, Shuhaib datang kepadanya sambil menangis, lalu 'Umar berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Shuhaib, janganlah menangisi saya, sedang Nabi telah mengatakan bahwa orang mati dihukum apabila kaumnya menangisinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalnya Khalifah 'Umar, ketika hal ini disebutkan kepada 'A'isyah, ia berkata, "Semoga Allah menaruh kasihan kepada 'Umar. Rasulullah tidak mengatakan bahwa menangisi kerabat menyebabkan hukuman kepada si mati; beliau mengatakan bahwa hukuman bagi seorang kafir bertambah apabila kaumnya menangisinya." Setelah itu 'A'isyah mengatakan bahwa menurut Al-Qur'an tak seorang pun akan memikul beban (dosa) orang lain, maka mengapa beban (dosa) orang yang menangisi akan ditimpakan kepada si mati. Setelah itu 'A'isyah mengutip ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri...." (QS. 6:164; 17:15; 35:18; 39:7; 53:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Nabi, 'A'isyah, meriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi melewati seorang wanita Yahudi yang sedang ditangisi kaumnya. Nabi lalu berkata, "Kaumnya sedang menangisinya tetapi ia sedang mengalami hukuman di kubur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori ketiga, periwayat hadis adalah orang-orang yang mendengar hadis yang telah dinasakh dari Nabi tetapi tidak mendapat kesempatan untuk mendengarkan hadis yang menasakhnya yang dapat dihubungkannya kepada hadis yang dinasakh. Suatu contoh hadis yang menasakh ialah ucapan Nabi yang mengandung rujukan kepada hadis yang telah dinasakh, yakni, "Saya (dahulunya) telah melarang Anda menziarahi kubur, tetapi sekarang Anda boleh menziarahinya." (Muslim, III, h. 65; Tirmidzî, II, h. 370; Abu Dawud, III, h, 218, 332; an-Nasa'i, IV, h. 89; Ibn Majah, I, h. 500-501; Mâlik ibn Anas, II, h. 485; Ahmad ibn Hanbal, I, h. 145, 452; II, h. 38, 63, 66, 237, 350; V, h. 350, 355, 356, 357, 359, 361; al-Hakim, al-Mustadrak, I, h. 374-376; dan al-Baihaqi, IV, h. 76-77). Di sini izin ziarah kubur telah menasakh larangan sebelumnya. Sekarang, orang yang hanya mendengarkan hadis yang telah dinasakh itu terus bertindak sesuai dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori keempat, periwayat hadis ialah orang-orang yang sepenuhnya mengetahui prinsip-prinsip keadilan, memiliki kecerdasan dan kearifan, mengetahui saat ketika suatu hadis mula-mula diucapkan Nabi, dan juga mengenali hadis-hadis yang menasakh dan yang dinasakh, yang khusus dan yang umum, dan yang bersifat sementara dan yang mutlak. Mereka menjauhi kebatilan dan pemalsuan. Segala yang mereka dengar tetap terpelihara dalam ingatan mereka, dan mereka menyampaikannya dengan tepat kepada orang lain. Hadis-hadis dari merekalah yang merupakan milik Islam yang amat berharga, bebas dari penipuan dan pemalsuan, dan patut diandalkan dan diamalkan. Koleksi hadis-hadis yang telah disampaikan melalui pribadi seperti Amirul Mukminin dalam pengetahuan Islam tetap terbebas dari pemotongan, pemangkasan, atau perubahan, secara tegas menyuguhkan Islam dalam bentuknya yang sebenarnya. Kedudukan Amirul Mukminin telah terbukti dengan amat pasti melalui hadis-hadis berikut dari Nabi, seperti: Amirul Mukminin, Jabir ibn 'Abdullah, Ibn 'Abbas dan 'Abdullah ibn 'Umar telah meriwayatkan dari Nabi bahwa beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya adalah kota ilmu dan 'Ali adalah pintunya. Orang yang hendak mendapatkan ilmu (saya) harus datang melalui pintunya." (al-Mustadrak, III, h. 126-127; al-Istî'âb, III, h. 1102; Usd al-Ghâbah, IV, h. 22; Tarikh al-Baghdâdî, II, h. 377; Vn, h. 172; XI, h. 48-50; Tadzkirah al-HuffâTh, Majma' az-Zawâ'id, X, h. 114; Tahdzîb at-Tahdzîb, VI, h. 320; VII, h. 337; Lisân al-Mîzân, II, h. 122-123; Târîkh al-Khulafâ', h. 170; Kanz al-'Ummâl, VI, h. 152, 156, 401); 'Umdah al-Qârî, VII, h. 631; Syarh al-Mawâhib al-Ladunniyyah, III, h. 143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirul Mukminin dan Ibn 'Abbas juga telah meriwayatkan dari Nabi (saw) bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya adalah gudang kearifan dan 'Ali adalah pintunya. Orang yang hendak mendapatkan kearifan harus datang melalui pintunya." (Hilyah al-Auliyâ', I, h. 64; Mashâbih as-Sunah, II, h. 275; Târîkh al-Baghdâdî, XI, h. 204; Kanz al-'Ummâl, VI, h. 401; ar-Riyâdh an-Nadhirah, II, h. 193)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya apabila manusia dapat mengambil berkah Nabi melalui sumber-sumber pengetahuan ini. Tetapi adalah suatu bab tragis dalam sejarah bahwa walaupun hadis-hadis melalui kaum Khariji dan musuh-musuh keluarga Nabi diterima, namun bilamana rangkaian perawi meliputi nama seseorang dari kalangan keluarga Nabi, terdapat suatu keraguan untuk menerima hadis itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-6654243570960658485?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/6654243570960658485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=6654243570960658485' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/6654243570960658485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/6654243570960658485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/dari-jalur-hadis-manakah-keislaman-kita.html' title='DARI JALUR HADIS MANAKAH KEISLAMAN KITA?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-6480764722464505016</id><published>2008-07-26T08:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T08:07:48.366-07:00</updated><title type='text'>ULAMAK PEWARIS NABI?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIs9mpunq2I/AAAAAAAAAI8/lyNi5RBt9SU/s1600-h/15525953017918l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227339526739307362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIs9mpunq2I/AAAAAAAAAI8/lyNi5RBt9SU/s320/15525953017918l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#cc9933;"&gt;Imam Ma'shum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mengapa saudara-saudara keberatan bila seorang muslim yang salih, yang tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disebut terjaga dari dosa? Apakah saudara-saudara menganut paham dosa warisan atau 'original sin'?&lt;br /&gt;Apalagi Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan (segala) kenistaan dari padamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33).&lt;br /&gt;Yang dimaksud Al-Qur'an adalah 'Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.&lt;br /&gt;Ahlussunah pun percaya bahwa semua sahabat adil, dan semua tindakan mereka adalah ijtihad. Dan tindakan mereka mendapat pahala termasuk diantaranya sahabat yang melaksanakan pembunuhan berdarah dingin, pezinah, pemabuk, pembohong, pembakar orang hidup-hidup atau memerangi Imam zamannya dan perbuatan-perbuatan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;Ada juga kisah Khalid bin walid yang memenggal kepala Malik bin Nuwairah 1&lt;/a&gt; dan memperkosa istri Malik yang cantik malam itu juga. Ia menggunakan kepala Malik sebagai tungku.&lt;br /&gt;Ini bukan tuduhan kaum Syi'ah, tetapi catatan sejarawan Sunni! Umar bin Khattab menyebut Khalid bin Walid sebagai pembunuh dan pezinah yang harus dirajam. Abu Bakar menyatakan bahwa Khalid hanya sekedar salah ijtihad, dan menamakannya 'saifullah' atau pedang Allah. "Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya.", kata Abu Bakar.&lt;br /&gt;Khalid pula yang membakar Bani Salim hidup-hidup di zaman Abu Bakar. Umar mengingatkan Abu Bakar, dengan membawa hadits Rasulullah SAWW bahwa tidak boleh menghukum dengan hukuman yang hanya Allah boleh melakukannya. Dan Abu Bakar mengatakan, seperti diatas "Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk memerangi musuh-musuhNya." Banyak pula ulah Khalid yang lain, yang oleh 'Abdurrahman bin 'Auf dikatakan sebagai perbuatan jahiliyah, yaitu tatkala ia membunuh Bani Jazimah secara berdarah dingin.&lt;br /&gt;Baca buku-buku yang berada dalam lemari saudara-saudara. Sekali lagi, tuduhan ini disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ibnu Umar dan Abu Darda'. Kedua sahabat terakhir ini, ikut dalam pasukan Khalid dan membuat penyaksian.&lt;br /&gt;Peristiwa inilah yang melahirkan adagium di kemudian hari bawah semua sahabat itu adil dan tiap tindakan mereka merupakan ijtihad dan kalau benar mereka dapat dua pahala, kalau salah satu pahala.&lt;br /&gt;Pantaslah kalau Mu'awiyah yang meracuni Hasan, cucu Rasulullah, atau 'Abdullah bin Zubair yang hendak membakar Ahlul Bait di gua 'Arim atau Yazid yang membantai cucu Rasulullah, Husain dan keluarganya di Karbala, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan 'sunah' atau contoh para sahabat sebelumnya.&lt;br /&gt;Umar memecat Khalid bin Walid --yang oleh sejarawan disebut sebagai shahibul khumur, pemabuk-- tatkala Umar menggantikan Abu Bakar dikemudian hari.&lt;br /&gt;Apakah orang Syi'ah harus mengangkat mereka sebagai Imam? Sebab memiliki Imam, wajib hukumnya? Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa tidak mengenal Imam zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah."? Dan hadits yang mengatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAWW ada 12 Imam, yang semuanya dari keturunan Quraisy. Bacalah hadits-hadits shahih enam seperti Bukhari dan Muslim!&lt;br /&gt;Mengkritik akidah mazhab lain tidak boleh berdasarkan prasangka dan sinisme. Hormatilah akidah mereka. Benarlah kata orang, "Jangan melempar rumah orang lain bila rumah Anda terbuat dari kaca."&lt;br /&gt;Bacalah buku sejarah. Bukan 'asal ngomonng'. Bukan zamannya lagi berbohong dengan ayat-ayat dan hadits, sebab umat sekarang sudah banyak yang pandai.&lt;br /&gt;1 Malik bin Nuwairah adalah sahabat pengumpul zakat yang ditunjuk Rasulullah SAWW, dan oleh Rasulullah SAWW dikatakan sebagai ahli surga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-6480764722464505016?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/6480764722464505016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=6480764722464505016' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/6480764722464505016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/6480764722464505016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/ulamak-pewaris-nabi.html' title='ULAMAK PEWARIS NABI?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIs9mpunq2I/AAAAAAAAAI8/lyNi5RBt9SU/s72-c/15525953017918l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-373975059031879605</id><published>2008-07-26T07:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T07:57:46.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Abal hasaan'/><title type='text'>TAMBAHAN PADA KALIMAH SYAHADAH?</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Adzan Syi'ah Berbeda dengan Adzan Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#333333;"&gt;Saudara-saudara tidak lengkap membicarakan lafal adzan dan iqamah. Saudara-saudara 'lupa' menyampaikan lafal adzan dan iqamah sesungguhnya. Yang pasti di zaman Rasulullah SAWW berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;Lafal Adzan&lt;br /&gt;Allaahu akbar(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 4x)&lt;br /&gt;Asyhadu an-laa ilaaha illa'llaahAsyhadu anna Muhammadar' RasuulullaahHayya 'ala ShalaahHayya ala'l falaah(Semua kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan 2x)&lt;br /&gt;Hayya 'ala khairi'l amaal(Kalimat diatas hanya dalam mazhab Syi'ah, diucapkan 2x)&lt;br /&gt;Allaahu akbar,Allaahu akbarLaa ilaaha illa'llaah(Kalimat diatas, sama dalam kedua mazhab, diucapkan masing-masing 2x)&lt;br /&gt;Ash-shalaatu khairun min an-naum(Kalimat yang diucapkan dalam shalat shubuh diatas hanya dalam mazhab Sunnah, diucapkan 2x)&lt;br /&gt;Dalam al-iqamah, semua kalimat diatas diucapkan sekali kecuali Allaahu akbar diucapkan dua kali.&lt;br /&gt;Apakah saudara-saudara sudah mempelajari hadits-hadits dan sejarah adzan ini?&lt;br /&gt;Memang Syi'ah, sesudah membaca "Hayya 'alaa'l falaah" (Marilah kita mencapai kemenangan) membaca "Hayya 'alaa khairil 'amaal" (Marilah membuat amal shalih).&lt;br /&gt;Apakah kalimat Hayya 'alaa khairil 'amaal itu buatan Syi'ah?&lt;br /&gt;Kalimat ini dilafalkan dimasa Rasulullah SAWW. Bacalah tulisan ulama Sunni seperti Baihaqi dalam Sunan jilid I, hal, 524, 525; Sirah Halabiyah jilid II, hal. 105; Maqaati'l Ath-Thalibin, hal 297; Adz-Dzahabi dalam Mizaan al-I'tidaal jilid I, hal. 139; Lisaan'l-Mizaan jilid I, hal. 268 dan banyak lagi yang lainnya. Juga terdapat dalam hadits-hadits orang Syi'ah.&lt;br /&gt;Umar bin Khattab tuk lebih 'memacu semangat' jihad karena kalimat ini dianggap akan melemahkan semangat jihad tersebut. Umar berkata, "Ada tiga hal yang dijalankan di zaman Rasulullah SAWW dan aku melarangnya dan aku akan menghukum mereka yang melaksanakannya; kawin mut'ah, haji mut'ah, dan Hayya 'ala khairi'l amaal."&lt;br /&gt;Kaum Syi'ah tatkala mengucapkan kalimat syahadat sering menambahkan "Asyhadu anna 'Aliyyan waliiyullaah" Hal ini disebabkan pidato Rasulullah SAWW di Ghadir Khum, sesudah Haji Perpisahan, sekitar 80 hari sebelum beliau wafat. Bukan hadits lemah dikalangan Sunni, yaitu tatkala Rasulullah SAWW bersabda:&lt;br /&gt;"Man kuntu maulaahu fa 'Aliyyun maulaahu. Allaahumma waali man walaahu wa 'aadi man 'aadaahu"(Barang siapa menganggap aku sebagai walinya, maka 'Ali juga adalah walinya. Allaahumma, ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya).&lt;br /&gt;Dan semua sahabat memberi selamat, termasuk Umar bin Khattab. Para sejarawan mencatat kata-kata yang diucapkan Umar:&lt;br /&gt;"Bakhin, bakhin, laka, ya aba'l hasan, anta maulaaya, wa maulaa kullu mu'minin wa mu'minatin."(Selamat ayah Hasan, engkau adalah waliku dan wali kaum mu'minin dan mu'minat).&lt;br /&gt;Dan ada pula dengan lafal "Thuuba laka" atau "hanii'an laka" yang punya arti serupa dan diriwayatkan oleh sekitar 110 sahabat.&lt;br /&gt;Dan tatkala turun ayat:&lt;br /&gt;"Innallaaha wa malaa'ikatahu yushalluuna 'ala'n-Nabii, yaa ayyuha'l ladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimu tasliiman", yang artinya "Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi, Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah atasnya, dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormat salam!" (QS. Al-Ahzab: 56).&lt;br /&gt;Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAWW tentang cara bershalawat kepada Nabi, Rasulullah SAWW menjawab "Ucapkanlah 'Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'aali Muhammad', (Ya Allah, shalawatilah Muhammad dan keluarga Muhammad)"&lt;br /&gt;Karena itulah maka para ulama seperti Imam Syafi'i mengatakan tatkala dituduh rafidhah (yang berarti melakukan desersi dari kedua syaikh, Abu Bakar dan Umar atau yang lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua syaikh tersebut), menjawab, "Bila mencintai Ahlu'l Bait aku dituduh rafidhah, orang dulu punya peribahasa, tunjukkan kepadaku seorang rafidhah yang kecil, akan aku tunjuk kepadamu seorang Syi'ah yang besar!. Kalau aku dituduh demikian maka saksikanlah oleh seluruh jin dan manusia bahwa aku memang seorang rafidhi! Sebab shalatku tidak sah bila aku tidak bershalawat kepada Ahlul'l Bait!"&lt;br /&gt;Tapi orang Syi'ah mengetahui betul bahwa kalimat Asyhadu anna 'Aliyyan waliiyullaah bukan merupakan bagian integral dari adzan dan iqamah. Kalimat ini hanya merupakan kebolehan, optional, seperti kalimat Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'aali Muhammad.&lt;br /&gt;Kalimat Ash-shalaatu khairun min an-naum (Shalat lebih baik daripada tidur) adalah tambahan dari Umar bin Khattab. Sekali lagi, baca!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-373975059031879605?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/373975059031879605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=373975059031879605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/373975059031879605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/373975059031879605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/tambahan-pada-kalimah-syahadah.html' title='TAMBAHAN PADA KALIMAH SYAHADAH?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-3092688333523556958</id><published>2008-07-24T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T21:54:34.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Shia.com'/><title type='text'>KAFIRKAH KAUM SYI`AH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#333333;"&gt;Laporan harian Republika tentang seminar itu dengan judul 'Para Ulama Sepakat, Sulit Pertemukan Faham Syi'ah dan Sunni', sangat rapi dan bagus. (Republika, 22 September 1997, hal. 2).&lt;br /&gt;Saya memang sudah menduga, seminar ini akan berlangsung dua atau tiga hari sebelum tanggal 23 September 1997, hari ulang tahun Kerajaan Saudi Arabia. Tapi saya mengira tidak akan berlangsung pada ulang tahun ke-65 ini, sebab pemerintah Saudi pada tahun ini baru saja menyatakan perlunya kerukunan beragama.&lt;br /&gt;Apakah saudara-saudara ingin mengkafirkan negara sahabat, Kerajaan Saudi, karena membolehkan sekitar 200.000 orang Syi'ah yang saudara-saudara kafirkan, memasuki Ka'bah setiap tahun untuk beribadah Haji?&lt;br /&gt;Tahukah saudara-saudara bahwa pada tahun 1994 Kerajaan Saudi telah mendirikan Dewan Syura yang terdiri dari 60 orang dan enam diantaranya pemeluk Syi'ah sesuai dengan jumlah penduduk Syi'ah di negara itu?&lt;br /&gt;Alasan lain yang mengherankan saya, seminar ini diadakan justru tatkala presiden Soeharto baru saja menganjurkan dibina kerukunan beragama, menghindari penjelekan atau penyerangan terhadap mazhab lain.&lt;br /&gt;Kita hidup di negara beradab, bukan di zaman Mu'awiyyah!&lt;br /&gt;Apalagi ini berlangsung pada saat kaum muslimin sedunia sedang menghadapi masalah-masalah pelik seperti kejadian di Bosnia, Chechnya, Azerbaijan, Libanon, Palestina, Afghanistan, Sudan, Irak, Aljazair dan Morro, yang memerlukan bantuan agar perdamaian dapat timbul disana.&lt;br /&gt;Alangkah baiknya bila biaya seminar ini dikeluarkan untuk mebantu anak-anak cacat korban perang Bosnia, Chechnya, Afghanistan, dan kelaparan di Irak. Selama ini yang memperjuangkan mereka malah bintang film Elizabeth Taylor. Kita mestinya malu.&lt;br /&gt;Kita juga sedang sedih menghadapi musibah moneter maupun bencana pengotoran udara, yang membuat kita merasa berdosa kepada negara tetangga.&lt;br /&gt;Kita membutuhkan bantuan pikiran dan tenaga semua warga untuk keprihatinan ini. Bukankah Rasulullah SAWW bersabda: "Barang siapa yang tidak merasa prihatin dan tidak memikirkan masalah-masalah kaum muslimin maka dia bukanlah dari kaum muslimin"?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-3092688333523556958?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/3092688333523556958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=3092688333523556958' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3092688333523556958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3092688333523556958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/kafirkah-kaum-syiah.html' title='KAFIRKAH KAUM SYI`AH?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-3166708912989497700</id><published>2008-07-24T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T05:32:06.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GHADIR KHAUM'/><title type='text'>AKU TINGGALKAN AL-QURAN DAN SUNNAH?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;Hadist Tsaqalain: Dua Warisan Terberat Dari Rasulullah SAWW.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hadist Tsaqalayn adalah hadits yang mempunyai arti penting dalam sejarah Islam. Karena selain karena urgensinya, hadits ini juga merupakan hadits yang paling banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan. Dimana sebagian orang menganggap hadist ini tidak tawwatur bahkan dha'if, sementara di pihak lain banyak juga yang mencari tahu dan berusaha membuktikan keshahihan bahkan ke'tawwatur'an hadits ini.&lt;br /&gt;Meluasnya perbedaan pandangan dari kedua pihak ini tidak saja disebabkan karena terjadinya 'kericuhan' poltitik pasca wafatnya rasulullah, melainkan juga karena adanya upaya-upaya dari beberapa pihak untuk menegakkan suatu ideologi yang mereka bentuk. Namun demikian terlepas dari segala kepentingan tersebut, hadits ini dapat dibuktikan keberadaannya.&lt;br /&gt;Paling tidak terdapat dua macam redaksi dari hadits Tsaqalayn :&lt;br /&gt;Hadits yang berbunyi kurang-lebih : &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Inniy taraktu fiykum tsaqalayn, maa in tamassaktum bihima lan tadlillu ba'diy: Kitaballah wa sunnatiy".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hadits yang berbunyi kurang-lebih : &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;"Inniy taraktu fiykum tsaqalayn, maa in tamassaktum bihima lan tadlillu ba'diy: Kitaballah wa 'Itraty".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dari kedua hadits tersebut yang lebih populer adalah jenis yang pertama. Karena hadits tersebut merupakan hadist yang menjadi landasan utama tegaknya mazhab Ahlussunah wal Jama'ah. Sedangkan hadist yang kedua merupakan hadist yang kurang populer, jarang disebut-sebut apalagi di depan publik.&lt;br /&gt;Kurangnya popularitas tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan:&lt;br /&gt;Bernarkah terdapat hadits tsaqalayn dengan redaksi yang seperti tersebut pada nombor 2 diatas?&lt;br /&gt;Jikalau ada, apakah hadits tersebut shahih atau bahkan mutawwatir?&lt;br /&gt;Jika memang terbukti ada atau bahkan mutawwatir, maka mengapa tidak populer, atau bahkan orang enggan mempublikasikannya?&lt;br /&gt;Penelitian Tentang Hadist Tsaqalayn&lt;br /&gt;Menurut beberapa riwayat yang berhasil dihimpun, paling tidak ada beberapa kali Rasulullah SAWW. menyebutkan hadits tersebut ditempat yang berlainan.&lt;br /&gt;1. Pada Hari Arafah&lt;br /&gt;At-Tirmidzy meriwayatkan dari Jabir Ibn Abdullah :&lt;/span&gt;&lt;a href="http://absetyawan.blogs.friendster.com/photos/uncategorized/tsaqalayntirmidzyjabir_1.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Dari Jabir Ibn Abdullah berkata: Aku melilhat Rasulullah SAWW. pada hajinya di Hari Arafah dan Beliau duduk di atas unta Al-Qaswa' maka Beliau berkhutbah kemudian bersabda: 'Wahai pada manusia, Sesunggunhnya aku tinggalkan pada kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh padanya, maka kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah dan keluargaku.'"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Imam At-Tirmidzy menyatakan bahwa hadist yang serupa juga di riwayatkan oleh Abu Dzarr, Abu Sa`id, Zayd ibn Arqam dan Hudzayfah ibn Usayd.&lt;br /&gt;Diantara imam hadits yang juga meriwayatkannya adalah :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Al&amp;shy;Hafiz Ibn Abi Syaybah, sebagaimana dalam Kanz al&amp;shy;`ummal (Edisi I), Juz I, hal. 48;&lt;br /&gt;Al&amp;shy;-`Uqayli dalam al&amp;shy;Du`afa' al-Kabir, Juz II, hal. 250;&lt;br /&gt;Al&amp;shy;-Hakim al&amp;shy;Tirmidhi, Nawadir al-'Usul, 68, 50th;&lt;br /&gt;Ath-&amp;shy;Tabarani, al&amp;shy;Mu`jam al-Kabir, Juz III, hal. 63, no. 2679;&lt;br /&gt;al&amp;shy;Khatib, al&amp;shy;Muttafiq wa al&amp;shy;-muftariq, dari  Kanz al&amp;shy;`ummal, Juz I, hal. 48 dan Majma' al&amp;shy;zawa'id, Juz V, hal. 195; Juz IX, hal. 163; Juz X, hal. 363, hal. 268;&lt;br /&gt;Al-&amp;shy;Baghawi, al-Masabih, Juz II, hal. 206;&lt;br /&gt;Ibn al&amp;shy;'Athir, Jami` al&amp;shy;'usul, Juz I, hal. 277, no. 65;     &lt;br /&gt;AR-Rafi`i, At-&amp;shy;Tadwin, Juz II, hal. 264 (dalam catatan biografi Ahmad ibn Mihran al&amp;shy;Qattan; pada cetakan versi India hadits ini dihapus, sedangkan pada manuskrip buku tersebut, hadits ini tertulis.);&lt;br /&gt;Al-&amp;shy;Mizzi, Tahzib al&amp;shy;kamal, Juz X, hal. 51, dan Tuhfat al&amp;shy;-'Asyraf, Juz II, hal. 278, no. 2615;&lt;br /&gt;Al&amp;shy;- Qadi al&amp;shy;Baydawi, Tuhfat al-&amp;shy;'Asyraf;&lt;br /&gt;Al-&amp;shy;Khawarizmi, Maqtal al&amp;shy;Husayn (A), Juz I, hal. 144;     &lt;br /&gt;Al-&amp;shy;Khatib Al-&amp;shy;Tabrizi, Mishkat al&amp;shy;-Masabih, Ju &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-3166708912989497700?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/3166708912989497700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=3166708912989497700' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3166708912989497700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3166708912989497700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/aku-tinggalkan-al-quran-dan-sunnah.html' title='AKU TINGGALKAN AL-QURAN DAN SUNNAH?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-296063179700383097</id><published>2008-07-24T03:52:00.001-07:00</published><updated>2008-07-24T04:13:05.263-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syi`a'/><title type='text'>MENANGIZLAH WAHAI SYIAH A`LI...</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhiKg2phUI/AAAAAAAAAIo/M2v0GPwmlkQ/s1600-h/1_826277410m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226535300320822594" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhiKg2phUI/AAAAAAAAAIo/M2v0GPwmlkQ/s320/1_826277410m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhiAYesM1I/AAAAAAAAAIg/wVmyarNer8M/s1600-h/28733182014306m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226535126274159442" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhiAYesM1I/AAAAAAAAAIg/wVmyarNer8M/s320/28733182014306m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh8fzXNLI/AAAAAAAAAIY/dN6UkohErA0/s1600-h/24993671719228m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226535059520435378" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh8fzXNLI/AAAAAAAAAIY/dN6UkohErA0/s320/24993671719228m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh46HNAxI/AAAAAAAAAIQ/27z7B7ITixA/s1600-h/24908465765321m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534997863498514" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh46HNAxI/AAAAAAAAAIQ/27z7B7ITixA/s320/24908465765321m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh01z7j-I/AAAAAAAAAII/jej__3XUaJM/s1600-h/24901053644815m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534927989444578" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhh01z7j-I/AAAAAAAAAII/jej__3XUaJM/s320/24901053644815m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhvvn5GkI/AAAAAAAAAIA/TqJGfdqmrjo/s1600-h/24598410536570m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534840428993090" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhvvn5GkI/AAAAAAAAAIA/TqJGfdqmrjo/s320/24598410536570m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhramIwwI/AAAAAAAAAH4/xEoPCDAXnd4/s1600-h/2724481902170m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534766065009410" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhramIwwI/AAAAAAAAAH4/xEoPCDAXnd4/s320/2724481902170m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhjcjv6sI/AAAAAAAAAHw/ebdFucnbLuU/s1600-h/2459861952588m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534629152910018" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhjcjv6sI/AAAAAAAAAHw/ebdFucnbLuU/s320/2459861952588m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhheFADgiI/AAAAAAAAAHo/JgH1bG0Mpho/s1600-h/2459836947453m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534536929837602" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhheFADgiI/AAAAAAAAAHo/JgH1bG0Mpho/s320/2459836947453m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhYJorf6I/AAAAAAAAAHg/YQQHqxPTTrQ/s1600-h/1_988370147m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534435094757282" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhYJorf6I/AAAAAAAAAHg/YQQHqxPTTrQ/s320/1_988370147m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhUEdsO8I/AAAAAAAAAHY/qRftutENgDc/s1600-h/1_974309775m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534364987014082" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhUEdsO8I/AAAAAAAAAHY/qRftutENgDc/s320/1_974309775m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhPUl_dNI/AAAAAAAAAHQ/mUGWD2QjR6M/s1600-h/1_967487109m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534283417449682" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhPUl_dNI/AAAAAAAAAHQ/mUGWD2QjR6M/s320/1_967487109m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhJnt0ldI/AAAAAAAAAHI/_VWJDJire18/s1600-h/1_921838971m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534185471350226" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhJnt0ldI/AAAAAAAAAHI/_VWJDJire18/s320/1_921838971m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhFH5zg5I/AAAAAAAAAHA/OTXK-gLWNgc/s1600-h/1_777651528m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534108212200338" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhFH5zg5I/AAAAAAAAAHA/OTXK-gLWNgc/s320/1_777651528m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhACdDzmI/AAAAAAAAAG4/FOWhlBLXge0/s1600-h/1_764057798m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226534020850110050" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhhACdDzmI/AAAAAAAAAG4/FOWhlBLXge0/s320/1_764057798m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhg71xhzWI/AAAAAAAAAGw/jhJE1a7YpOk/s1600-h/1_755257153m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533948726824290" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhg71xhzWI/AAAAAAAAAGw/jhJE1a7YpOk/s320/1_755257153m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhg4VTHFOI/AAAAAAAAAGo/_QBYAATn1G0/s1600-h/1_731042221m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533888469701858" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhg4VTHFOI/AAAAAAAAAGo/_QBYAATn1G0/s320/1_731042221m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgy_g01sI/AAAAAAAAAGg/Q9I0je7LyW4/s1600-h/1_647821267m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533796722300610" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgy_g01sI/AAAAAAAAAGg/Q9I0je7LyW4/s320/1_647821267m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhguE-3tVI/AAAAAAAAAGY/-OtbHY1H71I/s1600-h/1_644290072m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533712291149138" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhguE-3tVI/AAAAAAAAAGY/-OtbHY1H71I/s320/1_644290072m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgoeDu8cI/AAAAAAAAAGQ/Ymhg3yOabJw/s1600-h/1_604669238m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533615943217602" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgoeDu8cI/AAAAAAAAAGQ/Ymhg3yOabJw/s320/1_604669238m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgjvTJRFI/AAAAAAAAAGI/g5rynUwFw_U/s1600-h/1_595688853m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533534671914066" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgjvTJRFI/AAAAAAAAAGI/g5rynUwFw_U/s320/1_595688853m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgf-04a4I/AAAAAAAAAGA/Vyisb2RjUlI/s1600-h/1_586044105m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533470120471426" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgf-04a4I/AAAAAAAAAGA/Vyisb2RjUlI/s320/1_586044105m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhga5CLERI/AAAAAAAAAF4/XRUCLc4orko/s1600-h/1_538764622m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533382666260754" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhga5CLERI/AAAAAAAAAF4/XRUCLc4orko/s320/1_538764622m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgW6D0gBI/AAAAAAAAAFw/wvJ9xFQpLuc/s1600-h/1_528817173m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533314222129170" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgW6D0gBI/AAAAAAAAAFw/wvJ9xFQpLuc/s320/1_528817173m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgTWmnUHI/AAAAAAAAAFo/vPLT6BQocQ4/s1600-h/1_442900008m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533253164781682" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgTWmnUHI/AAAAAAAAAFo/vPLT6BQocQ4/s320/1_442900008m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgN-YW-OI/AAAAAAAAAFg/-SC1nF4Oc3A/s1600-h/1_406812335m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226533160763193570" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgN-YW-OI/AAAAAAAAAFg/-SC1nF4Oc3A/s320/1_406812335m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgEJniI4I/AAAAAAAAAFY/V70XV0q80bU/s1600-h/1_315073154m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226532991980938114" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhgEJniI4I/AAAAAAAAAFY/V70XV0q80bU/s320/1_315073154m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhf_E672YI/AAAAAAAAAFQ/DroDPA_qtSU/s1600-h/1_129378264m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226532904820791682" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhf_E672YI/AAAAAAAAAFQ/DroDPA_qtSU/s320/1_129378264m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhf6rmL4tI/AAAAAAAAAFI/LfJdrvw3vKc/s1600-h/1_123421407m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226532829303399122" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhf6rmL4tI/AAAAAAAAAFI/LfJdrvw3vKc/s320/1_123421407m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-296063179700383097?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/296063179700383097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=296063179700383097' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/296063179700383097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/296063179700383097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/pakoz-album.html' title='MENANGIZLAH WAHAI SYIAH A`LI...'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIhiKg2phUI/AAAAAAAAAIo/M2v0GPwmlkQ/s72-c/1_826277410m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-8132525807998325637</id><published>2008-07-20T11:19:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T11:23:37.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Husayn'/><title type='text'>MUSHAFF FATHEEMAH?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOCfYQCmQI/AAAAAAAAAD4/qlbV0_g7nLM/s1600-h/ASbabul+Nuzul.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225163468277192962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOCfYQCmQI/AAAAAAAAAD4/qlbV0_g7nLM/s400/ASbabul+Nuzul.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Al-Quran kaum Syi'i dan sunni sama dan itu-itu juga. Silahkan para anggota seminar memasuki masjid-masjid dan rumah-rumah kaum Syi'i di Saudi Arabia, Libanon, Iran, Irak, Bahrain atau pun Azerbaijan dan dimana saja orang Syi'ah itu berada. Saudara-saudara tidak akan menemukan Al-Quran yang lain.&lt;br /&gt;Jangan berkata sesuatu by hearsay. Alangkah mudah saudara-saudara menyurati kantor-kantor kedutaan kita di negeri-negeri tersebut dan memohon mereka untuk membelikan untuk saudara sebuah Al-Quran. Lihatlah isinya, adakah perbedaan dengan Al-Quran di rumah saudara?&lt;br /&gt;Orang-orang Syi'ah telah membantah tuduhan-tuduhan yang tidak berguna ini. Saudara Nurcholis Madjid, seingat saya, pernah membantah saudara-saudara dalam suatu seminar beberapa tahun lalu, seperti dimuat di beberapa koran ibukota. Beliau meunjukkan 'Al-Quran Syi'ah' dan mengatakan bahwa kalau pun ada perbedaan, maka perbedaan itu hanyalah karena 'Al-Quran Syi'ah' rata-rata lebih indah dari Al-Quran kita. Ini karena orang-orang Syi'ah berpendapat bahwa Kitabullah haruslah dicetak lebih indah dari semua buku lain.&lt;br /&gt;Jangan membicarakan Syi'i yang fanatik, kaum ghulat, karena pengecualian tidak dapat mewakili golongan terbanyak. Annadir la yu'tabar. Saya anjurkan saudara-saudara para ulama untuk membaca buku-buku mengenai Tahrif Al-Quran yang banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;Orang Syi'ah menganggap bahwa siapa saja yang meyakini Al-Quran kita telah berubah, maka ia telah meragukan kekuasaan Allah SWT dan tidak akan mendapat perlindungan dari-Nya karena Allah SWT telah berfirman: "Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah yang menjaganya." (QS. Al-Hijr: 9)&lt;br /&gt;Mengenai Imam Khumaini (Imam Khomeini), dikatakan bahwa mengakui adanya tahrif atau perubahan dalam Al-Quran dalam bukunya Hukumah Islamiyah, seorang teman telah menyediakan uang Rp. 100,000,000.00,- (seratus juta rupiah) bila saudara-saudara dapat menunjukkan adanya pernyataan tahrif Al-Quran dalam buku tersebut!&lt;br /&gt;Saudara Profesor KH. Irfan Zidny MA sebenarnya tidak hendak mencoba mematikan harga diri lawan berdebat anda dengan menonjolkan serba gelar yang anda miliki atau umur anda yang tua, atau mengejek lawan bicara anda karena tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris atau mengecilkan tokoh yangt dihormati lawan bicara anda.&lt;br /&gt;Saya bukan tidak percaya bahwa anda adalah 'teman kuliah' Imam Khomeini atau anda lebih pandai dari gurunya Imam Khomeini, dan mungkin anda telah bergelar Ayatullah, tetapi setahu saya Sayyid Khomeini tidak belajar di Irak, tetapi mengajar. Mungkin saja Anda lebih 'besar' dari gurunya Imam Khomeini tetapi jangan anda yang mengatakannya. Biarlah orang lain yang menilai. Karena argumentasi seperti ini disebut argumentasi negatif.&lt;br /&gt;Orang tidak perlu belajar di Irak belasan tahun untuk disebut ulama yang pandai dan mukhlis. Orang menilai mutu pembicaraan anda dan bukan riwayat hidup anda yang ingin membungkam lawan bicara anda.&lt;br /&gt;Hanya Allah SWT yang tahu iman dan akal kita selengkapnya. Anda harus ingat bahwa tidak semua teman BJ. Habibie menjadi seperti BJ. Habibie. Mungkin anda jadi murid Imam Khu'i di Irak, dan mungkin juga Imam Khomeini jadi murid Imam Khu'i bersama anda. Tapi anda harus ingat tidak semua teman BJ. Habibie menjadi seperti BJ. Habibie. Semua orang yang saya tanyai mengenai anda, tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi saya menangis, seperti anda 'menangisi' Syi'ah.&lt;br /&gt;Karena saya peminat sejarah, mohon Anda sebutkan seorang nara sumber di Irak yang dapat membenarkan pernyataan anda bahwa anda telah belasan tahun seperguruan dengan Imam Khomeini, berapa umur anda dan berapa umur Imam Khomeini pada masa itu, kapan dan dimana anda belajar bersamanya. Saya ingin menyuratinya. Dan untuk itu saya ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;Saya sebenarnya berpikir bahwa anda seharusnya jadi Mufti seluruh umat karena 'ilmu' dan 'istiqomah' anda.&lt;br /&gt;Apakah NU tidak mengenal anda?&lt;br /&gt;Tapi biarpun demikian, saya yakin dengan melihat lamanya pendidikan dan keteguhan pendirian anda, anda tentu telah menghasilkan banyak karya bermutu atau menjadi 'da'i besar'. Dan anda akan menjadi tempat rujukan tanpa harus membaca (buku-buku karya) Ali Syariati, HAMKA, Abu Bakar Aceh, Maududi, Sayyid Quttub, Sayyid Sabiq, Rasyid Ridha, Hassan Al-Banna, Muthahhari, Khomeini, Thabthaba'i atau Ali Khameini.&lt;br /&gt;Mengapa anda sudah merasa cukup berteman dengan Thohir AlKaff dari Al-Bayyinat Nyamplungan Surabaya? Saya berteman dengan banyak orang panda dan mukhlis di Nyamplungan. Mengapa harus 'diracuni' oleh orang jenis Thohir Alkaff ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-8132525807998325637?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/8132525807998325637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=8132525807998325637' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/8132525807998325637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/8132525807998325637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/mushaff-fatheemah.html' title='MUSHAFF FATHEEMAH?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOCfYQCmQI/AAAAAAAAAD4/qlbV0_g7nLM/s72-c/ASbabul+Nuzul.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-2252516444256570328</id><published>2008-07-20T11:10:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T11:14:33.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YA A`LI MADAD'/><title type='text'>SIKAP TERHADAP SAHABAT!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOAYBXGK6I/AAAAAAAAADw/0n0igWfMRJg/s1600-h/Ya+Hussin.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225161142850431906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOAYBXGK6I/AAAAAAAAADw/0n0igWfMRJg/s400/Ya+Hussin.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#333333;"&gt;Mengenai sikap terhadap sahabat, kaum Syi'ah berpegang pada Al-Quran dan Sunnah serta catatan sejarah. Bahwa diantara para sahabat ada juga yang lalim, seperti si munafik 'Abdullah bin 'Ubay dengan kelompoknya yang berjumlah 300 orang yang melakukan desersi sebelum perang Uhud. Lihat buku-buku sejarah Islam, seperti "Riwayat Hidup Rasulullah SAW" karangan Abul Hasan Ali Al-Hasany an-Nadwy, terjemahan Bey Arifin dan Yunus Ali Muhdhar, hal. 213 atau Ibnu Hisyam, "Sirah Nabawiyah" jilid II, hal. 213.&lt;br /&gt;Atau Mu'awiyah dan para jendralnya yang melakukan pembersihan etnis dengan membunuh kaum Syi'ah secara berdarah dingin, shabran, menyembelih bayi-bayi Syi'ah, memperbudak para muslimah dan membakar kebun dan membakar manusia hidup-hidup, mengarak kepala dari kota ke kota, minum arak, berzina dan sengaja merencanakan dan membuat hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan hukum syar'i. Mengapa saudara tidak membaca sejarah dan hadits-hadits kita sendiri?&lt;br /&gt;Bila saudara-saudara menganggap cerita-cerita yang membuka 'aib' para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.&lt;br /&gt;Syi'ah menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lalim. Mereka heran mengapa kaum Sunnah keberatan bila mereka meriwayatkan hadits-hadits dari keluarga Rasulullah sebab ayat-ayat Al-Qur'an turun dirumah mereka. Dan Rasulullah tinggal serumah dan mengajari mereka?&lt;br /&gt;Mengapa mereka harus mencari hadits-hadits Abu Hurairah misalnya, yang meriwayatkan bahwa Allah menciptakan Adam seperti wajah Allah dengan panjang 60 hasta (sittuna dzira), sedang Al-Qur'an mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang menyerupaiNya, laisa kamitslihi syai'un, atau Nabi Musa lari telanjang bulat karena bajunya dibawa lari oleh batu, atau sapi berbahasa Arab, atau hadits yang menyatakan kalu lalat masuk ke dalam kuah, maka seluruh lalat harus dimasukkan kedalamnya sehingga menimbulkan 'perang lalat' di koran-koran Mesir karena dokter-dokter muda menolak hadits yang 'berbahaya' tersebut? Dan Allah yang turun ke langit bumi, sepertiga malam, sehingga Allah tidak punya kesempatan untuk kembali karena kesiangan?&lt;br /&gt;Mengapa merekaharus berpegang pada Abu Hurairah yang oleh sahabat-sahabat besar seperti ummul mu'minin Aisyah dan Umar bin Khattab dan ulama-ulama besar seperti Ibnu Qutaibah menganggapnya sebagai pembohong? Bukankah Ibnu Qutaibah disebut sejarawan sebagai nashibi atau pembenci Ahlul Bait dan bukan Syi'ah? Baca sejarah dan hadits-hadits shahih Bukhari Muslim!&lt;br /&gt;Haruslah diakui bahwa pandangan Syi'ah ini berbeda dengan kaum Sunni yang menganggap semua sahabat itu adil, 'udul, dan bila mereka membunuh atau memerangi sesama muslim, mereka akan tetap mendapat pahala. Bila tindakan mereka salah, mereka akan mendapat satu pahala dan kalau benar mendapat dua pahala.&lt;br /&gt;Malah ada ulama Sunni, seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hazm dan Ibnu Taymiyyah menganggap 'Abudrrahman bin Muljam yang membacok Imam 'Ali bin Abi Thalib yang sedang shalat shubuh sebagai mujtahid. Demikian pula pembantai Husain dan keluarganya di Karbala. Pembunuh-pembunuh cucu Rasulullah ini dianggap mendapat pahala, satu bila salah dan dua bila benar!&lt;br /&gt;Suatu hari, saya kedatangan tiga orang Afghanistan. Saya tanyakan, mengapa kaum muslimin di Afghanistan saling berperang? Mereka menjawab: mereka berperang karena berijtihad seperti ummul mu'minin 'Aisyah yang memerangi 'Ali dalam perang Jamal. Kalau benar dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu. Dan saya dengar, koran-koran Jakarta pun telah memuat keyakinan mereka ini.&lt;br /&gt;Kaum Thaliban di Afghanistan, yang punya pendapat seperti ini, yang mengurung dan tidak membolehkan wanita bekerja atau sekolah bukanlah Syi'ah, tetapi kaum Wahabi!&lt;br /&gt;Sebaliknya kaum Syi'ah juga berpendapat bahwa banyak pula sahabat yang mulia, yang harus diteladani kaum muslimin.&lt;br /&gt;Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa diantara para sahabat ada yang 'kufur' dan 'munafik'. (Termasuk ayat-ayat terakhir bacalah At-Taubah ayat 48, 97).&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits-hadits seperti hadits Al-Haudh, diantaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Mereka membenarkan ayat Al-Qur'an tersebut dan menceritakan adanya sekelompok sahabat digiring ke neraka dan tatkala ditanya Rasul, ada suara yang menjawab "Engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu". Ahli-ahli sejarah kita dengan gamblang menggambarkan ulah beberapa sahabat tersebut.&lt;br /&gt;Apakah pandangan Syi;ah tersebut 'kufur' atau 'sesat'? Apakah mereka harus dikafirkan karena keyakinan mereka itu? Kita boleh menyesali perbedaan itu, tetapi perbedaan ini menyangkut masalah cabang agama bukan pokok, bukan ushuluddin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-2252516444256570328?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/2252516444256570328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=2252516444256570328' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2252516444256570328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2252516444256570328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/sikap-terhadap-sahabat.html' title='SIKAP TERHADAP SAHABAT!'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIOAYBXGK6I/AAAAAAAAADw/0n0igWfMRJg/s72-c/Ya+Hussin.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-2398834648020011118</id><published>2008-07-20T10:59:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T11:03:56.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aba Abdillah'/><title type='text'>MELAKNAT SAHABAT ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN9400e4fI/AAAAAAAAADo/BrzTEgATUcw/s1600-h/zahra.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225158407884825074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN9400e4fI/AAAAAAAAADo/BrzTEgATUcw/s400/zahra.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;Mengenai mencela dan melaknat sahabat, saya belum pernah membaca fatwa ulama yang mengkafirkan mereka. Misalnya, selama 80 tahun dinasti 'Umayyah, kecuali di zaman khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Azis yang hanya dua setengah tahun. Muawiyyah dan para pejabatnya serta para ulamanya melaknat dan mencaci Ali bin Abu Thalib dan keluarga beserta pengikutnya diatas mimbar diseluruh dunia Islam termasuk di Makkah dan Madinah, kecuali di Sijistan. Di Sijistan, sebuah kota yang sekarang terletak antara Afghanistan dan Iran, hanya sekali melakukan pelaknatan diatas mimbar.&lt;br /&gt;Ali dilaknat dan dicaci atas perintah sahabat dan ipar Rasulullah SAWW, Mu'awiyyah, serta khalifah-khalifa Bani Umayyah lainnya. Pada masa itu, misalnya, Ali tidak dianggap khalifah yang lurus. Abdullah bin Umar tidak mau membai'at Ali malahan membai'at Mu'awiyyah, Yazid bin Mu'awiyyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf yang terkenal sebagai penjahat yang mebunuh 120 ribu kaum muslimin dan muslimat secara berdarah dingin, shabran. Umar bin Abul Azis mengatakan bahwa Hajjaj pasti akan menjadi juara dunia bila para penjahat dikumpulkan dan 'diperlombakan'. Ibnu Umar juga mengeluarkan hadits-hadits yang menyingkirkan Ali sebagai salah satu khalifah yang lurus.&lt;br /&gt;Kita tahu, Mu'awiyyah membunuh para sahabat seperti, Hujur bin 'Adi, Syarik bin Syaddad, Shaifi bin Fasil, Asy-Syabani, Qabisyah bin Dhabi'ah Al-Abbasi, Mahraz bin Syahhab Al-Munqari, Kadam bin Hayyan Al-Anzi dan Abdurrahman bin Hassan Al-Anzi hanya karena tidak mau melaknat Ali. Abdurrahman Al-Anzi dikirim kepada Ziyad bin Abih dan dikuburkan hidup-hidup di Nathif dekat kuffah, ditepi sungai Efrat.&lt;br /&gt;Beranikah saudara-saudara peserta seminar menganggap Mu'awiyyah dan seluruh pejabat, sahabat Rasulullah SAWW yang mendukungnya, serta para ulama telah kafir karena bukan saja memerintahkan kaum muslimin, termasuk para sahabat agar melaknat Ali, tetapi juga membunuh mereka yang menolak untuk melaknat?&lt;br /&gt;Pada masa itu tidak ada yang berani menamakan anaknya Ali. Sampai-sampai pernah seorang ayah melaporkan kepada penguasa karena merasa terhina oleh istrinya karena memanggilnya Ali!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-2398834648020011118?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/2398834648020011118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=2398834648020011118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2398834648020011118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2398834648020011118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/melaknat-sahabat.html' title='MELAKNAT SAHABAT ?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN9400e4fI/AAAAAAAAADo/BrzTEgATUcw/s72-c/zahra.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-3538756683810888017</id><published>2008-07-20T10:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T10:50:04.641-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Mahdi'/><title type='text'>IMAM SYAFIE ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN6VjnFYKI/AAAAAAAAADg/J2va3me0wHQ/s1600-h/sunni.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225154503434920098" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN6VjnFYKI/AAAAAAAAADg/J2va3me0wHQ/s400/sunni.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Keterangan Para Imam Ahlul-Bayt tentang Sahnya Keislaman Ahlussunnah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;Dalam bab ini, akan dinukilkan sekelumit nash-nash Imam kami (kaum Syi'ah) tentang sahnya keislaman Ahlus-Sunnah, dan bahwa kedudukan mereka sama seperti kaum Syi'ah, dalam segala konsekuensi yang timbul akibat keislamannya itu.&lt;br /&gt;Memang, pandangan mazhab kami mengenai hal ini sungguh amat jelas. Tak seorang pun dari kami yang berpandangan adil dan moderat, meragukannya. Karena itu, kami tak merasa perlu menukilkan nash-nash itu semuanya dalam bab ini. Menurut hemat kami, tidaklah bijaksana menjelaskan sesuatu yang sudah amat jelas. Kami cukupkan sekadarnya saja, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh judul di atas.&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Abdillah, Ja'far Ash-Shadiq a.s., berkata, sebagaimana dirawikan oleh Sufyan bin As-Samath: "Agama Islam itu ialah seperti yang tampak pada diri manusia (yakni kaum Muslim secara umum), yaitu mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, melaksanakan ibadah haji dan berpuasa di bulan Ramadhan."&lt;br /&gt;Berkata pula beliau sebagaimana dirawikan oleh Sama'ah: "Agama Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah SAWW. Atas dasar itulah nyawa manusia dijamin keselamatannya. Dan atas dasar itulah berlangsung pernikahan dan pewarisan dan atas dasar itu pula terbina kesatuan jamaah (kaum Muslim)."&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Ja'far, Muhammad Al-Baqir a.s., berkata, seperti tercantum dalam Shahih Hamran bin A'yan: "Agama Islam dinilai dari segala yang tampak dari perbuatan dan ucapan. Yakni yang dianut oleh kelompok-kelompok kaum Muslim dari semua firqah (aliran). Atas dasar itu terjamin nyawa mereka, dan atas dasar itu berlangsung pengalihan harta warisan. Dengan itu pula dilangsungkan hubungan pernikahan. Demikian pula pelaksanaan shalat, zakat, puasa, dan haji. Dengan semua itu mereka keluar dari kekufuran dan dimasukkan ke dalam keimanan."&lt;br /&gt;Masih banyak lagi riwayat dari para imam itu yang mengandung makna-makna seperti tersebut di atas, yang tak mungkin dinukilkan semuanya. Namun kiranya cukup sekian untuk memenuhi tujuan kami dalam bab&lt;/span&gt; ini.▪&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-3538756683810888017?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/3538756683810888017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=3538756683810888017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3538756683810888017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3538756683810888017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/imam-syafie.html' title='IMAM SYAFIE ?'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN6VjnFYKI/AAAAAAAAADg/J2va3me0wHQ/s72-c/sunni.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-2469077139268983403</id><published>2008-07-20T10:22:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T08:13:33.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al - Mushtofa'/><title type='text'>BANK HADIS 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN1VAUrcKI/AAAAAAAAADQ/52n7rJOSceA/s1600-h/Ayah+pesan.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225148996404342946" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN1VAUrcKI/AAAAAAAAADQ/52n7rJOSceA/s400/Ayah+pesan.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;"Tidak pernah beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, dan jika penduduk sebuah desa tidur nyenyak sedangkan ada salah seorang dari mereka yang kelaparan, maka Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat".- Rasulullah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;HADIS AL-HAUDH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;Bersabda Rasulullah SAWW:"Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, "Mari" . Kutanya, "Kemana?" Jawabnya, "Ke neraka, demi Allah". "Apa kesalahan mereka?" Tanyaku. "Mereka telah murtad setelahmu dan berbdik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih", jawabnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Rasulullah SAWW bersabda:"Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: sahabatku, sahabatku. Lalu dijawab: engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu. Dan aku pun berkata: Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah ketiadaanku" .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah berbalik setelah wafatnya Nabi SAWW; melainkan segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nas yang berkata: sahabatku, sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat AlQuran yang menyebutkan tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka, seperti yang telah disentuh di atas.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-2469077139268983403?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/2469077139268983403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=2469077139268983403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2469077139268983403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2469077139268983403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/wasiat-sang-ayah.html' title='BANK HADIS 2'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIN1VAUrcKI/AAAAAAAAADQ/52n7rJOSceA/s72-c/Ayah+pesan.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-3567922996023800578</id><published>2008-07-20T09:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T08:25:08.048-07:00</updated><title type='text'>BANK HADIS 1</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SINv19QaiAI/AAAAAAAAAB8/G6zbFX4hz00/s1600-h/papan+sekeping.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225142965447067650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SINv19QaiAI/AAAAAAAAAB8/G6zbFX4hz00/s400/papan+sekeping.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff9966;"&gt;مَا مِنْ شَيْئٍ إِلاَّ وَ لَهُ كَيْلٌ أَوْ وَزْنٌ إِلاَّ الدُّمُوْعَ، فَإِنَّ الْقَطْرَةَ مِنْهَا تُطْفِئُ بِحَارًا مِنْ نَارٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#999999;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#999999;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1)Imam Ja’far ash-Shâdiq as berkata, “Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”.(Bihârul Anwâr, jilid 93, hal. 331, Hadis No.14)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti pernah menangis. Bahkan, pertanda bahwa seorang bayi yang baru lahir itu hidup adalah tangisannya setelah ia keluar dari perut ibunya. Oleh karena itu, orang-orang yang menangani kelahiran seorang bayi ketika tidak mendengarkan tangisannya, mereka akan merasa khawatir akan hidupnya.&lt;br /&gt;Orang-orang yang menangis itu pun memiliki faktor yang beraneka ragam. Kadang-kadang faktor pendorongnya untuk menangis adalah kehilangan harta, putranya meninggal dunia, penyesalan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan sekeranjang faktor lain yang mungkin dimiliki oleh seseorang.&lt;br /&gt;Jika kita merujuk kepada hadis-hadis ma’shûmîn as, kita akan dapatkan bahwa menangis memiliki efek-efek positif yang dapat bermanfaat bagi diri manusia. Di antaranya, menangis dapat melunakkan hati. Dalam hadis di atas, Imam Shâdiq as menegaskan bahwa setetes air mata dapat memadamkan lautan api. Tentunya, tidak semua tangisan dapat memiliki efek seperti itu. Tangisan yang dapat memadamkan lautan api itu adalah tangisan yang muncul dari rasa penyesalan terhadap dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang. Tangisan seperti inilah yang dapat memadamkan lautan api neraka yang dikobarkan oleh dosa-dosa seorang hamba. Atau tangisan yang didasari oleh rasa takut kepada Allah.&lt;br /&gt;Dalam banyak hadis disebutkan bahwa menangis karena takut kepada Allah dapat mencahayakan hati dan mencegah seseorang untuk melakukan dosa kembali. (Ghurarul Hikam, Hikmah No.2051). Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa seseorang yang menangis meskipun air matanya hanya satu tetes sebesar kepala lalat dan ia menangis karena takut kepada Allah, Ia akan mengamankannya dari kedahsyatan hari Kiamat. (Bihârul Anwâr, jilid 93, hal.334, Hadis No.25)&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu menjadikan mata kita meneteskan air mata karena takut kepadanya. Amin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;Hak ibu atas anak&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(IMAM ALI ZAINAL ABIDIN)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;"Hak ibumu adalah hendaknya engkau tahu bahwa ia telah:&lt;br /&gt;-          mengandungmu,&lt;br /&gt;-          memberimu makan dari buah hatinya ketika tidak seorang pun siap untuk melakukan hal itu, dan&lt;br /&gt;-          menjagamu dengan telinga, mata, tangan, kaki, rambut, kulit dan seluruh anggota badannya.&lt;br /&gt;Ia melakukan itu semua dengan penuh bahagia, gembira, dan rela menanggung segala derita dan susah-payah yang ada di dalamnya sehingga engkau lahir di dunia. Ia rela engkau kenyang meskipun ia sendiri  kelaparan, engkau berpakaian meskipun ia sendiri telanjang, engkau tidak kehausan meskipun ia sendiri menahan dahaga, dan engkau bernaung meskipun ia sendiri kepanasan. Ia rela menyediakan kehidupan berlimpah nikmat bagimu dengan segala kesusahan yang dideritanya dan menidurkanmu meskipun ia harus berjaga sepanjang malam. Perutnya adalah tempat wujudmu, buiannya adalah tempatmu bermanja-manja, susunya adalah penebus dahagamu, dan jiwanya adalah tempat kamu berlindung. Ia rela menahan panas dan dinginnya dunia demi kamu dan untukmu. Dengan demikian, bersyukurlah kepadanya atas semua itu, dan engkau tidak akan dapat melakukan itu kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-3567922996023800578?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/3567922996023800578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=3567922996023800578' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3567922996023800578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/3567922996023800578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/bank-hadis.html' title='BANK HADIS 1'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SINv19QaiAI/AAAAAAAAAB8/G6zbFX4hz00/s72-c/papan+sekeping.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-2819666951812259578</id><published>2008-07-16T19:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T07:30:44.102-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NAHJUL BALAGHAH'/><title type='text'>KHOTBAH 4</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH6qjLRD1KI/AAAAAAAAABY/je358vG8Qm4/s1600-h/makalah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223800139092841634" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH6qjLRD1KI/AAAAAAAAABY/je358vG8Qm4/s400/makalah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#99ffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff9900;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pandangan Jauh Amirul Mukminin dan Keimanannya yang&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;Kukuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;بِنَا اِهْتَدَيْتُمْ فِي اَلظَّلْمَاءِ وَ تَسَنَّمْتُمْ ذُرْوَةَ اَلْعَلْيَاءِ وَ بِنَا أَفْجَرْتُمْ عَنِ السِّرَارِ وُقِرَ سَمْعٌ لَمْ يَفْقَهِ اَلْوَاعِيَةَ وَ كَيْفَ يُرَاعِي اَلنَّبْأَةَ مَنْ أَصَمَّتْهُ اَلصَّيْحَةُ رُبِطَ جَنَانٌ لَمْ يُفَارِقْهُ اَلْخَفَقَانُ مَا زِلْتُ أَنْتَظِرُ بِكُمْ عَوَاقِبَ اَلْغَدْرِ وَ أَتَوَسَّمُكُمْ بِحِلْيَةِ اَلْمُغْتَرِّينَ حَتَّى سَتَرَنِي عَنْكُمْ جِلْبَابُ اَلدِّينِ وَ بَصَّرَنِيكُمْ صِدْقُ اَلنِّيَّةِ أَقَمْتُ لَكُمْ عَلَى سَنَنِ اَلْحَقِّ فِي جَوَادِّ اَلْمَضَلَّةِ حَيْثُ تَلْتَقُونَ وَ لاَ دَلِيلَ وَ تَحْتَفِرُونَ وَ لاَ تُمِيهُونَ اَلْيَوْمَ أُنْطِقُ لَكُمُ اَلْعَجْمَاءَ ذَاتَ اَلْبَيَانِ عَزَبَ رَأْيُ اِمْرِئٍ تَخَلَّفَ عَنِّي مَا شَكَكْتُ فِي اَلْحَقِّ مُذْ أُرِيتُهُ لَمْ يُوجِسْ مُوسَى ع خِيفَةً عَلَى نَفْسِهِ بَلْ أَشْفَقَ مِنْ غَلَبَةِ اَلْجُهَّالِ وَ دُوَلِ اَلضَّلاَلِ اَلْيَوْمَ تَوَاقَفْنَا عَلَى سَبِيلِ اَلْحَقِّ وَ اَلْبَاطِلِ مَنْ وَثِقَ بِمَاءٍ لَمْ يَظْمَأْ&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;Melalui kami Anda beroleh petunjuk dan mendapatkan kedudukan tinggi, dan melalui kami Anda keluar dari malam gelap. Telinga yang tidak hendak mendengar teriakan mungkin menjadi tuli. Bagaimana mungkin seseorang tetap tuli terhadap teriakan nyaring (Al Quran dan Nabi) akan mendengar suara (saya) yang lemah. Hati yang selalu berdebar (dengan takwa kepada Allah) akan mendapat kedamaian.&lt;br /&gt;Saya selalu mengkhawatirkan dari Anda akibat-akibat pendurhakaan, dan saya telah melihat Anda dibalik busana tipuan. Tirai agama telah membiarkan saya tersembunyi dari Anda, tetapi keikhlasan niat saya meng-ungkapkan Anda kepada saya. Saya berdiri untuk Anda pada jalan kebenaran di antara jalur-jalur di mana Anda saling bertemu tetapi tak ada pemimpin, dan Anda menggali tetapi tidak mendapatkan air.&lt;br /&gt;Hari ini saya akan membuat hal-hal yang bisu ini berkata-kata kepada Anda (yakni gagasan-gagasan dan renungan-renungan saya yang mendalam) yang penuh dengan kekuatan yang menguraikan. Pandangan orang yang meninggalkan saya mungkin tersesat. Saya tak pernah meragukan kebenaran itu sejak (kebenaran) itu ditunjukkan kepada saya. Musa tidak merasa takut bagi dirinya sendiri,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/004.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt; melainkan dia prihatin atas kemenangan orang bodoh dan berkuasanya kesesatan. Sekarang kita berdiri di simpang jaian kebenaran dan kebatilan. Orang yang yakin akan mendapatkan air, tidak merasakan haus. •&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/004.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffcc66;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="color:#333333;"&gt;Rujukannya kepada Musa, ketika para penyihir dikirimkan untuk menantangnya dan mereka memperlihatkan sihir mereka dengan melemparkan tali dan tongkat ke tanah dan Musa merasa takut. Demikianlah, Al-Qur'an mencatat,&lt;br /&gt;"... terbayang kepada Musa seakun-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musd merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul." (QS. 20:66-68)&lt;br /&gt;Dan Amirul Mukminin berkata bahwa alasan takutnya Musa ketika melihat tali dan tongkat bergerak itu bukanlah demi nyawanya sendiri; ia lakut jangan sampai kaumnya terkesan oleh sihir itu lalu tersesat dan kebatilan beroleh kemenangan karena perbuatan sihir itu. Itulah sebabnya maka Musa tidak dihibur dengan mengatakan bahwa nyawanya aman, tetapi dcngan mcngatakan bahwa ia sebenarnya lebih unggul, dan dakwahnya akan terangkat. Karena ketakutannya adalah atas kekalahan yang hak dan kemenangan yang batil, bukan nyawanya scndiri, hiburan diberikan kepadanya untuk kemenangan yang hak, dan bukan untuk perlindungan tcrhadap nyawanya.&lt;br /&gt;Amirul Mukminin memaksudkan bahwa la pun mempunyai ketakulan yang sama, yakni jangan sampai umat terperangkap dalam jebakan orang-orang ini (Thalhah, Zubair, dan sebagainya) dan tersesat dari jalan yang benar. la tak pernah menghawatirkan kehidupannya sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-2819666951812259578?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/2819666951812259578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=2819666951812259578' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2819666951812259578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/2819666951812259578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/khotbah-4.html' title='KHOTBAH 4'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH6qjLRD1KI/AAAAAAAAABY/je358vG8Qm4/s72-c/makalah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-5961011860971419566</id><published>2008-07-16T03:59:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T07:26:21.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NAHJUL BALAGHAH'/><title type='text'>KHOTBAH 3</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3VFJo_8QI/AAAAAAAAABA/_sRGszHDwMM/s1600-h/Ya+Hussin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223565427283587330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3VFJo_8QI/AAAAAAAAABA/_sRGszHDwMM/s400/Ya+Hussin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Dikenal sebagai Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;[i]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;فَسَدَلْتُ دُونَهَا ثَوْباً وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحاً وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِي بَيْنَ أَنْ أَصُولَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أَوْ أَصْبِرَ عَلَى طَخْيَةٍ عَمْيَاءَ يَهْرَمُ فِيهَا اَلْكَبِيرُ وَ يَشِيبُ فِيهَا اَلصَّغِيرُ وَ يَكْدَحُ فِيهَا مُؤْمِنٌ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ ترجيح الصبر فَرَأَيْتُ أَنَّ اَلصَّبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى فَصَبَرْتُ وَ فِي اَلْعَيْأَمَا وَ اَللَّهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا فُلاَنٌ وَ إِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اَلْقُطْبِ مِنَ اَلرَّحَى يَنْحَدِرُ عَنِّي اَلسَّيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إِلَيَّ اَلطَّيْرُ نِ قَذًى وَ فِي اَلْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِي نَهْباً حَتَّى مَضَى اَلْأَوَّلُ لِسَبِيلِهِ فَأَدْلَى بِهَا إِلَى فُلاَنٍ بَعْدَهُ ثُمَّ تَمَثَّلَ بِقَوْلِ اَلْأَعْشَى شَتَّانَ مَا يَوْمِي عَلَى كُورِهَا وَ يَوْمُ حَيَّانَ أَخِي جَابِرِ فَيَا عَجَباً بَيْنَا هُوَ يَسْتَقِيلُهَا فِي حَيَاتِهِ إِذْ عَقَدَهَا لِآخَرَ بَعْدَ وَفَاتِهِ لَشَدَّ مَا تَشَطَّرَا ضَرْعَيْهَا فَصَيَّرَهَا فِي حَوْزَةٍ خَشْنَاءَ يَغْلُظُ كَلْمُهَا وَ يَخْشُنُ مَسُّهَا وَ يَكْثُرُ اَلْعِثَارُ فِيهَا وَ اَلاِعْتِذَارُ مِنْهَا فَصَاحِبُهَا كَرَاكِبِ اَلصَّعْبَةِ إِنْ أَشْنَقَ لَهَا خَرَمَ وَ إِنْ أَسْلَسَ لَهَا تَقَحَّمَ فَمُنِيَ اَلنَّاسُ لَعَمْرُ اَللَّهِ بِخَبْطٍ وَ شِمَاسٍ وَ تَلَوُّنٍ وَ اِعْتِرَاضٍ فَصَبَرْتُ عَلَى طُولِ اَلْمُدَّةِ وَ شِدَّةِ اَلْمِحْنَةِ حَتَّى إِذَا مَضَى لِسَبِيلِهِ جَعَلَهَا فِي جَمَاعَةٍ زَعَمَ أَنِّي أَحَدُهُمْ فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اِعْتَرَضَ اَلرَّيْبُ فِيَّ مَعَ اَلْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ اَلنَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ اَلْآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ اَلْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اَللَّهِ خِضْمَةَ اَلْإِبِلِ نِبْتَةَ اَلرَّبِيعِ إِلَى أَنِ اِنْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ مبايعة علي فَمَا رَاعَنِي إِلاَّ وَ اَلنَّاسُ كَعُرْفِ اَلضَّبُعِ إِلَيَّ يَنْثَالُونَ عَلَيَّ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ حَتَّى لَقَدْ وُطِئَ اَلْحَسَنَانِ وَ شُقَّ عِطْفَايَ مُجْتَمِعِينَ حَوْلِي كَرَبِيضَةِ اَلْغَنَمِ فَلَمَّا نَهَضْتُ بِالْأَمْرِ نَكَثَتْ طَائِفَةٌ وَ مَرَقَتْ أُخْرَى وَ قَسَطَ آخَرُونَ كَأَنَّهُمْ لَمْ يَسْمَعُوا اَللَّهَ سُبْحَانَهُ يَقُولُ تِلْكَ اَلدَّارُ اَلْآخِرَةُ نَجْعَلُها لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اَلْأَرْضِ وَ لا فَساداً وَ اَلْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ بَلَى وَ اَللَّهِ لَقَدْ سَمِعُوهَا وَ وَعَوْهَا وَ لَكِنَّهُمْ حَلِيَتِ اَلدُّنْيَا فِي أَعْيُنِهِمْ وَ رَاقَهُمْ زِبْرِجُهَا أَمَا وَ اَلَّذِي فَلَقَ اَلْحَبَّةَ وَ بَرَأَ اَلنَّسَمَةَ لَوْ لاَ حُضُورُ اَلْحَاضِرِ وَ قِيَامُ اَلْحُجَّةِ بِوُجُودِ اَلنَّاصِرِ وَ مَا أَخَذَ اَللَّهُ عَلَى اَلْعُلَمَاءِ أَلاَّ يُقَارُّوا عَلَى كِظَّةِ ظَالِمٍ وَ لاَ سَغَبِ مَظْلُومٍ لَأَلْقَيْتُ حَبْلَهَا عَلَى غَارِبِهَا وَ لَسَقَيْتُ آخِرَهَا بِكَأْسِ أَوَّلِهَا وَ لَأَلْفَيْتُمْ دُنْيَاكُمْ هَذِهِ أَزْهَدَ عِنْدِي مِنْ عَفْطَةِ عَنْزٍ قَالُوا وَ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ اَلسَّوَادِ عِنْدَ بُلُوغِهِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضِعِ مِنْ خُطْبَتِهِ فَنَاوَلَهُ كِتَاباً قِيلَ إِنَّ فِيهِ مَسَائِلَ كَانَ يُرِيدُ اَلْإِجَابَةَ عَنْهَا فَأَقْبَلَ يَنْظُرُ فِيهِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ قَالَ لَهُ اِبْنُ عَبَّاسٍ يَا أَمِيرَ اَلْمُؤْمِنِينَ لَوِ اِطَّرَدَتْ خُطْبَتُكَ مِنْ حَيْثُ أَفْضَيْتَ فَقَالَ هَيْهَاتَ يَا اِبْنَ عَبَّاسٍ تِلْكَ شِقْشِقَةٌ هَدَرَتْ ثُمَّ قَرَّتْ قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ فَوَاللَّهِ مَا أَسَفْتُ عَلَى كَلاَمٍ قَطُّ كَأَسَفِي عَلَى هَذَا اَلْكَلاَمِ&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;[ii]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt; membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya.&lt;br /&gt;Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, di mana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan. Saya melihat perampokan warisan saya sampai orang yang pertama menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibnu Khaththab sesudah dirinya.&lt;br /&gt;Kemudian ia mengutip syair al-'A'sya':&lt;br /&gt;Hari-hariku kini berlalu di punggung unta (dalam kesulitan)&lt;br /&gt;Sementara ada hari-hari (kemudahan)&lt;br /&gt;Ketika aku menikmati pertemanan Hayyan, saudara Jabir.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;[iii]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;br /&gt;Aneh bahwa selagi hidup ia ingin melepaskan diri dari kekhalifahan, tetapi ia mengukuhkannya untuk yang lainnya setelah matinya. Tiada ragu bahwa kedua orang ini sama bersaham pada puting-puting susunya semata-mata di antara mereka saja. Yang satu ini menempatkan kekhalifahan dalam suatu lingkungan sempit yang alot di mana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kesalahannya banyak, dan banyak pula dalihnya kemudian. Orang yang berhubungan dengannya adalah seperti penunggang unta binal. Apabila ia menahan kekangnya, hidungnya akan robek, tetapi apabila ia melonggarkannya maka ia akan terlempar. Akibatnya, demi Allah, manusia terjerumus ke dalam kesemberonoan, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Namun demikian saya tetap sabar walaupun panjang-nya masa dan tegarnya cobaan, sampai, ketika ia pergi pada jalan (kematian)nya, ia menempatkan urusan (kekhalifahan) pada suatu kelompok&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;[iv]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt; dan menganggap saya salah satu dari mereka. Tetapi, ya Allah, apa hubungan saya dengan "musyawarah" ini? Di manakah ada suatu keraguan tentang saya sehubungan dengan yang pertama dari mereka sehingga saya sekarang dipandang sama dengan orang-orang ini? Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sam-bil menelan harta Allah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;[v]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt; seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.&lt;br /&gt;Pada waktu itu tak ada yang mengagetkan saya selain kerumunan orang yang maju kepada saya dari setiap sisi seperti bulu tengkuk rubah sehingga Hasan dan Husain terinjak dan kedua ujung baju bahu saya robek. Mereka berkumpul di sekitar saya seperti kawanan kambing. Ketika saya mengambil kendali pemerintahan, suatu kelompok memisahkan diri dan satu kelompok lain mendurhaka, sedang yang sisanya mulai menyeleweng seakan-akan mereka tidak mendengar kalimat Allah yang mengatakan, "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak in gin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) buini. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS. 28:83)&lt;br /&gt;Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mala mereka dan hiasannya menggoda mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah (untuk tumbuh) dan menciptakan makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya, dan para pendukung tidak mengajukan hujah, dan apabila tak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama. Maka Anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia Anda ini tidak lebih baik dari bersin seekor kambing.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ff6600;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Dikatakan bahwa ketika Arnirul Mukminin sampai di sini dalam khotbahnya, seorang lelaki dari 'Iraq berdiri dan menyerahkan kepadanya suatu tulisan. Amirul Mukminin melihat (tulisan) itu, dan ketika itu juga Ibn 'Abbas --semoga Allah meridai keduanya-- berkata, "Ya Amirul Muk&amp;shy;minin, saya harap Anda lanjutkan khotbah Anda dari mana Anda telah memutuskannya."&lt;br /&gt;Atasnya ia menjawab,&lt;br /&gt;"Wahai Ibn 'Abbas, hal itu seperti uap dengusan seekor unta yang menyembur keluar tetapi (kemudian) mereda."&lt;br /&gt;Ibn 'Abbas berkata bahwa ia tak pernah menyedihkan suatu ucapan sebagaimana atas yang satu ini, karena Amirul Mukminin a.s. tak dapat mengakhirinya sebagaimana diinginkannya.&lt;br /&gt;Sayid Radhi mencatat: Kata-kata dalam khotbah, "seperti penunggang unta" bermaksud menyampaikan bahwa bilamana seorang penunggang unta menarik kendali dengan kaku maka dengan sentakan itu lobang hidungnya akan memar, tetapi apabila ia melonggarkannya padahal unta itu liar, maka unta itu akan melemparkannya di suatu tempat dan akan lepas kendali. Asynaq an-nāqah digunakan bilamana si penunggang menarik kekang dan meninggikan kepala unta. Dalam pengertian yang sama digunakan juga kata syanaqa an-nāqah. Ibnu Sikkit telah menyebutkannya dalam Islāhul Manthiq. Amirul Mukminin telah mengatakan asynaqa lahā sebagai ganti asynaqaha, karena ia menggunakannya seirama dengan aslasa lahā dan keselarasan hanya dapat dipertahankan dengan mengunakan keduanya dalam bentuknya yang sama. Jadi, Amirul Mukminin menggunakan asynaqa lahā seakan-akan sebagai ganti in rafa'a lahā ra'sahā, yakni "apabila ia menghentikannya dengan menarik kekang".•&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffccff;"&gt;&lt;strong&gt;[i]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt; Khotbah ini terkenal sebagai Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah dan dipandang sebagai salah satu khotbah Amirul Mukminin yang paling masyhur. Khotbah ini disampaikan di Ar-Rahbah (suatu bagian dari Kufah). Sebagian orang menyangkalnya sebagai ucapan Amirul Mukminin, dan mengatakan bahwa itu dibuat-buat oleh Sayid Radhi (Syarif Radhi) namun para ulama pencinta kebenaran telah menyanggah sangkalan itu. Tidak ada pula dasar untuk penyangkalan itu. Perbedaan pandangan Ali a.s. dalam hal kekhalifahan bukanlah rahasia, sehingga singgungan-singgungan semacam itu tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang asing. Dan, peristiwa yang telah disinggung dalam khotbah ini terpelihara dalam catatan-catatan sejarah yang membenarkannya, kata demi kata dan kalimat demi kalimat. Apabila peristiwa-peristiwa yang sama yang bertaian dengan sejarah dikatakan kembali oleh Amirul Mukminin maka manakah alasan untuk menyangkalinya? Apabila ingatan akan keadaan-keadaan yang tak menyenangkan segera setelah wafatnya Nabi nampak tak terlupakan baginya, tidaklah hal itu harus mengejutkan. Tiada ragu, khotbah ini mengenai prestise tokoh-tokoh tertentu dan mengurangi keyakinan dan kepercayaan kepada mereka. Tetapi, kepercayaan itu tak dapat dipulihkan dengan menolak khotbah ini sebagai ucapan Amirul Mukminin, kecuali apabila peristiwa-peristiwa yang sebenarnya dianalisa dan kebenarannya diungkapkan. Apabila tidak demikian, sekadar menolaknya sebagai ucapan Amirul Mukminin karena mengandung peremehan terhadap individu-individu tertentu, tidaklah berbobot, padahal kritik yang sama telah diriwayatkan oleh sejarawan lain pula. Maka, (Abu 'Utsman) 'Amr Ibnu Bahr Al-Jāhizh telah mencatat kata-kata berikut ini dari suatu khotbah Amirul Mukminin, dan kata-kata itu tidak kurang bobotnya daripada kritik dalam Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah.&lt;br /&gt;Yang dua ini meninggal dan yang ketiga bangkit seperti gagak yang keberaniannya terbatas pada perut. Akan lebih baik apabila kedua sayapnya terputus dan kepalanya terlepas.&lt;br /&gt;Alhasil, gagasan bahwa khotbah itu buatan Sayid Radhi adalah jauh dari kebenaran, dan hanya merupakan hasil partisan dan sikap memihak. Sekiranya tuduhan itu merupakan hasil suatu penelitian, haruslah dikernukakan. Bila tidak demikian maka bersikeras pada ilusi penuh hasrat semacam itu tidak mengubah kebenaran, tidak pula kekuatan argumen-argumen yang menentukan akan terpupuskan hanya dengan tidak setuju dan tak senang.&lt;br /&gt;Sekarang, marilah kita lihat kesaksian dari para ulama dan ahli periwayatan yang dengan tegas memandangnya sebagai asli dari Amirul Mukminin, supaya pentingnya secara historis diketahui. Di antara para ulama ini, sebagian hidup sebelum masa Sayid Radhi, sebagian semasa dengannya, dan sebagian sesudah-nya, tetapi mereka semua meriwayatkan melalui isnad mereka sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Abil Hadid menuliskan bahwa gurunya Abul Khair Mushaddiq Ibnu Syabib al-Wasiti (m. 605 H.) menyatakan bahwa ia mendengar khotbah ini dari Syeikh Abu Muhammad 'Abdullah Ibnu Ahmad Al-Baghdadi (m. 567 H.) yang dikenal sebagai Ibnu Al-Khasysyab, dan ketika ia sampai di mana Ibnu 'Abbas menyampaikan kesedihannya karena khotbah ini tertinggal tak lengkap, IbnuKhasysyab mengatakan kepadanya bahwa apabila ia mendengar keluhan sedih Ibnu 'Abbas itu, pastilah ia sudah menanyakan kepadanya apakah ada yang tertinggal pada saudara misannya itu suatu keinginan lain yang tak dipuaskan, karena, kecuali Nabi, ia tidak mengecualikan para pendahulunya maupun para penyusulnya, dan telah mengucapkan semua yang hendak diucapkannya.Maka, mengapa harus ada kesedihan bahwa ia tak dapat mengatakan apa yang diinginkannya? Mushaddiq mengatakan bahwa Ibnu Khasysyab adalah orang yang berhati ceria dan sopan santun. Ketika saya bertanya kepadanya apakah ia juga memandang khotbah itu sebagai buat-buatan, ia menjawab, "Demi Allah, saya percaya itu kata-kata Amirul Mukminin, sebagaimana saya percaya bahwa Anda adalah Mushaddiq Ibnu Syabib." Ketika saya katakan bahwasebagian orang menganggapnya buatan Sayid Radhi, ia menjawab, "Bagaimana mungkin Radhi dapat mempunyai keberanian demikian atau gaya penulisan seperti itu. Saya telah melihat tulisan-tulisan Radhi dan mengetahui gaya penulisannya. Di mana-mana tiada tulisannya menyerupai yang satu ini. Dan saya telah melihatnya pada buku-buku yang ditulis ratusan tahun sebelum lahirnya Sayid Radhi; dan saya telah melihatnya dalam tulisan-tulisan yangterkenal yang saya tahu ulama dan ahli sastra mana yang mengutip tulisan-tulisan itu. Pada masa itu, bukan saja Radhi, tetapi bahkan ayahnya, Abu Ahmad An-Naqib, belum lahir."&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;(2)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Setelah itu, Ibnu Abil Hadid menulis bahwa ia melihat khotbah ini dalam kompilasi-kompilasi gurunya Abul Qasim ('Abdullah Ibnu Ahmad) al-Balkhi (m. 317 H.). la pemimpin kaum Mu'tazilah dalam masa pemerintahan Muqtadir Billah, sedang masa Muqtadir jauh sebelum lahirnya Sayid Radhi.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;(3)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; la selanjutnya menulis bahwa ia melihat khotbah ini dalam buku Inshāf karya Ibnu Qibah (Abu Ja'far Muhammad Ibnu 'Abdur-Rahman). la murid Abul Qa sim al-Balkhi dan ulama mazhab Syi'ah Imamiah. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 205-206).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;(4)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Ibnu Maltsam Al-Bahrani (m. 679 H.) menulis dalam syarahnya bahwa ia telah melihat satu salinan khotbah itu yang telah ditulis oleh menteri Muqtadir Billah, Abul Hasan Ali Ibnu Muhammad Ibnu Al-Furat (m. 312 H.) (Syarh al-Balāghah, I, h. 252-253).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;strong&gt;(5)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi telah meriwayatkan isnad berikut tentang khotbah ini dari kompilasi Syeikh Qutbuddin ar-Rawandi, Minhājul Barā 'ah fī Syarh Nahjul Balāghah:&lt;br /&gt;"Syeikh Abu Nashr al-Hasan Ibnu Muahammad Ibnu Ibrahim menyampaikan kepada saya dari al-Hajib Abul Wafa' Muhammad Ibnu Badi', al-Husain Ibnu Ahmad Ibnu Badi' dan al-Husain Ibnu al-Husain Ibnu Ahmad Ibnu 'Abdur-Rahman, dan mereka (mendengar) dari al-Hafizh Abu Bakr (Ahmad Ibnu Musa) Ibnu Mardawaih al-Ishbahani (m. 426 H.) dan dia dari al-Hafizh Abul Qasim Sulaiman Ibnu Ahmad ath-Thabarani (m. 360 H.) dan dia dari Ahmad Ibnu Ali al-Abbar dan dia dari Ishaq Ibnu Sa'id Abu Salamah ad-Dimasyqi dan dia dari Khulaid Ibnu Da'laj dan dia dari Atha’ Ibnu Abi Rabah dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Biharul Anwār, edisi pertama, jilid VIII, h. 160-161).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;strong&gt;(6)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Dalam konteks itu Allamah al-Majlisi menulis bahwa khotbah ini juga termuat dalam kompilasi Abu Ali (Muhammad Ibnu 'Abdul Wahhab) al-Jubba'i (m. 303 H.).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;strong&gt;(7)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Dalam hubungan dengan otentiknya khotbah ini sendiri, Allamah al-Majlisi menulis:&lt;br /&gt;"Qadhi 'Abdul Jabbar Ibnu Ahmad al-Asadabadi (415 H.), seorang Mu'tazilah yang tegar, menerangkan beberapa ungkapan dari khotbah ini dalam buku Al-Mughni dan berusaha membuktikan bahwa khotbah itu tidak menyerang para khalifah mana pun sebelumnya, tetapi tidak menolak bahwa itu komposisi Amirul Mukminin." (Ibid., h. 161).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;(8)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ali, Ibnu Babawaih (m. 381 H.) menulis:&lt;br /&gt;"Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Ishaq ath-Thalaqani mengatakan kepada kami bahwa 'Abdul 'Aziz Ibnu Yahya al-Jaludi (m. 332 H.) mengatakan kepadanya bahwa Abu 'Abdullah Ahmad Ibnu 'Ammar Ibnu Khalid mengata&amp;shy;kan kepadanya bahwa Yahya Ibnu 'Abdul Hamid al-Himmani (m. 228 H.) mengatakan kepadanya bahwa 'Isa Ibnu Rasyid meriwayatkan khotbah ini dari Ali Ibnu Hudzaifah, dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Ilal asy-Syarā'i, bab XXII, h. 360-361).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;strong&gt;(9)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Kemudian Ibnu Babawaih mencatat rangkaian isnad berikut:&lt;br /&gt;"Muhammad Ibnu Ali Majilawaih meriwayatkan khotbah ini kepada kami, dan ia mengambilnya dari pamannya Muhammad Ibnu Abil Qasim, dia dari Ahmad Ibnu Abi 'Abdillah (Muhammad Ibnu Khalid) al-Barqi dan dia dari ayahnya dan dia dari Muhammad Ibnu Abi 'UMalr dan dia dari Aban Ibnu 'Utsman dan dia dari Aban Ibnu Taghlib dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu 'Abbas. ('Ial asy-Syarā'i', I, bab 122, h. 146; Ma'am al-Akhbar, bab 22, h. 361).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;(10)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Abu Ahmad al-Hasan Ibnu 'Abdillah Ibnu Sa'id al-'Askari (m. 382 H.), yangtergolong ulama besar Sunni, telah menulis syarah dan penjelasan tentang khotbah ini, yang telah dicatat oleh Ibnu Babawaih dalam. 'Ial asy-Syard'i dan Ma 'dni al-Akhbār.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;(11)&lt;/span&gt; Sayid Ni'matullah al-Jaza'iri menulis:&lt;br /&gt;"Penulis Kitdb al-Ghardt, Abu Ishaq, Ibrahim Ibnu Muhammad ats-Tsaqafi al-Kufi (m. 283 H.) telah meriwayatkan khotbah ini melalui rangkaian sanad-nya sendiri. Tanggal selesainya menulis buku ini hari Selasa, 13 Syawal 255 H. dan pada tahun itu juga Murtadha al-Musawi lahir. la lebih tua dari saudaranya Sayid RadhT." (Anwar an-Nu 'māniyyah, h. 37).&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;strong&gt;(12)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Sayid Radhiuddin Abul Qasim Ali Ibnu Musa, Ibnu Thawus al-Husaini al-Hilli (m. 664 H.) telah meriwayatkan khotbah ini dari Kitab al-Ghārāt dengan rangkaian sanad berikut:&lt;br /&gt;"Khotbah ini diriwayatkan kepada kami oleh Muhammad Ibnu Yusuf, yang meriwayatkan dari Hasan Ibnu Ali Ibnu 'Abdul Karim az-Za'farani, dan ia (meriwayatkan) dari Muhammad Ibnu Zakariyya al-Ghallabi, dan dia dari Ya'qub Ibnu Ja'far Ibnu Sulaiman, dan dia dari ayahnya, dan dia dari kakek-nya, dan dia dari Ibnu 'Abbas." (terjemahan Ath-Thara'if, h. 202)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(13)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Syeikh ath-Tha'ifah, Muhammad Ibnu al-Hasan ath-Thusi (m. 460 H.) me&amp;shy;nulis:&lt;br /&gt;"(Abul Path Hilal Ibnu Muhammad Ibnu Ja'far) al-Haffar meriwayatkan khot&amp;shy;bah ini kepada kami. la meriwayatkan dari Abdul Qasim (Isma'il Ibnu Ali Ibnu Ali) ad-Di'bili, dan dia dari ayahnya, dan dia dari saudaranya Di'bil (Ibnu Ali al-Kuza'i), dan dia dari Muhammad Ibnu Salamah asy-Syami, dan dia dari Zurarah Ibnu A'yan dan dia dari Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ali (asy-Syeikh ash-Shaduq), dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Al-Amali, h. 137)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;(14)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Syeikh Mufid (Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu an-Nu'man, m. 413 H.), guru Sayid Radhi, menulis tentang rangkaian sanad khotbah ini:&lt;br /&gt;"Sejumlah periwayat hadis telah meriwayatkan khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai isnad." (Al-Irsyād, h. 135)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;(15)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; 'Alam al-Huda (lambang petunjuk) Sayid Murtadha, kakak Sayid Radhi, telah mencatatnya pada h. 203-204 bukunya Asy-Sydfi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt;(16)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Abu Manshur ath-Thabarsi menulis:&lt;br /&gt;"Sejumlah perawi telah meriwayatkan tentang khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai sanad. Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa ia bersama Amirul Mukminin di ar-Rahbah; ketika percakapan beralih kepada kekhalifahan dan mereka yang telah mendahuluinya sebagai Khalifah, Amirul Mukminin menghembuskan nafas keluhan dan menyampaikan khotbah ini." (Al-Ihtijaj)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;(17)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Abu al-Muzhaffar Yusuf Ibnu 'Abdillah dan Sibth Ibnu Jauzi al-Hanafi (m. 654 H.) menulis:&lt;br /&gt;"Syeikh kita Qasim an-Nafts al-Anbari meriwayatkan khotbah ini kepada kami melalui rangkaian sanadnya yang berakhir pada Ibnu 'Abbas, yang mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaiatan kepada Amirul Muk&amp;shy;minin sebagai khalifah, ia sedang duduk di mimbar ketika seorang laki-laki dari hadirin bertanya mengapa ia berdiam diri ketika itu, lalu Amirul Mukminin serta merta mengucapkan khotbah ini." (Tadzkirat Khawashsh al-Ummah, h. 73)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;(18)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Qadhi Ahmad Ibnu Muhammad, asy-Syihab al-Khafaji (m. 1069 H.) menulis setalian dengan keasliannya:&lt;br /&gt;"Dinyatakan dalam ucapan-ucapan Amirul Mukminin Ali (ra), 'Aneh, selama hayatnya ia (Abu Bakar) hendak melepaskan kekhalifahannya, tetapi ia memperkuat fondasinya untuk orang lain setelah matinya.'" (Syarh Durrat al-Ghawwash, h. 17)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(19)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Syeikh 'Ala ad-Daulah as-Simnani menulis:&lt;br /&gt;"Amirul Mukminin SayyidAl-'Arifin Ali a.s. telah menyatakan dalam satu khotbahnya yang cemerlang, "Ini syiqsyiqah yang menyembur keluar". (al-'Urwah li Ahl al-Khalwah wa al-Jalwah, h. 3, naskah di Perpustakaan Nasiriah, Lucknow, India)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;(20)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Abul Fadhl Ahmad Ibnu Muhammad al-Maldant (m. 518 H.) menulis sehubungan dengan kata syiqsyiqah:&lt;br /&gt;"Satu khotbah Amirul Mukminin terkenal sebagai Khotbah asy-Syiqsyt-qiyyah (khotbah busa unta)." (Majma' al-Amtsāl, jilid I, h. 369)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;(21)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Pada lima belas tempat dalam An-Nihayah, sementara menerangkan kata-kata dari khotbah ini, Abu as-Sa'adat Mubarak Ibnu Muhammad, Ibnu al-Atsir al-Jazari (m. 606 H.) telah mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;(22)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Syeikh Muhammad Thahir Patnt, ketika menerangkan kata-kata itu dalam Majma' al-Bihar al-Anwar, membenarkan khotbah ini dari Amirul Muk&amp;shy;minin dengan kata-kata, "Ali mengatakan demikian."&lt;br /&gt;(23) Abul Fadhl Ibnu Manzur (m. 711 H.) telah mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin, dalam Lisan al-'Arab, jilid XII, h. 54, dengan mengata&amp;shy;kan, "Itu adalah busa unta yang mencetus, kemudian mereda."&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;(24)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Majduddln al-Firuzabadt (m. 816/7 H.) telah mencatat kata syiqsyiqah dalam kamusnya (Al-Qdmus, III, h. 251):&lt;br /&gt;"Khotbah asy-Syiqsytqiyyah Ali dinamakan demikian karena ketika Ibnu 'Abbas meminta kepadanya untuk meneruskannya di mana ia telah me-ninggalkannya, ia berkata, "Wahai, Ibnu 'Abbas! Itu busa unta (syiqsyiqah) yang mencetus keluar lalu mereda."&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;&lt;strong&gt;(25)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Penyusun Muntahd al-Adab menuliskan:&lt;br /&gt;"Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah Ali diatributkan pada Ali (karramallahu wajhahu)."&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;(26)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Syeikh Muhammad 'Abduh, Mufti Mesir, mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin; ia telah menulis keterangannya dalam bukunya Syarh Nahjul Baldghah.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;(27)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Muhammad Muhyiddm 'Abdul Hamid, guru besar pada Fakultas Bahasa Arab, Universitas al-Azhar, telah menulis anotasi tentang Nahjul Baldghah dengan membubuhkan prakata, di mana ia mengakui semua khotbah yang mengandung pernyataan-pernyataan menyinggung semacam itu sebagaiucapan Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;Di hadapan semua penyaksian dan semua bukti yang tak tersangkal ini, tidak ada tempat untuk menganggap bahwa khotbah itu bukan dari Amirul Mukminin dan bahwa itu buatan Sayid Radhi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt; Amirul Mukminin mengacu pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah, sebagai berbusana dengan itu. Ini kiasan biasa. Maka, ketika 'Utsman diminta untuk menyerahkan kekhalifahan, ia menjawab, "Saya tidak akan menanggalkan busana yang telah dipakaikan Allah kepadaku ini." Tiada ragu bahwa Amirul Mukminin tidak mengatributkan "baju kekhalifahan" ini kepada Allah, melainkan kepada Abu Bakar sendiri, karena menurut pandangan ijmak, kekhalifahannya bukanlah dari Allah melainkan urusannya sendiri. Itulah sebabnya Amirul Muk&amp;shy;minin mengatakan bahwa Abu Bakar membusanai dirinya sendiri dengan kekhalifahan. la mengetahui bahwa busana ini telah dijahit untuk badannya sendiri, sedang kedudukannya sendiri sehubungan dengan kekhalifahan adalah kedudukan poros pada penggiling yang dapat mempertahankan posisi pusatnya dan tak ada gunanya tanpa itu. Seperti itu pula, ia berpendapat, "Saya adalah sumbu pusat kekhalifahan; bila saya tidak di sana, seluruh sistemnya akan tersesat dari pusat&amp;shy;nya. Sayalah yang bertindak sebagai pengawal bagi organisasi dan ketertibannya, dan mengawalnya melewati berbagai kesulitan. Arus pengetahuan mengalir dari dada saya dan mengairinya pada semua sisi. Kedudukan saya tinggi di atas ima-jinasi, tetapi pencari keserakahan duniawi untuk pemerintahan menjadi batu sandungan bagi saya, dan saya harus mengurung diri dalam keterasingan. Kegelapan yang membutakan merajalela di mana-mana, gelap pekat di mana-mana. Yang muda menjadi tua dan yang tua berpisah ke kuburan, tetapi masa menanggung sabar ini tak mau berakhir. Saya terus melihat dengan mata saya penjarahan atas warisan saya dan melihat berlalunya kekhalifahan dari satu tangan ke tangan lain, tetapi saya tetap bersabar, karena tak dapat menghentikan kesewenang-wenangan mereka tanpa sarana."&lt;br /&gt;Perlunya Khalifah dan Cara Pengangkatannya&lt;br /&gt;Setelah Nabi Muhammad (saw) wafat, dibutuhkan adanya pribadi yang mampu mencegah perpecahan umat dan mengawal hukum Islam dari perubahan, pengubahan dan penyelewengan oleh orang-orang yang hendak memenuhi hawa nafsunya. Bila kebutuhan mendesak ini disangkal maka mengapa suksesi Nabi dianggap begitu penting sehingga pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah dipandang lebih utama daripada penguburan Nabi? Bila kebutuhan ini diakui, maka timbul pertanyaan apakah Nabi juga menyadarinya atau tidak. Bila kita anggap beliau tidak menyadarinya dan tidak dapat menilai ada atau tiadanya kebutuhan tersebut, maka hal ini akan merupakan bukti yang sangat kuat untuk menganggap bahwa Nabi tidak memikirkan cara menyetop kejahatan-kejahatan bidah dan hojatan; padahal beliau telah memberikan peringatan-peringatan tentang masaalah ini.&lt;br /&gt;Apabila dikatakan bahwa beliau menyadari kebutuhan akan adanya pribadi tersebut tetapi tidak membereskannya, karena melihat adanya manfaat dengan membiarkannya, maka beliau tidak akan mendiamkannya tanpa menunjukkan manfaat itu dengan jelas; apabila tidak demikian maka mendiamkan masalah tersebut tanpa tujuan merupakan pelanggaran dalam pelaksanaan tugas Kenabian. Apabila ada halangan, haruslah pula diungkapkan. Karena Nabi tidak meninggalkan masalah agama dalam keadaan tidak sempurna maka beliau tidak akan membiarkan masalah ini terbengkalai, melainkan akan mengajukan jalan pemecahan untuk mengamankan agama dari campur tangan orang lain.&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang, bagaimana seharusnya pengambilan keputusan pada masa awal tersebut dan apa yang akan dilakukan. Bila keputusan itu berdasarkan konsensus umat maka hal itu tidak mungkin terjadi, karena pada konsensus semacam itu diperlukan adanya persetujuan tiap individu; tetapi mengingat perbedaan temperamen manusia, maka mustahil mereka akan sepakat. Tak ada contoh di masa itu di mana keputusan dapat diambil dengan mufakat tanpa satu pun yang menolak. Maka bagaimana mungkin kebutuhan mendasar semacam itu digantungkan pada terjadinya peristiwa yang mustahil seperti itu, sedangkan kebutuhan itu menyangkut masa depan Islam dan kemaslahatan umat. Oleh karena itu maka akal sehat tidak dapat menerima tolok ukur ini. Tidak ada pula sunah yang selaras dengannya sebagaimana ditulis oleh Qadhi 'AdhuddTn al-'Ijlt dalam Syarh al-Mawāqif:&lt;br /&gt;"Anda seharusnya tahu bahwa kekhalifahan tidak dapat bergantung pada ijmak pemilihan, karena tidak ada argumen yang logis atau sunah yang dapat dijadikan sandaran."&lt;br /&gt;Kenyataannya, tatkala para pembela pemilihan dalam pelaksanaannya sukar mencapai aklamasi, mereka lalu menempuh persetujuan mayoritas dengan mengabaikan minoritas.&lt;br /&gt;Dalam hal semacam ini sering juga terjadi kekuatan jujur ataupun palsu, cara benar atau tidak, mengubah arus pendapat mayoritas dan mengabaikan keutamaan individu dan kebajikan pribadi. Akibatnya, orang yang mampu dan jujur ter-sembunyi, dan yang tidak kompeten maju ke depan. Bila orang berkemampuan tersisih, terhalang oleh ambisi-ambisi pribadi, lalu bagaimana mengharapkan adanya pemilihan orang yang tepat? Sekalipun, misalnya, semua pemberi suara punya kebebasan dan tidak memihak, lidaklah mesti keputusan mayoritas harus benar dan tak tersesat. Pengalaman menunjukkan bahwa setelah keputusan dijalankan, mayoritas lalu berpendapat bahwa keputusannya sendiri ternyata salah. Bila setiap keputusan mayoritas benar, maka keputusannya yang pertama adalah salah, karena keputusan yang menganggapnya salah adalah juga dari mayoritas.&lt;br /&gt;Tentang pendapat bahwa untuk menghindari kekacauan maka tokoh-tokoh umat dibiarkan memilih siapa saja yang mereka sukai, di sini pun pergesekan dan pertengkaran akan merajalela. Karena, di sini juga pemusatan watak manusia untuk satu persetujuan tidaklah mesti, dan tidak dapat juga dikatakan bahwa mereka dapat mengatasi tujuan-tujuan pribadi mereka. Dalam kenyataannya di sini konflik dan benturan akan lebih kuat. Karena, kalau tidak semua, sekurang-kurangnya kebanyakan dari mereka ingin menjadi calon dan akan berusaha dengan segala daya untuk mengalahkan lawannya, dan membuka jalan yang sebaik-baiknya untuk dirinya. Akibat yang tidak dapat dihindarkan ialah pergumulan dan pergolakan.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, tidak mungkin menyingkirkan bencana dengan cara ini, dan ketimbang menemukan tokoh yang tepat, umat hanya akan jadi alat untuk me-menuhi ambisi pribadi orang lain. Lagi pula, bagaimana seharusnya tolok ukur orang yang akan memegang tampuk kekuasaan ini? Sebagaimana biasa, siapa saja yang dapat mengumpul beberapa pendukung dan mampu membuat geger dan ribut-ribut dalam suatu pertemuan dengan menggunakan kata-kata keras maka dialah yang dianggap paling tepat sebagai penguasa. Ataukah kemampuan seseorang juga akan dinilai? Bila penilaian kemampuan seseorang ditentukan juga dengan cara pemilihan umum seperti ini, maka kerumitan dan kekacauan serupa akan muncul. Bila ada patokan lain, maka sebagai ganti menilai para pemberi suara seperti itu, mengapa tidak menilai orang yang dipandang pantas untuk kedudukan itu? Selanjutnya berapa banyak tokoh yang dianggap cukup untuk mengambil keputusan? Jelas bahwa sekali patokan ini diambil maka hal ini akan jadi preseden, teladan dan contoh di masa mendatang, dan jumlah orang yang berwenang mengambil keputusan akan jadi patokan juga di masa depan. Qadhi al-'Ajali menulis:&lt;br /&gt;"Malah satu atau dua orang telah cukup menentukan terpilihnya pemimpin, karena kita tahu bahwa para ulama yang tegas dalam agama menganggap cukup pengangkatan Abu Bakar oleh 'Umar dan pengangkatan 'Utsman oleh 'Abdur-Rahman." (Syarh al-Mawaqif, h. 351)&lt;br /&gt;Beginilah riwayat "Pemilihan secara mufakat" di Saqifah Bani Sa'idah dan kegiatan Syura dalam pemilihan 'Utsman: tindakan satu orang telah diberi nama "pemilihan secara mufakat", dan perbuatan satu orang dinamakan majelis syura. Abu Bakar telah memahami kenyataan bahwa pemilihan berarti hanya satu atau dua suara yang akan diatributkan pada rakyat umum yang sederhana. Itulah sebabnya ia mengabaikan tuntutan dengan suara bulat, suara mayoritas atau metode pemilihan melalui majelis yang dipilih, dan ia sendiri mengangkat 'Umar. 'A'isyah pun memandang bahwa membiarkan masalah kekhalifahan pada suara beberapa individu berarti mengundang kekacauan dan kesulitan. la mengirimkan pesan kepada 'Umar menjelang matinya:&lt;br /&gt;"Jangan biarkan umat Islam tanpa pemimpin. Angkatlah seorang khalifah untuk itu dan jangan Anda tinggalkan umat tanpa pewenang, karena apabila tidak demikian saya melihat kekacauan dan kesulitan."&lt;br /&gt;Ketika pemilihan oleh orang yang berwenang terbukti gagal, hal itu ditinggalkan, dan hanya "kekuatan adalah kebenaran" yang menjadi ukurannya—yakni siapa saja yang menundukkan dan menguasai orang lain, diterima sebagai khalifah Nabi dan pelanjutnya yang sebenarnya. Ini prinsip buatan sendiri, padahal ada serangkaian hadis Nabi yang disampaikan pada "Pertemuan 'Asyirah", pada ma-lam Hijrah, pada Perang Tabuk, pada kesempatan menyampaikan surah al-Bara'ah (at-Taubah) dan di Ghadlr Khum. Yang aneh, setiap orang dari khalifah itu di-dasarkan pada pilihan individu, sementara pilihan Nabi sendiri ditolak! Padahal, penunjukan oleh Nabi adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri perselisihan, yakni bahwa Nabi sendiri yang semestinya menyelesaikan dan menyelamatkan umat dari kekacauan-kekacauan di masa depan dan menghindarkan pengambilan keputusan di tangan orang-orang yang terlibat dalam tujuan dan maksud-maksud pribadi. Ini prosedur yang tepat yang sesuai dengan nalar dan juga mendapat dukungan hadis-hadis Nabi yang tegas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt; Hayyan Ibnu Samin al-Hanafi al-Yamamah adalah kepala suku Bani Hanifah dan penguasa benteng dan tentara. Jabir adalah nama adiknya, sedang A'sya, yang nama sesungguhnya Malmun Ibnu Qais Ibnu Jandal, adalah sahabat karib dan hidup pantas dan bahagia atas kemurahannya. Dalam bait syair ini ia membandingkan kehidupannya sekarang ini dengan yang sebelumnya, yakni masa ketika ia berkelana mencari nafkah, dengan masa hidup berbahagia bersama Hayyan. Pada umumnya dianggap bahwa Amirul Mukminin mengutip bait ini untuk mem&amp;shy;bandingkan masanya yang kesusahan dengan masa-masa daMal yang dilaluinya dalam asuhan dan perlindungan Nabi, ketika ia bebas dari segala kerisauan dan menikmati kedaMalan mental. Tetapi, mengingat peristiwa ia membuat perbandingan ini, serta pokok bait syair itu, bukanlah penjelasan yang dicari-cari apabila itu dianggap menunjukkan perbedaan antara kedudukan yang tak penting dari orang-orang yang sekarang sedang berkuasa, di masa kehidupan Nabi, dan wewenang dan kekuasaan mereka sesudahnya; yakni, pada masa Nabi tiada perhatian diberikan kepada mereka, karena kepribadian Ali; tetapi, sekarang waktu telah berubah demikian rupa sehingga orang-orang itu menjadi penguasa dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt;[iv]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt; Ketika 'Umar terluka oleh Abu Lu'lu'ah dan ia melihat bahwa sulit baginya untuk hidup lebih lama lagi, karena luka yang parah itu, ia membentuk suatu komite musyawarah (Syura) dan menunjuk Ali Ibnu Abt Thalib, 'Utsman Ibnu 'Affan, 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf, Zubair Ibnu 'Awwam, Sa'id Ibnu Abi Waqqash dan Talhah Ibnu 'Ubaidillah, seraya mengikat mereka dengan ketentuan bahwa setelah tiga hari sesudah kematiannya, mereka harus memilih salah seorang di antara mereka sendiri sebagai khalifah, sementara untuk tiga hari itu Shuhaib akan bertindak sebagai khalifah sementara.&lt;br /&gt;Ketika menerima instruksi ini, beberapa orang bertanya kepadanya bagaimana pikirannya tentang setiap orang dari mereka itu, untuk memungkinkan mereka berlaku sesuai dengan sorotannya. Karenanya, 'Umar mengungkapkan pandangannya sendiri tentang setiap individu itu. Ia mengatakan bahwa Sa'd bertempramen kasar dan berkepala panas; 'Abdurrahman adalah Fir'aunnya umat; Zubair, apabila disenangkan, adalah seorang mukmin yang sebenarnya, tetapi apabila tidak disenangkan adalah seorang kafir; Thalhah adalah pengejawantahan kebanggaan dan kesombongan, yang apabila dijadikan khalifah ia akan memasang cincin kekhalifahan di jari istrinya, sedang 'Utsman tidak melihat melampaui keluarga-nya. Mengenai Ali, ia terpikat kekhalifahan, walalupun saya tahu hanya ia sendiri yang dapat melaksanakannya pada garis yang benar.&lt;br /&gt;Walaupun demikian pengakuannya, ia menganggap perlu untuk membentuk Syura itu, dan dalam memilih para anggotanya dan meletakkan prosedur kerjanya, ia meyakinkan bahwa kekhalifahan akan mengarah ke mana ia menginginkannya. Maka, seorang yang berkebijaksanaan biasa dapat mengambil kesimpulan bahwa semua faktor keberhasilan 'Utsman terdapat di dalamnya.&lt;br /&gt;Apabila kita perhatikan para anggotanya, kita lihat bahwa, pertama, 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf adalah suami saudara perempuan 'Utsman; berikutnya, Sa'd Ibnu AbT Waqqash, selain menaruh dengki terhadap Ali, adalah teman dan keluarga 'Abdur-Rahman; keduanya tak dapat diharapkan akan menentang 'Utsman.&lt;br /&gt;Yang ketiga, Thalhah Ibnu 'Ubaidillah yang tentangnya Muhammad 'Abduh menulis dalam anotasinya mengenai Nahjul Balaghah:&lt;br /&gt;"Thalhah cenderung kapada 'Utsman, dan sebabnya adalah tak kurang dari ia menentang Ali, karena ia sendiri seorang anggota suku Taim, dan naiknya Abu Bakar pada kekhalifahan telah menciptakan perseteruan antara Bani Taim dan Bani Hasyim."&lt;br /&gt;Mengenai Zubair, sekiranyapun ia memilih Ali, apa gunanya satu suara ini? Menurut pernyataan Thabari, Thalhah tidak hadir di Madinah pada waktu itu, tetapi absennya tidak menghalangi keberhasilan 'Utsman. Malah, sekiranyapun ia hadir, sebagaimana ia akhirnya datang ke Syura itu, dan ia dianggap pendukung Ali, tetap tidak akan meragukan keberhasilan 'Utsman, karena pikiran 'Umar yang cerdik telah menetapkan prosedur bahwa:&lt;br /&gt;"Apabila dua orang menyetujui yang satu, sedang yang dua orang lagi me-nyetujui seorang lainnya, maka 'Abdullah Ibnu 'Umar akan bertindak sebagai penengah. Kelompok yang diperintahkannya harus mamilih khalifah di antara mereka sendiri. Apabila mereka tidak menerima keputusan 'Abdullah Ibnu 'Dinar, maka dukungan harus diberikan kepada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf; tetapi, apabila yang lain-lainnya tidak menyetujuinya maka mereka harus dipancung kepalanya karena menentang ke&amp;shy;putusan ini." (Thabari, I, h. 2779-2780; Ibnu Atsir, III, h. 67)&lt;br /&gt;Di sini ketidaksepakatan dengan keputusan 'Abdullah Ibnu 'Umar tidak berarti apa-apa, karena ia diarahkan untuk mendukung kelompok yang meliputi 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf. la telah memerintahkan anaknya 'Abdullah, dan Shuhaib, bahwa:&lt;br /&gt;"Apabila orang-orang itu berselisih, Anda harus memihak kepada mayoritas; tetapi apabila ada tiga di antara mereka di satu sisi dan tiga di sisi lainnya, Anda harus memihak pada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf." (Thabari, jilid I, h. 2725, 2780; Ibnu AtsTr, jilid II, h. 51, 67)&lt;br /&gt;Dalam instruksi ini persetujuan mayoritas juga berarti mendukung 'Abdur-Rahman, sebab mayoritas tak mungkin memihak pada siapa pun lainnya, karena lima puluh pedang haus darah telah disiapkan terhadap kelompok lawan, dengan perintah untuk memancung kepala mereka atas keputusan 'Abdur-Rahman. Mata Amirul Mukminin telah membaca pada saat itu juga bahwa kekhalifahan akan berpindah kepada 'Utsman, sebagaimana nampak pada kata-kata berikut ini, yang disampaikannya kepada 'Abbas Ibnu 'Abdul Muththalib:&lt;br /&gt;"Kekhalifahan telah disingkirkan dari kami." 'Abbas bertanya bagaimana ia mengetahuinya. Lalu ia menjawab, '"Utsman juga telah disetarakan dengan saya, dan telah diatur bahwa mayoritas harus didukung; tetapi, apabila dua orang menyetujui yang satu, dan dua lagi menyetujui yang lain, maka dukung&amp;shy;an harus diberikan kepada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf. Nah, Sa'd akan mendukung saudara sepupunya 'Abdur-Rahman yang tentu saja adalah suami saudara perempuan 'Utsman." (ibid)&lt;br /&gt;Alhasil, setelah wafatnya 'Umar, pertemuan ini berlangsung di rumah 'A'isyah. Di pintunya berdiri Abu Thalhah al-Anshari dengan lima puluh orang yang telah menghunus pedang di tangannya. Thalhah memulai acara, dan seraya mengundang semua yang lain-lainnya untuk menyaksikan, ia berkata bahwa ia memberikan hak pilihnya kepada 'Utsman. Ini menyinggung harga diri Zubair karena ibunya Safiyyah putri 'Abdul Muthtalib adalah saudara perempuan ayah Nabi. Maka ia memberikan hak suaranya kepada Ali. Sesudah itu Sa'd Ibnu Abi Waqqash memberikan hak suaranya kepada 'Abdur-Rahman. Tinggal tiga anggota Syura yang belum memilih, di antaranya 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf yang mengatakan ia mau melepaskan haknya sendiri untuk dipilih apabila Ali a.s. dan 'Utsman memberikan hak kepadanya untuk memilih seseorang di antara mereka, atau salah satu di antara kedua orang ini harus mendapatkan hak memilih dengan jalan menarik diri dari pencalonan. Ini perangkap di mana Ali telah dilibat dari semua sisi, yakni ia harus meninggalkan haknya sendiri atau mengizinkan 'Abdur-Rah&amp;shy;man bertindak semaunya. Yang pertama tak mungkin baginya, yakni melepaskan haknya dan memilih 'Utsman atau 'Abdur-Rahman. Maka, ia berpegang pada haknya, sementara 'Abdur-Rahman melepaskan diri dari pencalonan itu lalu me-megang kekuasaan ini seraya berkata kepada Amirul Mukminin, "Saya membaiat Anda dengan syarat Anda mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan perilaku kedua Syeikh (Abu Bakar dan 'Umar)." Ali menjawab, "Akan mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan pendapat saya." Ketika ia memberikan jawaban yang sama seka-lipun pertanyaan itu telah diulang tiga kali, 'Abdur-Rahman berpaling kepada 'Utsman seraya berkata, "Apakah Anda menerima persyaratan ini?" 'Utsman tidak beralasan untuk menolak; maka ia menyetujui persyaratan itu, dan baiat pun dilakukan baginya. Ketika Amirul Mukminin melihat haknya terpijak-pijak demikian, ia berkata:&lt;br /&gt;"Ini bukan hari pertama Anda berlaku menentang kami. Saya hanya harus bersabar. Allah adalah Penolong terhadap segala yang Anda katakan. Demi Allah, Anda tidak membuat 'Utsman menjadi khalifah melainkan dengan harapan bahwa ia akan mengembalikan kekhalifahan kepada Anda."&lt;br /&gt;Setelah mencatat peristiwa Syura (komite musyawarah pengangkatan 'Utsman itu), Ibnu Abil Hadid menulis bahwa ketika pembaiatan telah dilakukan kepada 'Utsman, Ali menegur 'Utsman dan 'Abdur-Rahman dengan mengatakan, "Semoga Allah menaburkan benih perselisihan di antara Anda," dan demikian terjadinya sehingga keduanya bermusuhan sengit, dan 'Abdur-Rahman tak pernah lagi berbicara dengan 'Utsman hingga matinya. Bahkan di ranjang kematiannya ia memalingkan muka ketika melihat 'Utsman.&lt;br /&gt;Melihat peristiwa ini timbul pertanyaan, apakah Syura bermaksud membatasi urusan kepada enam orang, kemudian kepada tiga orang, dan akhirnya hanya pada satu orang saja? Juga, apakah syarat untuk mengikuti perilaku kedua Syeikh untuk kekhalifahan ditetapkan oleh 'Umar, atau hanya sekadar halangan yang diletakkan oleh 'Abdur-Rahman antara Ali a.s. dan kekhalifahan; khalifah yang per&amp;shy;tama tidak meletakkan syarat pada waktu mengangkat khalifah yang kedua, yakni bahwa ia harus mengikuti langkah-langkah khalifah yang pertama. Maka, apakah alasan untuk syarat itu di sini?&lt;br /&gt;Namun, Amirul Mukminin telah menyetujui untuk turut serta dalam Syura itu untuk menjauhkan bencana dan untuk menghentikan orang menggunakannya sebagai dalih, sehingga orang-orang lain dibungkamkan dan tak akan dapat meng-aku bahwa mereka sebenarnya akan memilih dia dan bahwa ia sendiri meng-elakkan komite musyawarah itu dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/003.htm#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt;[v]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt; Tentang pemerintahan khalifah yang ketiga itu, Arnirul Mukminin mengatakan bahwa scgera setelah ia berkuasa, Ban? Umayyah mendapatkan lahan dan mulai menjarahi Baitul Mal (perbendaharaan negara), dan seperti ternak melihat rumput hijau setelah musim kemarau, dengan sembrono mereka mcnyerbu uang milik Allah lalu melahapnya. Akhirnya keserakahan dan nepotisme ini membawa&amp;shy;nya ke tahap di mana rakyat mengepung rumahnya, membunuhnya dan membuatnya memuntahkan semua yang telah ditelannya.&lt;br /&gt;Malakelola pemerintahan yang terjadi dalam masa ini sedemikian rupa sehing&amp;shy;ga tiada seorang Muslim yang tak tergugah melihat para sahabat berkcdudukan tinggi dibiarkan terlantar, dilanda kemiskinan dan dikepung kemelaratan, sementara kekuasaan atas Baitul Mal berada di tangan Bani Umayyah, jabatan pemerintahan diduduki orang-orang muda mereka yang tak berpengalaman, hak-hak khusus kaum Muslim mereka kuasai, padang penggembalaan hanya untuk ternak mereka, rumah-rumah dibangun hanya untuk mereka, dan kebun-kebun hanya bagi mereka saja. Apabila ada seseorang merasa belas kasihan kepada orang lain lalu berbicara tentang pelanggaran batas-batas ini, ia diusir dari kota. Penggunaan zakat dan sedekah yang dimaksudkan untuk fakir miskin, dan Baitul Mal yang merupakan hak umum kaum Muslim, dapat dilihat pada gambaran berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;(1)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Hakam Ibnu Abil 'Ash yang telah diusir oleh Nabi dari Madinah, diizinkan kembali ke kota itu, bukan saja bertentangan dengan sunah Nabi tetapi juga bertentangan dengan perilaku kedua khalifah sebelumnya; ia bahkan diberi tiga ratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Ansāb al-Asyrāf, V, h. 27, 28, 125)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(2)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Walid Ibnu 'Uqbah yang telah dinaMal munafik dalam Qur'an, dibayari seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Al-'Iqd al-Farid, III, h. 94)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(3)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Khalifah itu mengawinkan anak perempunnya Umm Aban dengan Marwan Ibnu Hakam dan memberikan kepada Marwan seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 194-199)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(4)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; la mengawinkan anaknya 'A'isyah dengan Harits Ibnu Hakam dan mem&amp;shy;berikan kapada Harits seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (ibid)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;(5)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; 'Abdullah Ibnu Khalid diberi empat ratus ribu dirham. (Ibnu Qutaibah, Al-Ma'ārif, h. 84)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;(6)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; la memberikan hak atas khums (pajak keagamaan) dari Afrika, sejumlah lima ratus ribu dinar, kepada Marwan Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(7)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Kebun Fadak yang tidak diserahkan kepada putri Rasulullah Fathimah az-Zahra' berdasarkan alasan bahwa itu merupakan sedekah umum, diberikan sebagai hadiah kepada Marwan Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(8)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Mahzur, suatu tempat di area perdagangan Madinah, yang telah dimaklumkan sebagai milik umum oleh Nabi, dihadiahkan kepada Hants Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(9)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Di padang-padang sekitar Madinah, lak ada unta selain milik Bani Umayyah yang digembalakan. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 199)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(10)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Setelah meninggalnya ('Utsman), seratus lima puluh ribu dinar (mala uang mas) dan satu juta dirham (mata uang perak) terdapat di rumahnya. Tak ada batas tanah-tanah yang bebas pajak; dan nilai total harta perkebunan yang dimilikinya di Wadi al-Qura dan Hunain adalah seratus ribu dinar. Di sana terdapat unta dan kuda yang tak terhitung banyaknya. (Muruj adz-Dzahab,I, h. 435)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;(11)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; Famili-famili khalifah memerintah semua kota penting. Di Kuf'ah, Walid Ibnu 'Uqbah adalah gubernurnya. Tetapi ketika dalam keadaan mabuk anggur ia mengimami salat Subuh empat rakaat, bukannya dua, dan rakyat menggugat, la pun dipindahkan. Tetapi, khalifah menggantikkannya dengan seorang munafik, Sa'id bin al-'Ash. Di Mesir 'Abdullah Ibnu Sa'd Ibnu AbT Sarh, diSuriah Mu'awiah Ibnu Abi Sufyan, di Bashrah 'Abdullah Ibnu 'Amir.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-5961011860971419566?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/5961011860971419566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=5961011860971419566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/5961011860971419566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/5961011860971419566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/khotbah-3.html' title='KHOTBAH 3'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3VFJo_8QI/AAAAAAAAABA/_sRGszHDwMM/s72-c/Ya+Hussin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492560304000696372.post-1975858465923009336</id><published>2008-07-15T21:33:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T09:48:29.051-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SAYID SYARIF RADHI'/><title type='text'>NAHJUL BALAGHAH JILID 1</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3WXkE5KkI/AAAAAAAAABI/TlhdJJBSTMM/s1600-h/NB.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223566843129178690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3WXkE5KkI/AAAAAAAAABI/TlhdJJBSTMM/s400/NB.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH2Hy4Fm-RI/AAAAAAAAAAU/94ThLQKRKBk/s1600-h/NAHJUL+BALAGHAH.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223480450938763538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH2Hy4Fm-RI/AAAAAAAAAAU/94ThLQKRKBk/s400/NAHJUL+BALAGHAH.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#330033;"&gt;KUMPULAN SURAT &amp;amp; UCAPAN AMIRUL MUKMININ ALI BIN ABI THALIB as&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;﴾ بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;﴿&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#333333;"&gt;&lt;strong&gt;Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;PRAKATA PENYUSUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;Amma ba 'du, segala puji bagi Allah, yang menjadikan segala pujian itu patut bagi karunia-Nya, perlindungan terhadap hukuman-Nya, jalan ke surga-Nya, dan sarana untuk melipatgandakan perlakuan baik-Nya. Dan salawat atas Rasul-Nya, Nabi yang pengasih, suluh umat, yang terpilih dari sumber kebesaran dan keluarga yang lama terhormat, taman segala kemuliaan yang mengasyikkan dan cabang kemuliaan penuh buah dan daun, dan atas para anggota keluarganya yang merupakan lentera-lentera atas kegelapan, perlindungan umat, mercu agama yang gemerlapan dan panji tinggi kebesaran; semoga Allah mencurahkan kepada mereka semua rahmat yang sesuai dengan keutamaan mereka, sebagai pahala atas amal perbuatan mereka dan sesuai dengan kesucian keturunan mereka, selama fajar dan bintang-bintang bercahaya.&lt;br /&gt;Dalam usia remaja, saya mulai menulis buku tentang karakteristik para imam, yang meliputi riwayat tentang kebajikan dan karya-karya utama lisan mereka. Tujuan kompilasi ini telah saya nyatakan pada permulaan buku itu. Di dalamnya saya lengkapi bagian yang bertalian dengan keterangan tentang Amirul Mukminin Ali a.s., tetapi saya tak dapat melengkapi bagian tentang imam-imam lainnya karena halangan waktu. Saya membagi buku itu menjadi beberapa bab dan bagian, dan bagian terakhir terdiri dari ucapan-ucapan singkat Ali a.s., nasihat, kata mutiara dan peribahasa, tetapi bukan khotbah-khotbah panjang dan wacana mendetail.&lt;br /&gt;Sejumlah sahabat dan teman seiman saya, sementara merasa takjub akan ungkapan-ungkapannya yang halus dan indah, mengagumi isi bagian khusus ini, dan menginginkan saya menyempurnakan sebuah buku yang akan meliputi semua bentuk ungkapan Amirul Mukminin, termasuk aneka bahan seperti khotbah, surat, nasihat, akhlak, dan sebagainya, karena mereka yakin bahwa seluruh hasil karya itu akan merupakan hal yang menakjubkan dan mengejutkan tentang kefasihan dan retorika, permata-permata bahasa Arab dan ungkapan-ungkapan cemerlang tentang agama dan dunia —yang selama ini tak terkumpul dalam suatu buku dan tidak terdapat sekaligus dalam satu buku— karena Amirul Mukminin adalah sumber kefasihan (balāghah) dan mata air retorika. Melalui dia, kehalusan balāghah yang tersembunyi terungkap dan bersinar sehingga mudah dipelajari prinsip-prinsip dan aturan-aturannya. Setiap pembicara dan orator harus menyusuri jejak-jejaknya, dan setiap khatib yang fasih memanfaatkan ungkapan-ungkapannya.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, tiada yang dapat menyamainya; kredit sebagai yang pertama dan terutama tetap ada padanya. Ungkapan-ungkapannya membawa pencerminan pengetahuan Ilahi dan kelezatan ucapan-ucapan Nabi SAWW. Saya mengikuti permintaan mereka, karena saya tahu hal itu akan berarti pahala yang besar, reputasi yang lumayan dan suatu perbenda-haraan imbalan.&lt;br /&gt;Tujuan penyusunan ini ialah mengajukan kebesaran dan keunggulan Amirul Mukminin dalam seni retorika, selain sifat-sifat dan keutamaan yang tak terhitung dan tak terbilang, dan untuk menunjukkan bahwa ia telah menanjak ke puncak tertinggi prestasinya; ia adalah khas di antara para pendahulunya yang ucapan-ucapan mereka dikutip dari sana-sini, sedang ucapan-ucapan Ali sendiri merupakan arus sumber yang terus memancar sedemikian rupa, sehingga tak terhadang dan merupakan khazanah kehalusan yang tak bertara. Karena saya bangga akan jalur ke-turunan saya dari dia, saya merasa gembira mengutip puisi Farazdaq:&lt;br /&gt;"Inilah kakek datukku, wahai Jarir!&lt;br /&gt;Dapatkah Anda mengklaim semisalnya, bila kita bertemu?&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/moqadame.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan saya, ungkapan-ungkapan Amirul Mukminin dapat dibagi dalam tiga kelompok; pertama, Khotbah-khotbah dan Perintah, yang kedua Surat-surat, dan yang ketiga Kata-kata Mutiara dan Nasihat. Atas izin Allah, saya telah memutuskan untuk mula-mula menyusun Khotbah-khotbah, kemudian Surat-surat, dan akhirnya Kata-kata Mutiara dan Nasihat, sambil menyediakan suatu bab tersendiri untuk setiap kelompok, dengan meninggalkan halaman-halaman kosong di antara setiap bagian, sehingga apabila ada sesuatu yang tertinggal, dan kemudian diperoleh, dapat disisipkan ke dalamnya, sementara setiap ucapan yang rutin atau sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, atau mengandung tujuan yang tidak sesuai dengan setiap pembagiannya, harus dimasukkan dalam kelompok yang paling cocok baginya atau yang pokok persoalannya paling dekat. Dalam kompilasi ini, menyisip masuknya beberapa bagian dan kalimat telah menyebabkan susunannya terasa kacau dan tak tertib. Ini disebabkan karena saya hanya mengumpul ucapan-ucapan cemerlang yang paling representatif, tanpa mengharapkan akan menyusunnya secara teratur.&lt;br /&gt;Keutamaan Amirul Mukminin&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/moqadame.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt; yang tidak tertandingi dan tiada yang menyamainya ialah bahwa ucapan-ucapannya tentang ketakwaan, kesalehan, ingatan kepada Allah dan nasihat adalah sedemikian, sehingga bilamana orang mengkajinya tanpa mengingat bahwa ucapan-ucapan itu adalah kata-kata orang yang mempunyai kedudukan besar dan berkuasa serta yang mengendalikan nasib manusia, ia tidak mungkin akan ragu bahwa semua kata-kata itu adalah ucapan orang yang tidak menaruh perhatian kepada apa pun selain kepertapaan, dan tidak ada kegiatan lain kecuali beribadat, yang terlingkup dan terbatas di dalam suatu rumah atau gua di suatu pegunungan di mana ia tidak mendengar apa pun selain gumannya sendiri dan tidak melihat selain dirinya sendiri. la tak akan percaya bahwa kata-kata ini adalah ucapan seseorang yang terjun dalam pertempuran-peitempuran dengan pedang terhunus yang memancung kepala dan menaklukkan para pahlawan musuh, dan kembali dengan pedangnya yang berlumur darah dan cairan hati. Dan meskipun demikian, ia unggul di antara para pertapa dan kepala orang-orang suci. Keistimewaan ini adalah satu dari keutamaan Amirul Mukminin yang mencengangkan, dan dengan itu ia mengumpulkan dalam dirinya sendiri sifat-sifat yang berlawanan dan memadukan aneka ragam kebesaran. Saya sering menyebutkan ini kepada saudara-saudara seiman saya, dan menyebabkan mereka takjub. Sungguh topik ini memang wajar jadi bahan renungan dan pertimbangan.&lt;br /&gt;Dalam kompilasi ini terdapat beberapa ulangan kata-kata atau subjek karena ucapan Amirul Mukminin dikenal sehubungan dengan berbagai bentuk. Kadang-kadang suatu ucapan tertentu terdapat dalam suatu bentuk tertentu dan disalin dalam bentuk itu juga. Sesudah itu, ucapan yang sama terdapat dalam riwayat lain, entah dengan tambahan yang sesuai atau dalam gaya yang lebih menarik. Dalam hal semacam itu, dengan maksud untuk melanjutkan tujuan kompilasi dan untuk memelihara ucapan indah agar tak hilang, diputuskan untuk mengulanginya di bagian lain. Juga terjadi bahwa suatu ucapan tertentu yang telah muncul sebelumnya, tetapi karena keterpencilannya, dimasukkan lagi. Ini karena ketinggalan, bukan disengaja.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, saya tidak mengklaim bahwa saya telah mengumpulkan ungkapan-ungkapan Amirul Mukminin dari semua sumber dan bahwa tak ada suatu kalimat atau konstruksi bagaimanapun yang telah tertinggal. Sesungguhnya saya tidak mengabaikan kemungkinan bahwa yang tertinggal mungkin lebih banyak dari yang telah saya kumpulkan, dan yang saya ketahui dan saya gunakan jauh kurang dari apa yang tertinggal di luar capaian saya. Tugas saya ialah menelusuri sekuat kuasa saya, dan pertolongan Allah jualah yang akan memudahkan jalan dan membimbing saya ke tujuan itu, insya Allah.&lt;br /&gt;Setelah selesai pekerjaan saya dalam pengumpulan dan penyusunan naskah ini maka judul yang sesuai baginya adalah Nahjul Balāghah, Jalan Kefasihan, karena buku ini akan membukakan pintu kefasihan bagi pembaca dan menyingkatkan pendekatan kepadanya, sedang para sarjana dan siswa akan dapat memenuhi kebutuhannya, sementara ahli retorika maupun pertapa akan mendapatkan pula tujuan-tujuan mereka di dalamnya. Dalam buku ini terdapat wacana yang mengagumkan tentang Keesaan Allah, Keadilan-Nya dan Kesucian-Nya dari jasad dan bentuk, yang akan menghilangkan setiap dahaga (akan pengetahuan), memberikan obat bagi setiap penyakit (kekafiran) dan menyingkirkan setiap keraguan. Saya memohon kepada Allah taufik, perlindungan, dan pertolongannya. Saya memohon perlindungan-Nya terhadap kesalahan hati sebelum kesalahan lidah, dan terhadap kekeliruan bicara sebelum kekeliruan berbuat. Dialah tempat pergantungan saya dan Dialah sandaran saya yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/moqadame.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt; Farazdaq, yang nama aslinya Hammān bin Ghālib, termasuk suku Bani Dārim, adalah seorang penyair terkenal. la biasa bertentangan dengan seorang penyair Arab lainnya yang bernama Jarir bin 'Athiyyah, dan mereka hanya menunjukkan keutamaan masing-masing dalam hal saling mencerca dan menyombong. Syair yang dikutip dari Farazdaq itu adalah satu mata rantai dari rangkaian di mana ia menyampaikan kepada Jarir dengan mengatakan, "Kakek moyangku adalah seperti yang baru Anda dengar itu; sekarang majukanlah kakek moyang Anda, dan apabila ada di antaranya seperti moyang saya, sebutkanlah nama mereka di hadapan kami semua." Dengan mengutipkan kuplet tentang kakek moyangnya sendiri ini, Sayid Radhī menantang setiap orang untuk mengajukan yang serupa dengan mereka, bila ada. Al-Farazdaq hanya mengalamatkannya kepada Jarir, tetapi kutipan itu, di sini, telah menjadi umum dan universal, di mana alamatnya bukan lagi seorang individu, tetapi setiap orang dapat menganggap dirinya sebagai yang ditantang. Walaupun bersifat umum dan universal, tantangan "untuk menyebutkan yang serupa itu" tetap tak bersambut, sebagaimana tantangan Al Quran untuk "mengajukan yang seperti itu."&lt;br /&gt;Sayid Radhi menuding hubungan dan keutamaan ini pada saat yang amat tepat; tak ada kesempatan yang lebih baik dari itu, karena kebesaran pribadi Amirul Mukminin yang dibanggakan telah disebutkan dan mata telah terpukau dan silau pada kecerlangan statusnya, sementara pikiran telah mengakui kemuliaan posisinya. Sekarang hati dengan mudahnya dapat disuruh tunduk di hadapan ketinggian dan kebesaran individu yang bertalian dengannya. Dengan demikian, ketika hati dan pikiran telah cenderung, mata Sayid Radhi yang sadar sastra memalingkan pemandangan kepada dirinya sendiri, karena ia adalah percikan sinar matahari yang limpahan cahayanya menyilaukan mata, dan puncak dari pohon keturunan langsung yang akarnya di bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Nah, siapa yang tidak akan terpengaruh oleh hubungan dan keutamaan ini, dan tak mau mengakui kebesaran dan kemuliaannya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.al-shia.com/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/moqadame.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#999999;"&gt; Di Dunia, jarang didapat orang yang memiliki selain satu atau dua sifat bajik, sifat-sifat lain juga menonjol; jauh lebih langka lagi orang yang merupakan pusat pertemuan semua sifat-sifat yang saling berlawanan, karena setiap temperamen tidak sesuai dengan perkembangan setiap sifat, masing-masing sifat mempunyai tempo tertentu, dan masing-masing kebajikan membutuhkan iklim tertentu, dan hanya sesuai untuk sifat-sifat atau kebajikan yang sesuai dengannya, tetapi di mana ada kontradiksi ketimbang harmoni, kecenderungan alaminya menjadi penghalang dan tidak memperkenankan setiap sifat lainnya untuk tumbuh. Misalnya, kemurahan hati dan kedermawanan menuntut agar seseorang menaruh rasa kasihan dan takwa sehingga bila melihat orang dalam kemiskinan atau kekurangan, hatinya terasa pedih, perasaannya terganggu atas kesengsaraan orang lain. Padahal ketimbang belas kasihan, keberanian dan peperangan menuntut adanya nafsu untuk menumpahkan darah dan membunuh, yang mendorong orang itu masuk ke dalam pertempuran, siap membunuh atau dibunuh. Kedua sifat ini berbeda demikian jauhnya sehingga tidak mungkin memadukan kehalusan dari kemurahan hati ke dalam manifestasi kaku keberanian, sebagaimana keberanian tak dapat diharapkan dari Hatim dan kemurahan hati dari Rustam.&lt;br /&gt;Tetapi, kepribadian Ali bin Abi Thalib a.s. menunjukkan kesesuaian penuh dengan setiap kebesaran, dan selaras sempurna dengan setiap prestasi; tidak ada atribut atau prestasi baik yang tidak ada padanya, tiada jubah kebesaran atau keindahan yang tidak sesuai pada dirinya. Sifat-sifat kemurahan hati dan keberani&amp;shy;an yang saling bertentangan terdapat pada dirinya berdamping-dampingan. la menghujan seperti awan dalam kemurahan, ia juga berjuang dengan gagah berani, berdiri dengan kukuhnya bagaikan gunung. Kemurahan hati dan kedermawanan wataknya adalah demikian tingginya sehingga bahkan dalam hari-hari kesusahan dan kelaparan, sebagian besar dari apa saja yang diterimanya sebagai upah kerja kerasnya sehari-hari, dibagi-bagikan di kalangan fakir miskin dan orang yang lapar, dan tak pernah ia membiarkan seorang pengemis meninggalkan pintu rumahnya dengan kecewa.&lt;br /&gt;Demikian berani dan perkasanya sehingga serangan tentara tak dapat menggoyahkan keteguhan kakinya. Ia menang dalam setiap pertempuran; bahkan pejuang yang paling berani tak dapat menyelamatkan nyawanya dalam pertarungan dengan dia. Maka Ibnu Qutaibah menulis dalam Al-Ma'ārif, "Siapa saja yang dihadapinya, tidak berdaya." Orang-orang yang memiliki watak ganas karena keberanian tidak biasa berpikir atau merenung, tidak pula ada kaitannya dengan pandangan dan penilaian jauh, tetapi Ali a.s. mempunyai sifat pemikiran yang derajatnya paling tinggi. Itulah sebabnya maka Asy-Syafi'i mengatakan:&lt;br /&gt;"Apakah yang dapat kukatakan tentang orang yang dalam dirinya terdapat tiga sifat dengan tiga sifat lainnya, yang tak pernah terdapat bersama-sama dalam diri siapa pun lainnya: kemurahan hati dengan kesusahan, keberanian dengan kebijaksanaan, dan ilmu pengetahuan dengan prestasi amaliah."&lt;br /&gt;Karena hasil pemikirannya yang tepat dan penilaian yang benar maka setelah wafatnya Nabi, ketika orang menasihatinya untuk berperang sambil menjanjikan akan memberikan tentara untuknya, ia menolak nasihat itu. Padahal dalam kesempatan semacam itu dukungan kecil saja pun cukup untuk mendorong orang pemberani tanpa hati; namun pikiran Ali a.s. yang menjangkau jauh segera melihat bahwa apabila pertempuran dilakukan pada saat itu, maka suara Islam akan tenggelam di dalam gemerincing pedang, dan sekalipun kemenangan tercapai, akan dikatakan bahwa kedudukan itu tercapai hanya dengan pedang dan tidak ada hak di dalamnya. Jadi, dengan menahan pedangnya, di satu sisi ia menyediakan perlindungan bagi Islam dan di sisi lainnya ia memnyelamatkan haknya sendiri agar tidak pupus oleh pertumpahan darah.&lt;br /&gt;Bilamana nadi penuh dengan darah berani dan hati penuh dengan api kemarahan dan keberangan, luar biasa sulitnya mengendalikan hawa nafsu balas dendam dengan mengambil jalan memaafkan. Dengan adanya wewenang dan kekuatan, betapa sulitnya memaafkan. Tetapi watak Ali a.s. biasa bersinar pada saat-saat seperti itu; watak pemaafnya bahkan meliputi musuh-musuhnya yang haus darah. Maka, pada akhir Pertempuran Jamal ia membuat maklumat umum bahwa siapa pun yang meninggalkan medan atau mencari perlindungan padanya tidak akan dianiaya; ia membebaskan musuh-musuhnya seperti Marwan bin Hakam dan Abdullah bin Zubair. Dan perlakuannya terhadap ‘Aisyah merupakan manifestasi tanpa tandingan dari kemuliaan dan ketinggian pribadinya --walaupun permusuhan dan pemberontakan ‘Aisyah terang-terangan ditujukan kepadanya--, ia mengirim wanita-wanita berpakaian pria untuk mengawalnya ke Madinah.&lt;br /&gt;Dengan membusanai kedengkian pribadinya sendiri dengan jubah perbedaan mendasar, seseorang bukan saja menipu orang lain tetapi juga membiarkan dirinya sendiri tertipu. Dalam kondisi-kondisi ini situasi yang peka akan timbul sehingga ia tak dapat membedakan dan memisahkan kedengkian pribadinya dengan jubah beda pendapat yang mendasar dan dengan mudahnya mencampuradukkannya, menganggap bahwa ia telah mengikuti perintah Allah, dan dengan jalan ini ia memuaskan dirinya untuk membalas dendam pula. Tetapi, mata Amirul Mukminin yang tajam tak pernah tertipu, tak pernah pula menipu dirinya sendiri. Pada suatu kesempatan, setelah melumpuhkan lawan dalam perang landing, ketika ia menindih dada orang yang telah ditaklukkannya, musuh itu meludahi wajahnya. Sebagai manusia, kemarahannya tentulah bangkit dan tangannya akan bergerak lebih cepat; tetapi, ketimbang mengumbar keberangannya, ia melepaskan lelaki itu agar tindakannya jangan dinodai sentimen pribadi, dan baru membunuhnya setelah kemarahannya mereda.&lt;br /&gt;Tidak ada persamaan dalam pertempuran dan pertarungan dengan kezuhudan dan ketakwaan, karena yang satu menunjukkan keberanian dan keperkasaan, sementara yang lainnya permohonan doa dan penyerahan. Tetapi, Amirul Mukminin merupakan kombinasi unik dari kedua sifat ini. Tangannya yang terikat pada peribadatan sangat aktif di medan tempur, zahid dalam ibadah, mujahid yang giat di medan juang. Pemandangan pada Malam Harir (di Shiffin) membuat akal manusia tercengang dan kagum. Sambil menutup matanya terhadap keganasan di sekitar, ia membeberkan sajadahnya dan menekunkan diri dalam salat dengan penuh kedamaian pikiran dan hati; sementara anak panah sering melayang di atas kepala dan kiri kanannya, ia tetap dalam zikir kepada Allah tanpa takut atau cemas. Setelah menyelesaikan salatnya, ia mengulurkan tangan ke gagang pedang dan terjun ke kancah pertempuran sengit yang tiada taranya dalam sejarah. Keadaan di sekitarnya demikian seru dengan tempik sorak dan jerit serta kegiatan orang yang melarikan diri sehingga bahkan suara-suara yang sampai ke telinga tak dapat dibedakan. Selang sesaat, seruan Allahu Akbar-nya. sendiri mengumandang ke angkasa dan bergema di telinga, dan setiap seruan itu berarti tewasnya seorang musuh. Orang-orang yang menghitung seruan-seruan takbir itu mencatat jumlah sebanyak 523 seruan.&lt;br /&gt;Selera untuk belajar dan mengenal Allah tidak terpadu dengan kegiatan material, tetapi Amirul Mukminin menghiasi majelis-majelis ilmu pengetahuan bersama dengan pertempuran di medan juang; ia mengairi lahan Islam dengan sumber pengetahuan dan kebenaran bersama darah dalam pertempuran.&lt;br /&gt;Di mana terdapat kesempurnaan pengetahuan, pastilah terdapat kekurangan tindakan. Tetapi Amirul Mukminin sama melangkah dalam lapangan pengetahuan dan tindakan amaliah, sebagaimana telah disebutkan dalam syair Asy-Syafi'i di atas.&lt;br /&gt;Misal keselarasan ucapan dan tindakan sangatlah langka, tetapi tindakan Amirul Mukminin mendahului ucapannya, seperti dikatakannya sendiri:&lt;br /&gt;"Wahai, manusia, saya tidak menyuruh Anda melakukan suatu tindakan, melainkan mula-mula saya sendiri melakukannya mendahului Anda; saya tidak akan mencegah Anda dari sesuatu melainkan saya mencegahnya dahulu dari diri saya."&lt;br /&gt;Begitu kita berpikir tentang seorang zahid dan saleh maka kita membayangkan wajah berkerut, karena bagi kesalehan, kekakuan dan kekerasan wajah tak terpisahkan, sehingga membayangkan senyuman di bibir seorang saleh dipandang sebagai dosa. Tetapi, walaupun amat saleh dan zahid, wajah Amirul Mukminin selalu cerah. Kecerahan dan keceriaan wajah selalu nampak pada pandangannya, bibirnya selalu tersenyum. la tak pernah memperlihatkan kerutan di dahinya sebagaimana pertapa yang kering, sehingga bila ada orang tak dapat menemukan suatu cacat padanya maka kecerahan wajah ini justru dipandang sebagai kc-salahannya.&lt;br /&gt;Apabila seseorang berhati ceria dan berwajah gembira, ia tak dapat berkuasa atas orang lain; tetapi, wajah gembira Amirul Mukminin demikian penuh pesona dan keanggunan sehingga tiada mata yang dapat menantangnya. Sekali Mu'awiah secara menggoda mengatakan, "Allah memberkati Ali. la lelaki yang berselara ceria." Lalu Qais bin Sa'd menjawab, "Demi Allah, walaupun bersikap ceria dan berwajah menghibur, ia lebih mempesona dari singa lapar, dan pesona ini di-sebabkan oleh kesalehannya, bukan seperti ketakutan rakyat jelata Suriah kepada Anda."&lt;br /&gt;Di mana ada pemerintahan dan wewenang, di situ ada kelimpahan pelayan dan peralatan mewah, pertanda kebesaran dan kemenonjolan, tetapi masa pemerintahan Amirul Mukminin adalah contoh puncak kesederhanaan. Padanya hanya ada serban yang lusuh sebagai ganti mahkota raja, pakaian bertambalan sebagai ganti jubah kerajaan, dan lantai tanah sebagai ganti mahligai. la tak pernah menyukai kemewahan dan pertunjukan kebesaran lahiriah. Sekali ia sedang lewat berkuda ketika Harb bin Syurahbil ikut berjalan kaki di sampingnya. Amirul Mukminin berkata kepadanya, "Kembalilah, karena berjalan kaki dengan saya (yang berkuda), bagi orang seperti Anda, adalah jelek bagai seorang pemerintah (seperti saya) dan hinaan kepada seorang mukmin (seperti Anda).&lt;br /&gt;Singkatnya, ia pribadi yang demikian cakap dalam berbagai bidang di mana banyak sifat-sifat saling berlawanan tergabung, dan semua atribut yang baik terpusat dalam kecerlangan penuhnya, seakan-akan diri tunggalnya merupakan koleksi beberapa diri, setiap diri adalah potret prestasi yang sangat mengherankan, yang selanjutnya menunjukkan gambaran keutamaan dalam bentuknya yang tak bertara, dan terhadap prestasinya orang kagum dan tercengang.&lt;br /&gt;Seorang penyair Persia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#ffffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#6666cc;"&gt;&lt;em&gt;"Wajah kekasihku demikian cantik,&lt;br /&gt;Ketika kupandang dari kepala ke kaki,&lt;br /&gt;Setiap bagian mengundang perhatian,&lt;br /&gt;Mengaku yang paling memikat&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;."&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;color:#333333;"&gt;&lt;em&gt;KHOTBAH 1&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#999999;"&gt;Dalam khotbah ini ia menggambarkan penciptaan bumi dan langit serta kelahiran Adam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000000;"&gt;اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلَّذِي لاَ يَبْلُغُ مِدْحَتَهُ اَلْقَائِلُونَ وَ لاَ يُحْصِي نَعْمَاءَهُ اَلْعَادُّونَ وَ لاَ يُؤَدِّي حَقَّهُ اَلْمُجْتَهِدُونَ اَلَّذِي لاَ يُدْرِكُهُ بُعْدُ اَلْهِمَمِ وَ لاَ يَنَالُهُ غَوْصُ اَلْفِطَنِ اَلَّذِي لَيْسَ لِصِفَتِهِ&lt;br /&gt;حَدٌّ مَحْدُودٌ وَ لاَ نَعْتٌ مَوْجُودٌ وَ لاَ وَقْتٌ مَعْدُودٌ وَ لاَ أَجَلٌ مَمْدُودٌ فَطَرَ اَلْخَلاَئِقَ بِقُدْرَتِهِ وَ نَشَرَ اَلرِّيَاحَ بِرَحْمَتِهِ وَ وَتَّدَ بِالصُّخُورِ مَيَدَانَ أَرْضِهِ أَوَّلُ اَلدِّينِ مَعْرِفَتُهُ وَ كَمَالُ مَعْرِفَتِهِ اَلتَّصْدِيقُ بِهِ وَ كَمَالُ اَلتَّصْدِيقِ بِهِ تَوْحِيدُهُ وَ كَمَالُ تَوْحِيدِهِ اَلْإِخْلاَصُ لَهُ وَ كَمَالُ اَلْإِخْلاَصِ لَهُ نَفْيُ اَلصِّفَاتِ عَنْهُ لِشَهَادَةِ كُلِّ صِفَةٍ أَنَّهَا غَيْرُ اَلْمَوْصُوفِ وَ شَهَادَةِ كُلِّ مَوْصُوفٍ أَنَّهُ غَيْرُ اَلصِّفَةِ فَمَنْ وَصَفَ اَللَّهَ سُبْحَانَهُ فَقَدْ قَرَنَهُ وَ مَنْ قَرَنَهُ فَقَدْ ثَنَّاهُ وَ مَنْ ثَنَّاهُ فَقَدْ جَزَّأَهُ وَ مَنْ جَزَّأَهُ فَقَدْ جَهِلَهُ وَ مَنْ جَهِلَهُ فَقَدْ أَشَارَ إِلَيْهِ وَ مَنْ أَشَارَ إِلَيْهِ فَقَدْ حَدَّهُ وَ مَنْ حَدَّهُ فَقَدْ عَدَّهُ وَ مَنْ قَالَ فِيمَ فَقَدْ ضَمَّنَهُ وَ مَنْ قَالَ عَلاَ مَ فَقَدْ أَخْلَى مِنْهُ كَائِنٌ لاَ عَنْ حَدَثٍ مَوْجُودٌ لاَ عَنْ عَدَمٍ مَعَ كُلِّ شَيْ‏ءٍ لاَ بِمُقَارَنَةٍ وَ غَيْرُ كُلِّ شَيْ‏ءٍ لاَ بِمُزَايَلَةٍ فَاعِلٌ لاَ بِمَعْنَى اَلْحَرَكَاتِ وَ اَلْآلَةِ بَصِيرٌ إِذْ لاَ مَنْظُورَ إِلَيْهِ مِنْ خَلْقِهِ مُتَوَحِّدٌ إِذْ لاَ سَكَنَ يَسْتَأْنِسُ بِهِ وَ لاَ يَسْتَوْحِشُ لِفَقْدِهِ خلق العالم أَنْشَأَ اَلْخَلْقَ إِنْشَاءً وَ اِبْتَدَأَهُ اِبْتِدَاءً بِلاَ رَوِيَّةٍ أَجَالَهَا وَ لاَ تَجْرِبَةٍ اِسْتَفَادَهَا وَ لاَ حَرَكَةٍ أَحْدَثَهَا وَ لاَ هَمَامَةِ نَفْسٍ اِضْطَرَبَ فِيهَا أَحَالَ اَلْأَشْيَاءَ لِأَوْقَاتِهَا وَ لَأَمَ بَيْنَ مُخْتَلِفَاتِهَا وَ غَرَّزَ غَرَائِزَهَا وَ أَلْزَمَهَا أَشْبَاحَهَا عَالِماً بِهَا قَبْلَ اِبْتِدَائِهَا مُحِيطاً بِحُدُودِهَا وَ اِنْتِهَائِهَا عَارِفاً بِقَرَائِنِهَا وَ أَحْنَائِهَا ثُمَّ أَنْشَأَ سُبْحَانَهُ فَتْقَ اَلْأَجْوَاءِ وَ شَقَّ اَلْأَرْجَاءِ وَ سَكَائِكَ اَلْهَوَاءِ فَأَجْرَى فِيهَا مَاءً مُتَلاَطِماً تَيَّارُهُ مُتَرَاكِماً زَخَّارُهُ حَمَلَهُ عَلَى مَتْنِ اَلرِّيحِ اَلْعَاصِفَةِ وَ اَلزَّعْزَعِ اَلْقَاصِفَةِ فَأَمَرَهَا بِرَدِّهِ وَ سَلَّطَهَا عَلَى شَدِّهِ وَ قَرَنَهَا إِلَى حَدِّهِ اَلْهَوَاءُ مِنْ تَحْتِهَا فَتِيقٌ وَ اَلْمَاءُ مِنْ فَوْقِهَا دَفِيقٌ ثُمَّ أَنْشَأَ سُبْحَانَهُ رِيحاً اِعْتَقَمَ مَهَبَّهَا وَ أَدَامَ مُرَبَّهَا وَ أَعْصَفَ مَجْرَاهَا وَ أَبْعَدَ مَنْشَأَهَا فَأَمَرَهَا بِتَصْفِيقِ اَلْمَاءِ اَلزَّخَّارِ وَ إِثَارَةِ مَوْجِ اَلْبِحَارِ فَمَخَضَتْهُ مَخْضَ اَلسِّقَاءِ وَ عَصَفَتْ بِهِ عَصْفَهَا بِالْفَضَاءِ تَرُدُّ أَوَّلَهُ إِلَى آخِرِهِ وَ سَاجِيَهُ إِلَى مَائِرِهِ حَتَّى عَبَّ عُبَابُهُ وَ رَمَى بِالزَّبَدِ رُكَامُهُ فَرَفَعَهُ فِي هَوَاءٍ مُنْفَتِقٍ وَ جَوٍّ مُنْفَهِقٍ فَسَوَّى مِنْهُ سَبْعَ سَمَوَاتٍ جَعَلَ سُفْلاَهُنَّ مَوْجاً مَكْفُوفاً وَ عُلْيَاهُنَّ سَقْفاً مَحْفُوظاً وَ سَمْكاً مَرْفُوعاً بِغَيْرِ عَمَدٍ يَدْعَمُهَا وَ لاَ دِسَارٍ يَنْظِمُهَا ثُمَّ زَيَّنَهَا بِزِينَةِ اَلْكَوَاكِبِ وَ ضِيَاءِ اَلثَّوَاقِبِ وَ أَجْرَى فِيهَا سِرَاجاً مُسْتَطِيراً وَ قَمَراً مُنِيراً فِي فَلَكٍ دَائِرٍ وَ سَقْفٍ سَائِرٍ وَ رَقِيمٍ مَائِرٍ خلق الملائكة ثُمَّ فَتَقَ مَا بَيْنَ اَلسَّمَوَاتِ اَلْعُلاَ فَمَلَأَهُنَّ أَطْوَاراً مِنْ مَلاَئِكَتِهِ مِنْهُمْ سُجُودٌ لاَ يَرْكَعُونَ وَ رُكُوعٌ لاَ يَنْتَصِبُونَ وَ صَافُّونَ لاَ يَتَزَايَلُونَ وَ مُسَبِّحُونَ لاَ يَسْأَمُونَ لاَ يَغْشَاهُمْ نَوْمُ اَلْعُيُونِ وَ لاَ سَهْوُ اَلْعُقُولِ وَ لاَ فَتْرَةُ اَلْأَبْدَانِ وَ لاَ غَفْلَةُ اَلنِّسْيَانِ وَ مِنْهُمْ أُمَنَاءُ عَلَى وَحْيِهِ وَ أَلْسِنَةٌ إِلَى رُسُلِهِ وَ مُخْتَلِفُونَ بِقَضَائِهِ وَ أَمْرِهِ وَ مِنْهُمُ اَلْحَفَظَةُ لِعِبَادِهِ وَ اَلسَّدَنَةُ لِأَبْوَابِ جِنَانِهِ وَ مِنْهُمُ اَلثَّابِتَةُ فِي اَلْأَرَضِينَ اَلسُّفْلَى أَقْدَامُهُمْ وَ اَلْمَارِقَةُ مِنَ اَلسَّمَاءِ اَلْعُلْيَا أَعْنَاقُهُمْ وَ اَلْخَارِجَةُ مِنَ اَلْأَقْطَارِ أَرْكَانُهُمْ وَ اَلْمُنَاسِبَةُ لِقَوَائِمِ اَلْعَرْشِ أَكْتَافُهُمْ نَاكِسَةٌ دُونَهُ أَبْصَارُهُمْ مُتَلَفِّعُونَ تَحْتَهُ بِأَجْنِحَتِهِمْ مَضْرُوبَةٌ بَيْنَهُمْ وَ بَيْنَ مَنْ دُونَهُمْ حُجُبُ اَلْعِزَّةِ وَ أَسْتَارُ اَلْقُدْرَةِ لاَ يَتَوَهَّمُونَ رَبَّهُمْ بِالتَّصْوِيرِ وَ لاَ يُجْرُونَ عَلَيْهِ صِفَاتِ اَلْمَصْنُوعِينَ وَ لاَ يَحُدُّونَهُ بِالْأَمَاكِنِ وَ لاَ يُشِيرُونَ إِلَيْهِ بِالنَّظَائِرِ صفة خلق آدم عليه السلام ثُمَّ جَمَعَ سُبْحَانَهُ مِنْ حَزْنِ اَلْأَرْضِ وَ سَهْلِهَا وَ عَذْبِهَا وَ سَبَخِهَا تُرْبَةً سَنَّهَا بِالْمَاءِ حَتَّى خَلَصَتْ وَ لاَطَهَا بِالْبَلَّةِ حَتَّى لَزَبَتْ فَجَبَلَ مِنْهَا صُورَةً ذَاتَ أَحْنَاءٍ وَ وُصُولٍ وَ أَعْضَاءٍ وَ فُصُولٍ أَجْمَدَهَا حَتَّى اِسْتَمْسَكَتْ وَ أَصْلَدَهَا حَتَّى صَلْصَلَتْ لِوَقْتٍ مَعْدُودٍ وَ أَمَدٍ مَعْلُومٍ ثُمَّ نَفَخَ فِيهَا مِنْ رُوحِهِ فَمَثُلَتْ إِنْسَاناً ذَا أَذْهَانٍ يُجِيلُهَا وَ فِكَرٍ يَتَصَرَّفُ بِهَا وَ جَوَارِحَ يَخْتَدِمُهَا وَ أَدَوَاتٍ يُقَلِّبُهَا وَ مَعْرِفَةٍ يَفْرُقُ بِهَا بَيْنَ اَلْحَقِّ وَ اَلْبَاطِلِ وَ اَلْأَذْوَاقِ وَ اَلْمَشَامِّ وَ اَلْأَلْوَانِ وَ اَلْأَجْنَاسِ مَعْجُوناً بِطِينَةِ اَلْأَلْوَانِ اَلْمُخْتَلِفَةِ وَ اَلْأَشْبَاهِ اَلْمُؤْتَلِفَةِ وَ اَلْأَضْدَادِ اَلْمُتَعَادِيَةِ وَ اَلْأَخْلاَطِ اَلْمُتَبَايِنَةِ مِنَ اَلْحَرِّ وَ اَلْبَرْدِ وَ اَلْبَلَّةِ وَ اَلْجُمُودِ وَ اِسْتَأْدَى اَللَّهُ سُبْحَانَهُ اَلْمَلاَئِكَةَ وَدِيعَتَهُ لَدَيْهِمْ وَ عَهْدَ وَصِيَّتِهِ إِلَيْهِمْ فِي اَلْإِذْعَانِ بِالسُّجُودِ لَهُ وَ اَلْخُنُوعِ لِتَكْرِمَتِهِ فَقَالَ سُبْحَانَهُ اُسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ اِعْتَرَتْهُ اَلْحَمِيَّةُ وَ غَلَبَتْ عَلَيْهِ اَلشِّقْوَةُ وَ تَعَزَّزَ بِخِلْقَةِ اَلنَّارِ وَ اِسْتَوْهَنَ خَلْقَ اَلصَّلْصَالِ فَأَعْطَاهُ اَللَّهُ اَلنَّظِرَةَ اِسْتِحْقَاقاً لِلسُّخْطَةِ وَ اِسْتِتْمَاماً لِلْبَلِيَّةِ وَ إِنْجَازاً لِلْعِدَةِ فَقَالَ فَإِنَّكَ مِنَ اَلْمُنْظَرِينَ إِلى‏ يَوْمِ اَلْوَقْتِ اَلْمَعْلُومِ ثُمَّ أَسْكَنَ سُبْحَانَهُ آدَمَ دَاراً أَرْغَدَ فِيهَا عَيْشَهُ وَ آمَنَ فِيهَا مَحَلَّتَهُ وَ حَذَّرَهُ إِبْلِيسَ وَ عَدَاوَتَهُ فَاغْتَرَّهُ عَدُوُّهُ نَفَاسَةً عَلَيْهِ بِدَارِ اَلْمُقَامِ وَ مُرَافَقَةِ اَلْأَبْرَارِ فَبَاعَ اَلْيَقِينَ بِشَكِّهِ وَ اَلْعَزِيمَةَ بِوَهْنِهِ وَ اِسْتَبْدَلَ بِالْجَذَلِ وَجَلاً وَ بِالاِغْتِرَارِ نَدَماً ثُمَّ بَسَطَ اَللَّهُ سُبْحَانَهُ لَهُ فِي تَوْبَتِهِ وَ لَقَّاهُ كَلِمَةَ رَحْمَتِهِ وَ وَعَدَهُ اَلْمَرَدَّ إِلَى جَنَّتِهِ وَ أَهْبَطَهُ إِلَى دَارِ اَلْبَلِيَّةِ وَ تَنَاسُلِ اَلذُّرِّيَّةِ اختيار الأنبياء وَ اِصْطَفَى سُبْحَانَهُ مِنْ وَلَدِهِ أَنْبِيَاءَ أَخَذَ عَلَى اَلْوَحْيِ مِيثَاقَهُمْ وَ عَلَى تَبْلِيغِ اَلرِّسَالَةِ أَمَانَتَهُمْ لَمَّا بَدَّلَ أَكْثَرُ خَلْقِهِ عَهْدَ اَللَّهِ إِلَيْهِمْ فَجَهِلُوا حَقَّهُ وَ اِتَّخَذُوا اَلْأَنْدَادَ مَعَهُ وَ اِجْتَالَتْهُمُ اَلشَّيَاطِينُ عَنْ مَعْرِفَتِهِ وَ اِقْتَطَعَتْهُمْ عَنْ عِبَادَتِهِ فَبَعَثَ فِيهِمْ رُسُلَهُ وَ وَاتَرَ إِلَيْهِمْ أَنْبِيَاءَهُ لِيَسْتَأْدُوهُمْ مِيثَاقَ فِطْرَتِهِ وَ يُذَكِّرُوهُمْ مَنْسِيَّ نِعْمَتِهِ وَ يَحْتَجُّوا عَلَيْهِمْ بِالتَّبْلِيغِ وَ يُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ اَلْعُقُولِ وَ يُرُوهُمْ آيَاتِ اَلْمَقْدِرَةِ مِنْ سَقْفٍ فَوْقَهُمْ مَرْفُوعٍ وَ مِهَادٍ تَحْتَهُمْ مَوْضُوعٍ وَ مَعَايِشَ تُحْيِيهِمْ وَ آجَالٍ تُفْنِيهِمْ وَ أَوْصَابٍ تُهْرِمُهُمْ وَ أَحْدَاثٍ تَتَابَعُ عَلَيْهِمْ وَ لَمْ يُخْلِ اَللَّهُ سُبْحَانَهُ خَلْقَهُ مِنْ نَبِيٍّ مُرْسَلٍ أَوْ كِتَابٍ مُنْزَلٍ أَوْ حُجَّةٍ لاَزِمَةٍ أَوْ مَحَجَّةٍ قَائِمَةٍ رُسُلٌ لاَ تُقَصِّرُ بِهِمْ قِلَّةُ عَدَدِهِمْ وَ لاَ كَثْرَةُ اَلْمُكَذِّبِينَ لَهُمْ مِنْ سَابِقٍ سُمِّيَ لَهُ مَنْ بَعْدَهُ أَوْ غَابِرٍ عَرَّفَهُ مَنْ قَبْلَهُ عَلَى ذَلِكَ نَسَلَتِ اَلْقُرُونُ وَ مَضَتِ اَلدُّهُورُ وَ سَلَفَتِ اَلْآبَاءُ وَ خَلَفَتِ اَلْأَبْنَاءُ مبعث النبي إِلَى أَنْ بَعَثَ اَللَّهُ سُبْحَانَهُ مُحَمَّداً رَسُولَ اَللَّهِ ص لِإِنْجَازِ عِدَتِهِ وَ إِتْمَامِ نُبُوَّتِهِ مَأْخُوذاً عَلَى اَلنَّبِيِّينَ مِيثَاقُهُ مَشْهُورَةً سِمَاتُهُ كَرِيماً مِيلاَدُهُ وَ أَهْلُ اَلْأَرْضِ يَوْمَئِذٍ مِلَلٌ مُتَفَرِّقَةٌ وَ أَهْوَاءٌ مُنْتَشِرَةٌ وَ طَرَائِقُ مُتَشَتِّتَةٌ بَيْنَ مُشَبِّهٍ لِلَّهِ بِخَلْقِهِ أَوْ مُلْحِدٍ فِي اِسْمِهِ أَوْ مُشِيرٍ إِلَى غَيْرِهِ فَهَدَاهُمْ بِهِ مِنَ اَلضَّلاَلَةِ وَ أَنْقَذَهُمْ بِمَكَانِهِ مِنَ اَلْجَهَالَةِ ثُمَّ اِخْتَارَ سُبْحَانَهُ لِمُحَمَّدٍ ص لِقَاءَهُ وَ رَضِيَ لَهُ مَا عِنْدَهُ وَ أَكْرَمَهُ عَنْ دَارِ اَلدُّنْيَا وَ رَغِبَ بِهِ عَنْ مَقَامِ اَلْبَلْوَى فَقَبَضَهُ إِلَيْهِ كَرِيماً ص وَ خَلَّفَ فِيكُمْ مَا خَلَّفَتِ اَلْأَنْبِيَاءُ فِي أُمَمِهَا إِذْ لَمْ يَتْرُكُوهُمْ هَمَلاً بِغَيْرِ طَرِيقٍ وَاضِحٍ وَ لاَ عَلَمٍ قَائِمٍ القرآن و الأحكام الشرعية كِتَابَ رَبِّكُمْ فِيكُمْ مُبَيِّناً حَلاَلَهُ وَ حَرَامَهُ وَ فَرَائِضَهُ وَ فَضَائِلَهُ وَ نَاسِخَهُ وَ مَنْسُوخَهُ وَ رُخَصَهُ وَ عَزَائِمَهُ وَ خَاصَّهُ وَ عَامَّهُ وَ عِبَرَهُ وَ أَمْثَالَهُ وَ مُرْسَلَهُ وَ مَحْدُودَهُ وَ مُحْكَمَهُ وَ مُتَشَابِهَهُ مُفَسِّراً مُجْمَلَهُ وَ مُبَيِّناً غَوَامِضَهُ بَيْنَ مَأْخُوذٍ مِيثَاقُ عِلْمِهِ وَ مُوَسَّعٍ عَلَى اَلْعِبَادِ فِي جَهْلِهِ وَ بَيْنَ مُثْبَتٍ فِي اَلْكِتَابِ فَرْضُهُ وَ مَعْلُومٍ فِي اَلسُّنَّةِ نَسْخُهُ وَ وَاجِبٍ فِي اَلسُّنَّةِ أَخْذُهُ وَ مُرَخَّصٍ فِي اَلْكِتَابِ تَرْكُهُ وَ بَيْنَ وَاجِبٍ بِوَقْتِهِ وَ زَائِلٍ فِي مُسْتَقْبَلِهِ وَ مُبَايَنٌ بَيْنَ مَحَارِمِهِ مِنْ كَبِيرٍ أَوْعَدَ عَلَيْهِ نِيرَانَهُ أَوْ صَغِيرٍ أَرْصَدَ لَهُ غُفْرَانَهُ وَ بَيْنَ مَقْبُولٍ فِي أَدْنَاهُ مُوَسَّعٍ فِي أَقْصَاهُ و منها في ذكر الحج وَ فَرَضَ عَلَيْكُمْ حَجَّ بَيْتِهِ اَلْحَرَامِ اَلَّذِي جَعَلَهُ قِبْلَةً لِلْأَنَامِ يَرِدُونَهُ وُرُودَ اَلْأَنْعَامِ وَ يَأْلَهُونَ إِلَيْهِ وُلُوهَ اَلْحَمَامِ وَ جَعَلَهُ سُبْحَانَهُ عَلاَمَةً لِتَوَاضُعِهِمْ لِعَظَمَتِهِ وَ إِذْعَانِهِمْ لِعِزَّتِهِ وَ اِخْتَارَ مِنْ خَلْقِهِ سُمَّاعاً أَجَابُوا إِلَيْهِ دَعْوَتَهُ وَ صَدَّقُوا كَلِمَتَهُ وَ وَقَفُوا مَوَاقِفَ أَنْبِيَائِهِ وَ تَشَبَّهُوا بِمَلاَئِكَتِهِ اَلْمُطِيفِينَ بِعَرْشِهِ يُحْرِزُونَ اَلْأَرْبَاحَ فِي مَتْجَرِ عِبَادَتِهِ وَ يَتَبَادَرُونَ عِنْدَهُ مَوْعِدَ مَغْفِرَتِهِ جَعَلَهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى لِلْإِسْلاَمِ عَلَماً وَ لِلْعَائِذِينَ حَرَماً فَرَضَ حَقَّهُ وَ أَوْجَبَ حَجَّهُ وَ كَتَبَ عَلَيْكُمْ وِفَادَتَهُ فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَ لِلَّهِ عَلَى اَلنَّاسِ حِجُّ اَلْبَيْتِ مَنِ اِسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَ مَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اَللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ اَلْعالَمِينَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.&lt;br /&gt;Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.&lt;br /&gt;Barangsiapa mengatakan "dalam apa la berada", (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan "di atas apa la berada" maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.&lt;br /&gt;la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.&lt;br /&gt;Tentang Penciptaan Alam&lt;br /&gt;la memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. la memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, mem?berikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.&lt;br /&gt;Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, la mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. la memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.&lt;br /&gt;Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian la memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian la menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.&lt;br /&gt;Tentang Penciptaan Malaikat&lt;br /&gt;Kemudian la menciptakan rongga-rongga di antara langit-langit yang tinggi dan mengisinya dengan segala golongan malaikat-Nya. Sebagian dari mereka dalam bersujud dan tidak bangkit berlutut. Yang lain-lainnya dalam posisi berlutut dan tidak berdiri. Sebagian dari mereka dalam keadaan berbaris dan tidak meninggalkan posisinya. Yang lain-lainnya sedang memuji Allah tanpa menjadi lelah. Tidurnya mata atau tergelincirnya akal, atau kelelahan tubuh atau kelupaan tidak menimpa mereka.&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pembawa risalah-Nya yang terpercaya, yang merupakan lidah-lidah berbicara untuk para nabi-Nya, dan mereka ini yang membawa kesana kemari perintah-perintah dan suruhan-Nya. Di antara mereka ada para pelindung makhluk-makhluk-Nya dan pengawal pintu surga. Di antara mereka ada yang langkah-langkahnya tetap di bumi tetapi lehernya menjulang ke langit, anggota badan mereka keluar dari segala sisi, bahu mereka sesuai dengan tiang-tiang 'Arsy Ilahi, mata mereka tertunduk di hadapannya, mereka membentangkan sayap-sayapnya dan mereka membuat di antara sesama mereka dan semua yang selainnya tirai kehormatan dan layar kekuasaan. Mereka tidak memikirkan Pencipta mereka melalui khayal, tidak memberikan kepada-Nya sifat-sifat makhluk, tidak membataskan-Nya dalam suatu tempat kediaman dan tidak menunjuk kepada-Nya melalui gambaran.&lt;br /&gt;Gambaran tentang Penciptaan Adam&lt;br /&gt;Allah mengumpulkan lempung tanah yang keras, lembut, manis dan asam, yang dicelupkan-Nya ke dalam air dan mengadoninya dengan uap lembab sampai itu menjadi rekat. Darinya ia membuat patung dengan lekukan-lekukan, persendian, anggota dan bagian-bagian. la memadukannya sampai ia mengering untuk waktu tertentu dan jangka waktu yang diketahui. Kemudian la meniupkan ke dalamnya Ruh-Nya sehingga ia mengambilpola manusia dengan pikiran yang mengaturnya, kecerdasan yang digunakannya, anggota badan yang melayaninya, organ-organ yang merigubah posisinya, kebijaksanaan yang membedakan antara yang benar dan salah, rasa dan bau, warna dan jenis. la adalah suatu campuran antara lempung berbagai warna, bahan-bahan rekat, yang berlawanan, yang aneka ragam dan sifat-sifat yang berbeda seperti panas, dingin, lembut dan keras.&lt;br /&gt;Kemudian Allah menyuruh kepada malaikat untuk memenuhi janji-Nya dengan mereka dan memenuhi janji menaati perintah-Nya kepada mereka dengan pengakuan kepada-Nya melalui sujud kepada-Nya dan tunduk kepada kedudukannya yang mulia. Maka Allah berfirman, "Tunduklah kamu kepada Adam!" Maka mereka pun tunduk kecuali iblis." (QS. 2:34; 7:11; 17:61; 18:50; 20:116). Kesombongan mencegah dia dan keburukan mengalahkannya. Maka ia membangga-banggakan penciptaannya sendiri (yang) dari api dan bersikap menghina ciptaan dari lempung. Maka Allah memberikan waktu kepadanya agar ia sepenuhnya patut menerima kemurkaan-Nya, dan melengkapi ujian (pada manusia) dan untuk me?menuhi janji (yang telah diberikan-Nya kepada iblis). Maka la berkata, "Sesungguhnya engkau telah diberi waktu sampai pada hari yang diketahui." (QS. 15:37-38; 38:81) Setelah itu Allah menempatkan Adam di suatu rumah di mana la membuat kehidupannya senang dan kediamannya aman, dan la memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap iblis dan musuhnya. Lalu musuhnya (iblis) merasa iri atas tinggalnya di surga dan hubungan-hubungannya dengan yang bajik. Maka ia pun mengubah keyakinannya menjadi goyah, dan tekadnya menjadi lemah. Dengan demikian ia mengubah kebahagiaan Adam menjadi ketakutan, dan martabatnya men?jadi sesal dan malu. Kemudian Allah memberikan kepada Adam kesempatan untuk bertaubat, mengajarkan kepadanya kata-kata dari Rahmat-Nya, menjanjikan kepadanya untuk kembali ke surga-Nya dan mengirimkannya ke tempat percobaan dan perkembangbiakan keturunan.&lt;br /&gt;Allah Memilih Para Nabi-Nya&lt;br /&gt;Dari antara keturunannya, Allah Yang Mahasuci memilih nabi-nabi dan mengambil janjinya untuk wahyu-Nya dan untuk menyampaikan risalah-Nya sebagai amanat mereka. Dalam perjalanan waktu, banyak orang menyelewengkan amanat Allah dan mengabaikan kedudukan-Nya, dan meng?ambil serikat bersama-Nya. Iblis memalingkan mereka dari mengenal-Nya dan menjauhkan mereka dari menyembah kepada-Nya. Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijaksa-naan yang tersembunyi, dan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang ditinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memelihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul-menyusul yang menimpa mereka.&lt;br /&gt;Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argumen yang mengikat atau dalil yang kuat. Para rasul itu tidak merasa kecil karena kecilnya jumlah mereka dan besarnya jumlah yang mendustainya. Di antara mereka ada pendahulu yang akan menyebutkan nama yang akan menyusul atau pengikut yang telah dikenalkan oleh pendahulunya.&lt;br /&gt;Pengutusan Muhammad SAWW&lt;br /&gt;Secara demikian zaman-zaman berlalu dan waktu terus bergulir, ayah pergi sementara putra-putra mereka menggantikannya, sampai Allah mengutus Muhammad SAWW sebagai rasul-Nya, dalam memenuhi janji-Nya dan untuk melengkapi Kenabian-Nya. Janji-Nya telah diambil dari para nabi, tabiat karaktemya termasyhur dan kelahirannya mulia. Manusia bumi pada saat itu terbagi dalam berbagai kelompok, tujuan mereka terpisah dan jalan-jalan mereka beraneka. Mereka menyerupakan Allah dengan ciptaan-Nya atau menggeser nama-nama-Nya atau berpaling kepada yang selain Dia.&lt;br /&gt;Melalui Muhammad SAWW, Allah memandu mereka keluar dari kesalahan, dan dengan usahanya la membawa mereka keluar dari kejahilan. Kemudian Allah memilih Muhammad SAWW dan keturunannya, untuk menemui-Nya, memilihnya untuk kedekatan kepada-Nya sendiri, memandangnya terlalu mulia untuk tinggal di dunia ini, dan memutuskan untuk mengeluarkannya dari tempat percobaan ini. la menariknya kepada Diri-Nya sendiri dengan kemuliaan. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau dan keluarganya.&lt;br /&gt;Al Quran dan Sunah&lt;br /&gt;Tetapi Nabi meninggalkan di antara Anda sesuatu yang sama sebagaimana yang ditinggalkan nabi-nabi lain di antara umat mereka, karena nabi-nabi tidak meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa jalan yang terang dan panji yang tegak, yakni Kitab dari Pencipta Anda yang menjelaskan yang halal dan haram, perintah-perintah dan keutamaan-keutamaannya, yang menasakh dan yang dinasakh, hal-halnya yang halal dan yang wajib, hal-halnya yang khusus dan umum, pelajaran dan amsalnya, yang panjang dan singkatnya, yang jelas dan samamya, mendetailkan singkatan-singkatannya dan menjelaskan yang samamya.&lt;br /&gt;Di dalamnya ada beberapa ayat yang pengetahuan tentangnya diwajibkan,&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/001.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; dan yang lain-lainnya yang ketidaktahuan manusia tentangnya dibolehkan. la juga mengandung apa yang nampak sebagai wajib menurut Kitab&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/001.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(2) tetapi nasakhnya disuguhkan oleh sunah Nabi atau apa yang nampak sebagai wajib menurut sunah Nabi tetapi Kitab membolehkan orang tidak mengikutinya. Atau ada yang wajib pada suatu waktu tertentu tetapi tidak sesudahnya. Larangan-larangannya juga berbeda. Ada yang berat, yang mengenainya ada ancaman api (neraka), dan yang lainnya ringan, yang untuk itu terdapat harapan keampunan. Ada pula yang dalam ukuran kecil dapat diterima (bagi Allah) tetapi dapat membesar (bila diteruskan).&lt;br /&gt;Dalam Khotbah yang Sama, tentang Haji&lt;br /&gt;Allah telah mewajibkan Anda berhaji ke Rumah Suci-Nya yang merupakan kiblat bagi manusia yang pergi kepadanya sebagaimana hewan liar atau merpati pergi ke sumber air. Allah Yang Mahasuci menjadikannya pertanda atas ketundukan mereka di hadapan Keagungan-Nya dan pengakuan mereka akan Kemuliaan-Nya. la memilih dari antara ciptaan-Nya orang-orang yang ketika mendengar seruan-Nya menyambutnya dan mem-benarkan sabda-Nya. Mereka berdiri pada posisi para nabi-Nya dan menyerupai para malaikat-Nya yang mengelilingi Mahligai-Nya untuk mendapatkan segala manfaat dari melaksanakan pengabdian kepada-Nya dan bergegas untuk (mendapatkan) keampunan yang telah dijanjikan-Nya. Allah Yang Mahasuci menjadikannya sebagai syiar bagi Islam dan objek penghormatan bagi orang-orang yang berpaling ke situ. la mewajibkan hajinya dan meletakkan klaimnya yang untuk itu la menuntut tanggung jawab Anda untuk melaksanakannya. Dan Allah Yang Mahasuci berfirman, "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitulldh yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. " (QS. 3:96) ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/001.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; "Pangkal agama (din) adalah makrifat tentang Dia." Makna din ialah ketaatan, dan makna populeraya tatanan. Baik dalam makna harfiah, ataupun populer, apabila pikiran kosong dari konsepsi Ketuhanan, tak akan ada masalah ketaatan, tidak ada pula urusan dengan mengikuti suatu aturan. Karena, bila tidak ada tujuan maka tidak ada alasan untuk menuju ke sana; bila tidak ada tujuan yang diharap, tidak akan ada usaha untuk mencapainya. Bagaimanapun, ketika fitrah dan naluri manusia mendekatkannya kepada Yang Mahatinggi, dan rasa taat serta penyerahan merendahkannya di hadapan Tuhan, ia merasa terikat dengan batasan-batasan tertentu, berlawanan dengan kebebasan semena-mena. Batasan-batasan inilah din, yang titik mulanya ialah pengetahuan tentang Allah serta pengakuan atas Wujud-Nya.&lt;br /&gt;Setelah menunjukkan hakikat makrifat atau pengetahuan tentang Allah, Amirul Mukminin menggambarkan pokok-pokok dan syarat-syaratnya. la menganggap bahwa tahap-tahap pengetahuan yang umumnya dianggap sebagai titik pendekatan tertinggi tidaklah mencukupi. la mengatakan bahwa tahap pertamanya ialah dengan fitrah kerinduan kepada yang gaib dan bimbingan hati nurani, atau dengan mendengar dari para penganut agama, terbentuklah dalam pikiran suatu citra tentang Wujud Gaib yang dikenal sebagai Allah. Gambaran ini sesungguhnya adalah pendahulu dari kewajiban berpikir dan merenung serta mencari pengetahu?an tentang Dia. Tetapi, orang yang senang bermalas-malas, atau dalam tekanan lingkungannya, tidak melakukan pencarian ini, sehingga walaupun ada tercipta citra semacam itu, citra itu tidak sampai beroleh kesaksian. Dalam hal ini mereka tidak mendapatkan pengetahuan, dan karena mereka tidak sampai pada tahap panyaksian dan pembuktian atas pembentukan citra itu maka pelanggaran mereka itu patut dimintai pertanggungan jawab. Tetapi, orang yang digerakkan oleh kekuatan citra ini maju lebih jauh dan memandang perlu berpikir dan merenungkannya.&lt;br /&gt;Dengan jalan ini ia sampai ke tahap berikut dalam mencapai pengetahuan Ilahi, yakni mencari Yang Maha Pencipta melalui aneka ragam penciptaan dan makhluk, karena setiap gambar merupakan pandu yang kuat menuju kepada penggambarnya, dan setiap akibat merupakan hasil tindakan dari penyebabnya. Apabila ia melemparkan pandangan ke sekitarnya, ia tidak mendapatkan suatu apa pun yang menjadi ada tanpa tindakan si pembuat; ia tak dapat memperoleh suatu jejak langkah tanpa pejalan yang meninggalkan jejak, tiada pula bangunan tanpa pem-bangun. Bagaimana ia dapat memahami bahwa langit biru ini, dengan matahari dan bulan di cakrawala, bumi dengan kelimpahan rumputan dan bunga-bungaan dapat menjadi ada tanpa perbuatan Pencipta. Oleh karena itu, setelah mengamati segala yang ada di dunia dan sistem teratur dari seluruh penciptaan, orang tak dapat menyimpulkan lain kecuali bahwa ada Pencipta atas keanekaragaman dan keberadaan dunia; ini tak mungkin terjadi dari tak ada, tak ada keberadaan muncul dari ketiadaan. Al Quranul Karim menunjukkan penalaran ini,&lt;br /&gt;"Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta?? langit dan bumi?" (QS. 14:10)&lt;br /&gt;Tetapi, tahap ini pun tak akan cukup, apabila bukti-bukti adanya Allah ini dicemari oleh kepercayaan akan ketuhanan sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;Tahap ketiga, keberadaan-Nya diakui bersama kepercayaan akan Keesaan-Nya, Tauhid. Tanpa ini maka kesaksian akan adanya Allah tak mungkin sempuma; karena, apabila ada kepercayaan akan adanya banyak tuhan, maka la tidak akan Esa, padahal la Esa. Nalarnya, bila ada lebih dari satu tuhan maka akan timbul pertanyaan apakah salah satu darinya, atau mereka semua bersama-sama menciptakan semua ciptaan ini. Apabila salah satu darinya yang menciptakannya maka harus ada sebab yang membedakannya dari yang lain; kalau tidak, ia akan mendapatkan kedudukan istimewa tanpa alasan, yang tak dapat diterima akal. Apabila semua telah menciptakannya secara bersama-sama maka posisinya hanya mempunyai dua bentuk: ia tak dapat melakukan tugasnya tanpa pertolongan dari yang lain, atau ia tidak memerlukan bantuan mereka.&lt;br /&gt;Kasus pertama berarti ia tidak mampu dan memerlukan bantuan pihak lain, sedang kemungkinan kedua berarti bahwa ada beberapa pelaku bersama dari suatu tindakan tunggal, dan kepalsuan tentang keduanya telah ditunjukkan. Apabila kita anggap semua tuhan itu melaksanakan penciptaan dengan saling membagi di antara sesamanya maka dalam hal ini tidak semua ciptaan akan mempunyai hubungan dengan pencipta itu, karena setiap makhluk hanya mempunyai hubungan dengan penciptanya sendiri, padahal setiap makhluk harus mempunyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu. Sebab, semua ciptaan harus mem?punyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu, karena semua ciptaan, dalam kemampuannya untuk menerima pengaruh, dan semua pencipta, dalam kemampuannya untuk menghasilkan pengaruh, harus sama. Singkatnya, tidak ada jalan kecuali mengakui-Nya sebagai Esa; karena, bila ada banyak pen?cipta maka tidak akan ada apa pun lainnya, kehancuran pasti menimpa bumi, langit dan segala sesuatu dalam penciptaan. Allah SWT telah mengungkapkan argumen ini dalam kata-kata berikut:&lt;br /&gt;Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah ke?duanya itu telah rusak-binasa .... (QS.? 21:22)&lt;br /&gt;Tahap keempat ialah bahwa Allah harus bebas dari segala cacat dan kekurangan, dan kosong dari jasad, bentuk, gambaran, kesamaan, kedudukan tempat dan waktu, gerak, diam, ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Tak mungkin ada kekurangan atau cacat pada Wujud yang sempurna itu, tiada pula yang dapat disamakan dengan Dia, karena sifat cacat itu menurunkan Wujud dari posisi tinggi Pencipta ke posisi rendah ciptaan. Itulah sebabnya maka Keesaan dan Kesucian Allah dari segala kekurangan adalah sama pentingnya.&lt;br /&gt;"Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. dan tidak ada seorang pun yang setara dangan Dia.'" (QS. 112:1-4)&lt;br /&gt;"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Mahahalus lagi Mahatahu." (QS. 6:103)&lt;br /&gt;"Makajanganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS.?? 16:74)&lt;br /&gt;"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. 42:11)??? .&lt;br /&gt;Tahap kelima penyempurnaan pengetahuan tentang Dia ialah sifat-sifat itu harus tidak dilekatkan kepada-Nya dari luar, supaya tidak ada kegandaan dalam Keesaan-Nya, dan bila kita menyimpang dari konotasinya yang semestinya tentang Keesaan, kita mungkin jatuh ke dalam jebakan satu dalam tiga dan tiga dalam satu; karena Wujud-Nya bukanlah suatu kombinasi hakikat dan bentuk maka sifat-sifat itu tak dapat melekat pada-Nya seperti bau dalam bunga atau cahaya pada bintang. la adalah sumber segala sifat dan tidak memerlukan perantara untuk perwujudan Sifat-sifat-Nya yang sempuma. la dinamakan Maha Mengetahui karena tanda-tanda pengetahuan-Nya nyata. la dinamakan Mahakuasa karena setiap partikel menunjukkan Kemahakuasaan dan kegiatan-Nya, dan bila pada-Nya disifatkan Kemampuan untuk mendengarkan atau melihat, hal itu disebabkan kepaduan antara seluruh penciptaan dan pengurusannya tidak dapat dilakukan tanpa mendengar atau melihat; tetapi adanya sifat-sifat ini pada-Nya tidak dapat dipandang sama dengan yang ada pada ciptaan, yakni tidaklah la baru dapat mengetahui setelah la beroleh pengetahuan, atau baru berkuasa setelah tenaga masuk ke dalam anggota-Nya, karena mengambil sifat sebagai terpisah dari Wujud-Nya akan mengandung makna ganda, dan di mana ada kegandaan maka keesaan menghilang. Itulah sebabnya Amirul Mukminin menolak ide sifat-sifat sebagai tambahan kepada Wujud-Nya; ia mengajukan Keesaan (Tauhid) dalam maknanya yang sesungguhnya, dan tidak mengizinkan Tauhid dinodai dengan kemajmukan.&lt;br /&gt;Hal ini tidak berarti bahwa sifat-sifat sama sekali tak dapat diatributkan kepada-Nya, karena ini akan memberikan dukungan kepada orang-orang yang meraba-raba di jurang gelap negativisme, sekalipun setiap penjuru dan sudut di seluruh eksistensi melimpah dengan sifat-sifat-Nya dan setiap zarah ciptaan menyaksikan bahwa la mempunyai pengetahuan, la berkuasa, la mendengar, la melihat. la memelihara dan mengizinkan pertumbuhan dengan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa bagi Dia tak ada sesuatu yang dapat disarankan sebagai tambahan kepada-nya, karena diri-Nya meliputi sifat-sifat, dan sifat-sifat-Nya bermakna diri-Nya meliputi sifat-sifat. Marilah kita pelajari tema ini dalam kata-kata Imam Ja'far ibn Muhammad ash-Shadiq (as) dengan membandingkannya dengan keimanan akan Keesaan yang ditempuh oleh paham-paham lain, kemudian menilai siapakah pembela konsep Tauhid yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Imam Ja'far Shadiq mengatakan,&lt;br /&gt;"Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi sejak semula telah mempunyai penge-tahuan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk diketahui, (mem?punyai) penglihatan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk dilihat, (mempunyai) pendengaran sebagai Diri-Nya, sekalipun tiada sesuatu untuk didengar, mempunyai kekuasaan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu di bawah kekuasaan-Nya. Ketika la menciptakan benda-benda dan obyek pengetahuan menjadi nyata, pengetahuan-Nya menjadi berhubungan dengan yang diketahui, pendengaran dengan yang didengar, penglihatan dengan yang dilihat, dan kekuasaan dengan objek-objeknya." (Syeikh Shaduq, at-Tauhid, hal. 139)&lt;br /&gt;Para imam Ahlulbait sepaham dalam kepercayaan ini, tetapi kalangan mayoritas telah menempuh jalan berbeda dengan menciptakan gagasan pembedaan antara Diri-Nya dan Sifat-sifat-Nya. Asy-Syahristani menulis dalam bukunya Kitab al-Milal wa an-Nihal,&lt;br /&gt;"Menurut Abul Hasan Al-Asy'ari, Allah mengetahui melalui (sifat) tahu, Kuasa melalui kegiatan, berbicara melalui bicara, mendengar melalui pendengaran, dan melihat melalui penglihatan."&lt;br /&gt;Apabila kita memandang sifat-sifat berbeda dan Diri-Nya secara ini, maka akan ada dua alternatif: sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula atau sifat-sifat itu terjadi kemudian. Apabila sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula, kita terpaksa mengakui objek-objek itu kekal sejauh sifat-sifat itu, yang semuanya bersaham dengan-Nya dalam kekekalan, tetapi "Mahasuci Allah dari apa yang merekapersekutuan". (QS. 9:31) Apabila kita menganggap bahwa sifat-sifat itu baru terjadi kemudian maka, di samping menundukkan-Nya pada perubahan-perubahan itu, akan berarti pula bahwa sebelum mendapatkan sifat-sifat itu la tidak tahu, tidak kuasa, tidak mendengar, dan tidak melihat, dan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/001.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; Tentang Al Quran, Amirul Mukminin berkata bahwa ia mengandung uraian tentang perbuatan-perbuatan yang halal dan yang haram, seperti firman Allah:&lt;br /&gt;"... padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ...." (QS. 2:275)&lt;br /&gt;"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa) ...." (QS. 4:103)&lt;br /&gt;"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ter-dapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyatd bagimu." (QS. 2:168)&lt;br /&gt;"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal kepada Tuhannya.dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.'" (QS. 18:110)&lt;br /&gt;"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?" (QS. 2:44)&lt;br /&gt;"Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS. 2:275)&lt;br /&gt;Ia menjelaskan perbuatan-perbuatan yang wajib dan sunah, seperti:&lt;br /&gt;"Apabilah kamu telah menyelesaikan shalat (takut), ingatlah akan Allah di waktu kamu berdiri, duduk atau berbaring, dan bilamana kamu merasa aman (dari musuh) maka dirikanlah shalat (sebagaimana biasa)." (QS. 4:103)&lt;br /&gt;Di sini shalat (mengingat Allah) adalah wajib, sementara bentuk-bentuk lainnya dalam mengingat Allah adalah sunnah. Ia mengandung ayat-ayat yang nāsikh dan mansūkh, seperti masa iddah setelah kematian suami ?empat bulan sepuluh hari?, (QS. 2:234) atau yang mansūkh seperti ?hingga setahun lamanya tanpa disuruh pindah (dari rumah)?, (QS. 2:240) yang menunjukkan bahwa masa iddah itu harus setahun.&lt;br /&gt;Di tempat-tempat tertentu ia menghalalkan yang haram, seperti, ?Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?. (QS. 5:3)&lt;br /&gt;la mengandung perintah-perintah yang khusus dan umum. Khusus ialah perin-tah di mana kata itu menunjukkan keumuman tetapi maknanya terbatas, seperti, "Aku telah melebihkan kamu (Bam Isra'il) atas seisi dunia." (QS. 2:47) Di sini kata dial- 'alamin (seisi dunia) terbatas pada masa tertentu itu, walaupun kata itu umum dalam makna harfiahnya.&lt;br /&gt;Perintah-perintah yang umum ialah perintah yang luas dalam pengertiannya, seperti, "'Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS.?? 4:32)&lt;br /&gt;la mengandung pelajaran dan gambaran, seperti:&lt;br /&gt;"Allah menghukum di dunia ini dan yang akan datang, dan di situ terdapat pelajaran." (QS. 79:25-26)&lt;br /&gt;"Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia." (QS. 78:25)&lt;br /&gt;?Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)?. (QS. 79:26)&lt;br /&gt;?Perkataan yang baik dan pemberian maaflebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun?. (QS. 2:263)&lt;br /&gt;Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa." (QS. 2:63)&lt;br /&gt;Maka Kamijadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:66)&lt;br /&gt;Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS. 3:5)&lt;br /&gt;Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. 47:21)&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa danjanganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. 4:19)&lt;br /&gt;Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati." (QS. 2:139)&lt;br /&gt;Terdapat pelajaran di dalamnya bagi orang yang bertakwa kepada Allah." (QS.? 3:138)&lt;br /&gt;Ayat yang berisi gambaran misalnya, "Misal orang-orang yang menafkahkan harta bendanya di jalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan lima butir yang masing-masing butir mengandung seratus butir," (QS. 2:261)&lt;br /&gt;la mengandung ayat-ayat yang khāsh dan 'ām. 'Ām ialah ayat yang tidak mengandung batasan tentang spesifikasi, seperti, "Ingatlah ketika Musa mengatakan kepada kaumnya, 'Allah memerintahkan kamu untuk menyembelih seekor sapi betina.'" (QS. 2:67)&lt;br /&gt;Ayat yang khāsh ialah ayat di mana penujukannya terbatas, seperti, "bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah maupun mengairi tanaman". (QS. 2:71)&lt;br /&gt;Ada ayat muhkamāt dan mutasyābihāt di dalamnya. Ayat muhkamāt ialah ayat yang tidak ada kerumitan di dalamnya, seperti, "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu," (QS. 33:27) sedang ayat mutasyābihāt ialah yang pengertiannya mengandung komplikasi, seperti, "Yang Rahman yang bersemayam di 'arsy" (QS. 20:5), yang arti lahiriahnya memberi kesan seakan-akan Allah secara jasmani duduk di singgasana padahal maksudnya ialah untuk menekankan wewenang dan kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;Di dalamnya ada perintah-perintah singkat, seperti, "Dirikanlah shalat," (QS. 17:78) dan yang mengandung makna yang mendalam, seperti ayat-ayat yang mengatakan, "Dan tiadalah yang mengetahui takwilnya selain Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya." (QS. 3:7)&lt;br /&gt;Kemudian Amirul Mukminin meluaskan tema ini dalam gaya lain dengan mengatakan bahwa ada beberapa hal di dalamnya yang wajib diketahui, seperti, "Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah." (QS. 47:19), dan ada lain-lain yang tidak perlu diketahui, seperti "alif lām mīm" (QS. 2:1) dan sebagainya.&lt;br /&gt;la juga mengandung perintah-perintah yang telah diulang-ulang oleh sunah Nabi, seperti, "Tentang perempuan-perempuan kamu yang berbuat zina, ambillah empat saksi laki-laki dan, apabila empat saksi itu datang, kurunglah perempuan itu hingga ajal mengakhiri hidupnya." (QS. 4:15) Hukuman ini berlaku di masa dini Islam, tetapi kemudian diganti dengan rajam dalam hal wanita bersuami.&lt;br /&gt;Di dalamnya ada beberapa perintah yang menasakh perbuatan Nabi, seperti, "Hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram" (QS. 2:149) yang dengan itu perintah untuk berkiblat ke Baitul Maqdis dinasakh.&lt;br /&gt;la juga mengandung perintah-perintah yang hanya wajib pada masa waktu tertentu, yang sesudahnya perintah itu berakhir, seperti, "Apabila seruan untuk shalat dilakukan pada hari Jumat, maka bergegaslah kamu mengingat Allah." (QS. 62:9) la juga menunjukkan derajat-derajat larangan seperti pembagian dosa dalam yang ringan dan yang berat?yang ringan seperti "katakanlah kepada orang-orang mukmin untuk merendahkan matanya" (QS. 24:30), dan yang berat seperti "barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka imbalannya ialah tinggal di neraka selama-lamanya ". (QS. 4:39) la juga berisi perintah-perintah di mana sedikit pelaksanaannya sudah cukup, tetapi ada kesempatan untuk pelaksanaan lebih jauh, seperti, "Bacalah Al Quran sebanyak yang dapat kamu lakukan dengan mudah. " (QS. 73:20)&lt;br /&gt;Katakanlah kapada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka mena-han pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetaui apa yang mere?ka perbuat." (QS. 24:30)&lt;br /&gt;Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyui uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka danjiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berji?had dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surgu) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. 4:95)&lt;br /&gt;Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagi-mu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang \ang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yung berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperolehnyu di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguh?nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS. 26:9)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#333333;"&gt;&lt;strong&gt;KHOTBAH 2&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#999999;"&gt;&lt;strong&gt;Disampaikan Ketika Kembali dari Shiffin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000000;"&gt;أَاِسْتِتْمَاماً لِنِعْمَتِهِ وَ اِسْتِسْلاَماً لِعِزَّتِهِ وَ اِسْتِعْصَاماً مِنْ مَعْصِيَتِهِ وَ أَسْتَعِينُهُ فَاقَةً إِلَى كِفَايَتِهِ إِنَّهُ لاَ يَضِلُّ مَنْ هَدَاهُ وَ لاَ يَئِلُحْمَدُهُ  مَنْ عَادَاهُ وَ لاَ يَفْتَقِرُ مَنْ كَفَاهُ فَإِنَّهُ أَرْجَحُ مَا وُزِنَ وَ أَفْضَلُ مَا خُزِنَ وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اَللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً مُمْتَحَناً إِخْلاَصُهَا مُعْتَقَداً مُصَاصُهَا نَتَمَسَّكُ بِهَا أَبَداً مَا أَبْقَانَا وَ نَدَّخِرُهَا لِأَهَاوِيلِ مَا يَلْقَانَا فَإِنَّهَا عَزِيمَةُ اَلْإِيمَانِ وَ فَاتِحَةُ اَلْإِحْسَانِ وَ مَرْضَاةُ اَلرَّحْمَنِ وَ مَدْحَرَةُ اَلشَّيْطَانِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ أَرْسَلَهُ بِالدِّينِ اَلْمَشْهُورِ وَ اَلْعَلَمِ اَلْمَأْثُورِ وَ اَلْكِتَابِ اَلْمَسْطُورِ وَ اَلنُّورِ اَلسَّاطِعِ وَ اَلضِّيَاءِ اَللاَّمِعِ وَ اَلْأَمْرِ اَلصَّادِعِ إِزَاحَةً لِلشُّبُهَاتِ وَ اِحْتِجَاجاً بِالْبَيِّنَاتِ وَ تَحْذِيراً بِالْآيَاتِ وَ تَخْوِيفاً بِالْمَثُلاَتِ وَ اَلنَّاسُ فِي فِتَنٍ اِنْجَذَمَ فِيهَا حَبْلُ اَلدِّينِ وَ تَزَعْزَعَتْ سَوَارِي اَلْيَقِينِ وَ اِخْتَلَفَ اَلنَّجْرُ وَ تَشَتَّتَ اَلْأَمْرُ وَ ضَاقَ اَلْمَخْرَجُ وَ عَمِيَ اَلْمَصْدَرُ فَالْهُدَى خَامِلٌ وَ اَلْعَمَى شَامِلٌ عُصِيَ اَلرَّحْمَنُ وَ نُصِرَ اَلشَّيْطَانُ وَ خُذِلَ اَلْإِيمَانُ فَانْهَارَتْ دَعَائِمُهُ وَ تَنَكَّرَتْ مَعَالِمُهُ وَ دَرَسَتْ سُبُلُهُ وَ عَفَتْ شُرُكُهُ أَطَاعُوا اَلشَّيْطَانَ فَسَلَكُوا مَسَالِكَهُ وَ وَرَدُوا مَنَاهِلَهُ بِهِمْ سَارَتْ أَعْلاَمُهُ وَ قَامَ لِوَاؤُهُ فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَ وَطِئَتْهُمْ بِأَظْلاَفِهَا وَ قَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا فَهُمْ فِيهَا تَائِهُونَ حَائِرُونَ جَاهِلُونَ مَفْتُونُونَ فِي خَيْرِ دَارٍ وَ شَرِّ جِيرَانٍ نَوْمُهُمْ سُهُودٌ وَ كُحْلُهُمْ دُمُوعٌ بِأَرْضٍ عَالِمُهَا مُلْجَمٌ وَ جَاهِلُهَا مُكْرَمٌ و منها يعني آل النبي عليه الصلاة و السلام هُمْ مَوْضِعُ سِرِّهِ وَ لَجَأُ أَمْرِهِ وَ عَيْبَةُ عِلْمِهِ وَ مَوْئِلُ حُكْمِهِ وَ كُهُوفُ كُتُبِهِ وَ جِبَالُ دِينِهِ بِهِمْ أَقَامَ اِنْحِنَاءَ ظَهْرِهِ وَ أَذْهَبَ اِرْتِعَادَ فَرَائِصِهِ وَ مِنْهَا يَعْنِي قَوْماً آخَرِينَ زَرَعُوا اَلْفُجُورَ وَ سَقَوْهُ اَلْغُرُورَ وَ حَصَدُوا اَلثُّبُورَ لاَ يُقَاسُ بِآلِ مُحَمَّدٍ ص مِنْ هَذِهِ اَلْأُمَّةِ أَحَدٌ وَ لاَ يُسَوَّى بِهِمْ مَنْ جَرَتْ نِعْمَتُهُمْ عَلَيْهِ أَبَداً هُمْ أَسَاسُ اَلدِّينِ وَ عِمَادُ اَلْيَقِينِ إِلَيْهِمْ يَفِي‏ءُ اَلْغَالِي وَ بِهِمْ يُلْحَقُ اَلتَّالِي وَ لَهُمْ خَصَائِصُ حَقِّ اَلْوِلاَيَةِ وَ فِيهِمُ اَلْوَصِيَّةُ وَ اَلْوِرَاثَةُ اَلْآنَ إِذْ رَجَعَ اَلْحَقُّ إِلَى أَهْلِهِ وَ نُقِلَ إِلَى مُنْتَقَلِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Saya memuji Allah dengan memohon kelengkapan Rahmat-Nya dengan tunduk kepada Keagungan-Nya dan mengharapkan keselamatan dari ber-buat dosa kepada-Nya. Saya memohon pertolongan-Nya karena memerlukan kecukupan-Nya (untuk perlindungan). Orang yang ditunjuki-Nya tidak tersesat, orang yang memusuhi-Nya tidak mendapat perlindungan, orang yang didukung-Nya tidak akan tetap kekurangan. Pujian adalah yang paling berat dari semua yang ditimbang dan paling berharga dari semua yang disimpan.&lt;br /&gt;Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Esa. Tidak ada yang menyerupai-Nya. Kesaksian saya telah teruji dalam keterbukaannya, dan hakikatnya adalah iman kami. Kami akan berpegang teguh padanya selama kami hidup dan akan menyimpannya dengan menghadapi azab yang me-nyusul kami karena ia adalah batu fondasi keimanan dan langkah pertama kepada amal saleh dan keridaan Ilahi. la adalah sarana untuk menjauhkan iblis.&lt;br /&gt;Saya juga bersaksi bahwa Muhammad SAWW adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah mengutus-Nya dengan agama yang cemerlang, syiar yang efektif, Kitab yang terpelihara, cahaya yang bersinar, nyala yang kemilau, dan perintah yang tegas untuk mengusir keraguan, mengajukan bukti-bukti yang jelas, menetapkan peringatan melalui tanda-tanda, dan memperingatkan akan hukuman. Pada waktu itu manusia telah jatuh ke dalam kemungkaran yang dengan itu tali agama telah diputuskan, tiang-tiang keimanan telah tergoncang, prinsip-prinsip telah dicemari, sistem telah jungkir balik, pintu-pintu sempit, lorong-lorong gelap, petunjuk tidak dikenal, dan kegelapan merajalela.&lt;br /&gt;Allah tidak ditaati, iblis diberi dukungan, dan keimanan telah dilupakan. Akibatnya, tiang-tiang agama runtuh, jejak-jejaknya tak terlihat, lorong-lorongnya telah dirusakkan dan jalan-jalannya telah binasa. Manusia menaati iblis dan melangkah pada jalan-jalannya. Mereka mencari air pada tempat-tempat pengairannya. Melalui mereka lambang-lambang iblis berkibar dan panjinya diangkat dalam kejahatan yang menginjak-injak manusia di bawah tapak kakinya, dan melangkah di atasnya dengan kaki mereka. Kejahatan berdiri (tegak) di atas jari-jari kakinya dan manusia yang tenggelam di dalamnya menjadi bingung, jahil dan terbujuk seakan-akan dalam suatu rumah yang baik&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/002.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt; dengan tetangga-tetangga yang jahat. Sebagai ganti tidur, mereka terjaga, dan sebagai celaknya adalah air mata. Mereka berada di suatu negeri di mana orang berilmu terkekang (mulut mereka tertutup) sementara orang jahil dihormati.&lt;br /&gt;Dalam khotbah yang sama, Amirul Mukminin a.s. merujuk kepada Ahlul Bayt sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mereka adalah pengemban wasiat, tempat berteduh bagi urusan-Nya, sumber pengetahuan tentang Dia, pusat kebijaksanaan-Nya, lembah bagi kitab-kitab-Nya dan bukit bagi agama-Nya. Melalui mereka Allah meluruskan punggung agama yang bengkok dan menyingkirkan gemetar anggota-anggota badannya.&lt;br /&gt;Dalam khotbah yang sama,? ia berbicara tentang orang lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mereka menabur kejahatan, mengairinya dengan tipuan dan menuai kehancuran. Tak seorang pun di antara umat Islam yang dapat dipandang sejajar dengan Keluarga Muhammad SAWW.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/002.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt; Orang yang mendapatkan kenikmatan dari mereka tak dapat dibandingkan dengan mereka. Mereka adalah fondasi agama dan tiang iman. Pelari di depan harus berbalik sementara yang di belakang harus menyusul mereka. Mereka memiliki ciri utama kewalian. Bagi mereka ada wasiat dan warisan (Nabi). Inilah waktunya hak itu kembali kepada pemiliknya dan dialihkan kepada pusat tempat kembalinya. ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/002.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt; Rumah yang baik di sini berarti Makkah, sedang tetangga-tetangga yang buruk berarti kaum kafir Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/002.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt; Tentang keluarga (āl) Nabi, Amirul Mukminin mengatakan bahwa tidak ada orang di dunia ini yang setaraf dengan mereka, tak ada pula orang yang dapat dianggap sama dengan mereka dalam kemuliaan, karena dunia ini penuh dibebani tanggung jawab mereka dan hanya mampu mendapatkan rahmal abadi melalui bimbingan mereka. Mereka adalah batu penjuru dan fondasi agama serta pemelihara kehidupannya dan kelanjutannya. Mereka adalah tiang-tiang pengetahuan dan keimanan yang demikian kuat sehingga dapat menyingkirkan arus dahsyat keraguan dan kecurigaan. Mereka begitu menengah di antara jalan berlebihan dan keterbelakangan sehingga barangsiapa pergi mendahului harus kembali, dan yang tertinggal di belakang harus melangkah maju ke jalan tengah itu, supaya tetap berada di jalan Islam. Mereka mempunyai semua keutamaan yang memberikan keunggulan dalam hak kewalian dan imamah, dan tiada orang lain dalam ummah yang mempunyai hak sebagai pelindung dan wali. Itulah sebabnya Nabi me-maklumkan mereka sebagai para wali dan pelanjutnya.&lt;br /&gt;Tentang wasiat dan kewalian, pensyarah ibn Abil Hadid Al-Mu'tazili menulis bahwa tidak mungkin ada keraguan tentang kekhalifahan Amirul Mukminin, tetapi kewalian tak dapat mencakup kekhalifahan dalam pemerintahan, walaupun mazhab Syi'ah menafsirkannya demikian. Kewalian itu bermakna kewalian dalam pengetahuan. Sekarang, sekiranya menurut dia kewalian diartikan kewalian dalam pengetahuan sekalipun, nampaknya ia tidak berhasil dalam mencapai tujuannya, karena sekalipun dengan penafsiarannya itu, hak untuk menggantikan Nabi tidak berpindah pada seseorang mana pun lainnya. Bilamana disepakati bahwa penge?tahuan adalah syarat yang paling hakiki bagi kekhalifahan, karena fungsi ter-penting dari khalifah Nabi ialah pelaksanaan keadilan, penyelesaian masalah hukum-hukum agama, menjelaskan hal-hal yang rumit, dan melaksanakan hukum-hukum agama. Apabila tugas-tugas ini dilepaskan dari khalifah Nabi maka ke-dudukannya akan merosot menjadi pemerintahan duniawi. la tak dapat dipandang sebagai pusat wewenang keagamaan. Oleh karena itu kita harus memisahkan wewenang pemerintahan dari kekhalifahan Nabi, atau menerima kewalian penge?tahuan Nabi untuk kesesuaian dengan kedudukan itu.&lt;br /&gt;Interpretasi Ibn Abil Hadid dapat diterima, apabila Amirul Mukminin hanya mengucapkan kalimat ini saja. Tetapi, mengingat bahwa hal itu diucapkan segera setelah pengakuan terhadap Ali sebagai Khalifah, dan baru sesudah itu ada kalimat "hak itu telah kembali kepada pemiliknya", penafsirannya ini nampak tak beralasan. Malah, wasiat Nabi itu tak dapat berarti wasiat apa pun selain ke?khalifahan, dan kewalian bukan berarti kewalian dalam harta atau pengetahuan, karena bukan tempatnya untuk menyebutnya di sini. Kewalian itu harus berarti kewalian dalam hak kepemimpinan yang datangnya dari Allah; bukan sekadar atas dasar kekeluargaan tetapi atas dasar sifat-sifat kesempurnaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KHOTBAH 3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c0c0c0;"&gt;Dikenal sebagai Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c0c0c0;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000000;"&gt;أَمَا وَ اَللَّهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا فُلاَنٌ وَ إِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اَلْقُطْبِ مِنَ اَلرَّحَى يَنْحَدِرُ عَنِّي اَلسَّيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إِلَيَّ اَلطَّيْرُ فَسَدَلْتُ دُونَهَا ثَوْباً وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحاً وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِي بَيْنَ أَنْ أَصُولَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أَوْ أَصْبِرَ عَلَى طَخْيَةٍ عَمْيَاءَ يَهْرَمُ فِيهَا اَلْكَبِيرُ وَ يَشِيبُ فِيهَا اَلصَّغِيرُ وَ يَكْدَحُ فِيهَا مُؤْمِنٌ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ ترجيح الصبر فَرَأَيْتُ أَنَّ اَلصَّبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى فَصَبَرْتُ وَ فِي اَلْعَيْنِ قَذًى وَ فِي اَلْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِي نَهْباً حَتَّى مَضَى اَلْأَوَّلُ لِسَبِيلِهِ فَأَدْلَى بِهَا إِلَى فُلاَنٍ بَعْدَهُ ثُمَّ تَمَثَّلَ بِقَوْلِ اَلْأَعْشَى شَتَّانَ مَا يَوْمِي عَلَى كُورِهَا وَ يَوْمُ حَيَّانَ أَخِي جَابِرِ فَيَا عَجَباً بَيْنَا هُوَ يَسْتَقِيلُهَا فِي حَيَاتِهِ إِذْ عَقَدَهَا لِآخَرَ بَعْدَ وَفَاتِهِ لَشَدَّ مَا تَشَطَّرَا ضَرْعَيْهَا فَصَيَّرَهَا فِي حَوْزَةٍ خَشْنَاءَ يَغْلُظُ كَلْمُهَا وَ يَخْشُنُ مَسُّهَا وَ يَكْثُرُ اَلْعِثَارُ فِيهَا وَ اَلاِعْتِذَارُ مِنْهَا فَصَاحِبُهَا كَرَاكِبِ اَلصَّعْبَةِ إِنْ أَشْنَقَ لَهَا خَرَمَ وَ إِنْ أَسْلَسَ لَهَا تَقَحَّمَ فَمُنِيَ اَلنَّاسُ لَعَمْرُ اَللَّهِ بِخَبْطٍ وَ شِمَاسٍ وَ تَلَوُّنٍ وَ اِعْتِرَاضٍ فَصَبَرْتُ عَلَى طُولِ اَلْمُدَّةِ وَ شِدَّةِ اَلْمِحْنَةِ حَتَّى إِذَا مَضَى لِسَبِيلِهِ جَعَلَهَا فِي جَمَاعَةٍ زَعَمَ أَنِّي أَحَدُهُمْ فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اِعْتَرَضَ اَلرَّيْبُ فِيَّ مَعَ اَلْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ اَلنَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ اَلْآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ اَلْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اَللَّهِ خِضْمَةَ اَلْإِبِلِ نِبْتَةَ اَلرَّبِيعِ إِلَى أَنِ اِنْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ مبايعة علي فَمَا رَاعَنِي إِلاَّ وَ اَلنَّاسُ كَعُرْفِ اَلضَّبُعِ إِلَيَّ يَنْثَالُونَ عَلَيَّ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ حَتَّى لَقَدْ وُطِئَ اَلْحَسَنَانِ وَ شُقَّ عِطْفَايَ مُجْتَمِعِينَ حَوْلِي كَرَبِيضَةِ اَلْغَنَمِ فَلَمَّا نَهَضْتُ بِالْأَمْرِ نَكَثَتْ طَائِفَةٌ وَ مَرَقَتْ أُخْرَى وَ قَسَطَ آخَرُونَ كَأَنَّهُمْ لَمْ يَسْمَعُوا اَللَّهَ سُبْحَانَهُ يَقُولُ تِلْكَ اَلدَّارُ اَلْآخِرَةُ نَجْعَلُها لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اَلْأَرْضِ وَ لا فَساداً وَ اَلْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ بَلَى وَ اَللَّهِ لَقَدْ سَمِعُوهَا وَ وَعَوْهَا وَ لَكِنَّهُمْ حَلِيَتِ اَلدُّنْيَا فِي أَعْيُنِهِمْ وَ رَاقَهُمْ زِبْرِجُهَا أَمَا وَ اَلَّذِي فَلَقَ اَلْحَبَّةَ وَ بَرَأَ اَلنَّسَمَةَ لَوْ لاَ حُضُورُ اَلْحَاضِرِ وَ قِيَامُ اَلْحُجَّةِ بِوُجُودِ اَلنَّاصِرِ وَ مَا أَخَذَ اَللَّهُ عَلَى اَلْعُلَمَاءِ أَلاَّ يُقَارُّوا عَلَى كِظَّةِ ظَالِمٍ وَ لاَ سَغَبِ مَظْلُومٍ لَأَلْقَيْتُ حَبْلَهَا عَلَى غَارِبِهَا وَ لَسَقَيْتُ آخِرَهَا بِكَأْسِ أَوَّلِهَا وَ لَأَلْفَيْتُمْ دُنْيَاكُمْ هَذِهِ أَزْهَدَ عِنْدِي مِنْ عَفْطَةِ عَنْزٍ قَالُوا وَ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ اَلسَّوَادِ عِنْدَ بُلُوغِهِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضِعِ مِنْ خُطْبَتِهِ فَنَاوَلَهُ كِتَاباً قِيلَ إِنَّ فِيهِ مَسَائِلَ كَانَ يُرِيدُ اَلْإِجَابَةَ عَنْهَا فَأَقْبَلَ يَنْظُرُ فِيهِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ قَالَ لَهُ اِبْنُ عَبَّاسٍ يَا أَمِيرَ اَلْمُؤْمِنِينَ لَوِ اِطَّرَدَتْ خُطْبَتُكَ مِنْ حَيْثُ أَفْضَيْتَ فَقَالَ هَيْهَاتَ يَا اِبْنَ عَبَّاسٍ تِلْكَ شِقْشِقَةٌ هَدَرَتْ ثُمَّ قَرَّتْ قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ فَوَاللَّهِ مَا أَسَفْتُ عَلَى كَلاَمٍ قَطُّ كَأَسَفِي عَلَى هَذَا اَلْكَلاَمِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar)&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt; membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya.&lt;br /&gt;Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, di mana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan. Saya melihat perampokan warisan saya sampai orang yang pertama menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibnu Khaththab sesudah dirinya.&lt;br /&gt;Kemudian ia mengutip syair al-'A'sya':&lt;br /&gt;Hari-hariku kini berlalu di punggung unta (dalam kesulitan)&lt;br /&gt;Sementara ada hari-hari (kemudahan)&lt;br /&gt;Ketika aku menikmati pertemanan Hayyan, saudara Jabir.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Aneh bahwa selagi hidup ia ingin melepaskan diri dari kekhalifahan, tetapi ia mengukuhkannya untuk yang lainnya setelah matinya. Tiada ragu bahwa kedua orang ini sama bersaham pada puting-puting susunya semata-mata di antara mereka saja. Yang satu ini menempatkan kekhalifahan dalam suatu lingkungan sempit yang alot di mana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kesalahannya banyak, dan banyak pula dalihnya kemudian. Orang yang berhubungan dengannya adalah seperti penunggang unta binal. Apabila ia menahan kekangnya, hidungnya akan robek, tetapi apabila ia melonggarkannya maka ia akan terlempar. Akibatnya, demi Allah, manusia terjerumus ke dalam kesemberonoan, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Namun demikian saya tetap sabar walaupun panjang-nya masa dan tegarnya cobaan, sampai, ketika ia pergi pada jalan (kematian)nya, ia menempatkan urusan (kekhalifahan) pada suatu kelompok&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;[iv]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt; dan menganggap saya salah satu dari mereka. Tetapi, ya Allah, apa hubungan saya dengan "musyawarah" ini? Di manakah ada suatu keraguan tentang saya sehubungan dengan yang pertama dari mereka sehingga saya sekarang dipandang sama dengan orang-orang ini? Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sam-bil menelan harta Allah&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;[v]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt; seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.&lt;br /&gt;Pada waktu itu tak ada yang mengagetkan saya selain kerumunan orang yang maju kepada saya dari setiap sisi seperti bulu tengkuk rubah sehingga Hasan dan Husain terinjak dan kedua ujung baju bahu saya robek. Mereka berkumpul di sekitar saya seperti kawanan kambing. Ketika saya mengambil kendali pemerintahan, suatu kelompok memisahkan diri dan satu kelompok lain mendurhaka, sedang yang sisanya mulai menyeleweng seakan-akan mereka tidak mendengar kalimat Allah yang mengatakan, "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak in gin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) buini. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS. 28:83)&lt;br /&gt;Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mala mereka dan hiasannya menggoda mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah (untuk tumbuh) dan menciptakan makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya, dan para pendukung tidak mengajukan hujah, dan apabila tak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama. Maka Anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia Anda ini tidak lebih baik dari bersin seekor kambing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;Dikatakan bahwa ketika Arnirul Mukminin sampai di sini dalam khotbahnya, seorang lelaki dari 'Iraq berdiri dan menyerahkan kepadanya suatu tulisan. Amirul Mukminin melihat (tulisan) itu, dan ketika itu juga Ibn 'Abbas --semoga Allah meridai keduanya-- berkata, "Ya Amirul Muk&amp;shy;minin, saya harap Anda lanjutkan khotbah Anda dari mana Anda telah memutuskannya."&lt;br /&gt;Atasnya ia menjawab,&lt;br /&gt;"Wahai Ibn 'Abbas, hal itu seperti uap dengusan seekor unta yang menyembur keluar tetapi (kemudian) mereda."&lt;br /&gt;Ibn 'Abbas berkata bahwa ia tak pernah menyedihkan suatu ucapan sebagaimana atas yang satu ini, karena Amirul Mukminin a.s. tak dapat mengakhirinya sebagaimana diinginkannya.&lt;br /&gt;Sayid Radhi mencatat: Kata-kata dalam khotbah, "seperti penunggang unta" bermaksud menyampaikan bahwa bilamana seorang penunggang unta menarik kendali dengan kaku maka dengan sentakan itu lobang hidungnya akan memar, tetapi apabila ia melonggarkannya padahal unta itu liar, maka unta itu akan melemparkannya di suatu tempat dan akan lepas kendali. Asynaq an-nāqah digunakan bilamana si penunggang menarik kekang dan meninggikan kepala unta. Dalam pengertian yang sama digunakan juga kata syanaqa an-nāqah. Ibnu Sikkit telah menyebutkannya dalam Islāhul Manthiq. Amirul Mukminin telah mengatakan asynaqa lahā sebagai ganti asynaqaha, karena ia menggunakannya seirama dengan aslasa lahā dan keselarasan hanya dapat dipertahankan dengan mengunakan keduanya dalam bentuknya yang sama. Jadi, Amirul Mukminin menggunakan asynaqa lahā seakan-akan sebagai ganti in rafa'a lahā ra'sahā, yakni "apabila ia menghentikannya dengan menarik kekang".•&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt; Khotbah ini terkenal sebagai Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah dan dipandang sebagai salah satu khotbah Amirul Mukminin yang paling masyhur. Khotbah ini disampaikan di Ar-Rahbah (suatu bagian dari Kufah). Sebagian orang menyangkalnya sebagai ucapan Amirul Mukminin, dan mengatakan bahwa itu dibuat-buat oleh Sayid Radhi (Syarif Radhi) namun para ulama pencinta kebenaran telah menyanggah sangkalan itu. Tidak ada pula dasar untuk penyangkalan itu. Perbedaan pandangan Ali a.s. dalam hal kekhalifahan bukanlah rahasia, sehingga singgungan-singgungan semacam itu tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang asing. Dan, peristiwa yang telah disinggung dalam khotbah ini terpelihara dalam catatan-catatan sejarah yang membenarkannya, kata demi kata dan kalimat demi kalimat. Apabila peristiwa-peristiwa yang sama yang bertaian dengan sejarah dikatakan kembali oleh Amirul Mukminin maka manakah alasan untuk menyangkalinya? Apabila ingatan akan keadaan-keadaan yang tak menyenangkan segera setelah wafatnya Nabi nampak tak terlupakan baginya, tidaklah hal itu harus mengejutkan. Tiada ragu, khotbah ini mengenai prestise tokoh-tokoh tertentu dan mengurangi keyakinan dan kepercayaan kepada mereka. Tetapi, kepercayaan itu tak dapat dipulihkan dengan menolak khotbah ini sebagai ucapan Amirul Mukminin, kecuali apabila peristiwa-peristiwa yang sebenarnya dianalisa dan kebenarannya diungkapkan. Apabila tidak demikian, sekadar menolaknya sebagai ucapan Amirul Mukminin karena mengandung peremehan terhadap individu-individu tertentu, tidaklah berbobot, padahal kritik yang sama telah diriwayatkan oleh sejarawan lain pula. Maka, (Abu 'Utsman) 'Amr Ibnu Bahr Al-Jāhizh telah mencatat kata-kata berikut ini dari suatu khotbah Amirul Mukminin, dan kata-kata itu tidak kurang bobotnya daripada kritik dalam Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah.&lt;br /&gt;Yang dua ini meninggal dan yang ketiga bangkit seperti gagak yang keberaniannya terbatas pada perut. Akan lebih baik apabila kedua sayapnya terputus dan kepalanya terlepas.&lt;br /&gt;Alhasil, gagasan bahwa khotbah itu buatan Sayid Radhi adalah jauh dari kebenaran, dan hanya merupakan hasil partisan dan sikap memihak. Sekiranya tuduhan itu merupakan hasil suatu penelitian, haruslah dikernukakan. Bila tidak demikian maka bersikeras pada ilusi penuh hasrat semacam itu tidak mengubah kebenaran, tidak pula kekuatan argumen-argumen yang menentukan akan terpupuskan hanya dengan tidak setuju dan tak senang.&lt;br /&gt;Sekarang, marilah kita lihat kesaksian dari para ulama dan ahli periwayatan yang dengan tegas memandangnya sebagai asli dari Amirul Mukminin, supaya pentingnya secara historis diketahui. Di antara para ulama ini, sebagian hidup sebelum masa Sayid Radhi, sebagian semasa dengannya, dan sebagian sesudah-nya, tetapi mereka semua meriwayatkan melalui isnad mereka sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;(1) Ibnu Abil Hadid menuliskan bahwa gurunya Abul Khair Mushaddiq Ibnu Syabib al-Wasiti (m. 605 H.) menyatakan bahwa ia mendengar khotbah ini dari Syeikh Abu Muhammad 'Abdullah Ibnu Ahmad Al-Baghdadi (m. 567 H.) yang dikenal sebagai Ibnu Al-Khasysyab, dan ketika ia sampai di mana Ibnu 'Abbas menyampaikan kesedihannya karena khotbah ini tertinggal tak lengkap, IbnuKhasysyab mengatakan kepadanya bahwa apabila ia mendengar keluhan sedih Ibnu 'Abbas itu, pastilah ia sudah  menanyakan kepadanya apakah ada yang tertinggal pada saudara misannya itu suatu keinginan lain yang tak dipuaskan, karena, kecuali Nabi, ia tidak mengecualikan para pendahulunya maupun para penyusulnya, dan telah mengucapkan semua yang hendak diucapkannya.Maka, mengapa harus ada kesedihan bahwa ia tak dapat mengatakan apa yang diinginkannya? Mushaddiq mengatakan bahwa Ibnu Khasysyab adalah orang yang berhati ceria dan sopan santun. Ketika saya bertanya kepadanya apakah ia juga memandang khotbah itu sebagai buat-buatan, ia menjawab, "Demi Allah, saya percaya itu kata-kata Amirul Mukminin, sebagaimana saya percaya bahwa Anda adalah Mushaddiq Ibnu Syabib." Ketika saya katakan bahwasebagian orang menganggapnya buatan Sayid Radhi, ia menjawab, "Bagaimana mungkin Radhi dapat mempunyai keberanian demikian atau gaya penulisan seperti itu. Saya telah melihat tulisan-tulisan Radhi dan mengetahui gaya penulisannya. Di mana-mana tiada tulisannya menyerupai yang satu ini. Dan saya telah melihatnya pada buku-buku yang ditulis ratusan tahun sebelum lahirnya Sayid Radhi; dan saya telah melihatnya dalam tulisan-tulisan yangterkenal yang saya tahu ulama dan ahli sastra mana yang mengutip tulisan-tulisan itu. Pada masa itu, bukan saja Radhi, tetapi bahkan ayahnya, Abu Ahmad An-Naqib, belum lahir."&lt;br /&gt;(2) Setelah itu, Ibnu Abil Hadid menulis bahwa ia melihat khotbah ini dalam kompilasi-kompilasi gurunya Abul Qasim ('Abdullah Ibnu Ahmad) al-Balkhi (m. 317 H.). la pemimpin kaum Mu'tazilah dalam masa pemerintahan Muqtadir Billah, sedang masa Muqtadir jauh sebelum lahirnya Sayid Radhi.&lt;br /&gt;(3) la selanjutnya menulis bahwa ia melihat khotbah ini dalam buku Inshāf karya Ibnu Qibah (Abu Ja'far Muhammad Ibnu 'Abdur-Rahman). la murid Abul Qa sim al-Balkhi dan ulama mazhab Syi'ah Imamiah. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 205-206).&lt;br /&gt;(4) Ibnu Maltsam Al-Bahrani (m. 679 H.) menulis dalam syarahnya bahwa ia telah melihat satu salinan khotbah itu yang telah ditulis oleh menteri Muqtadir Billah, Abul Hasan Ali Ibnu Muhammad Ibnu Al-Furat (m. 312 H.) (Syarh al-Balāghah, I, h. 252-253).&lt;br /&gt;(5) Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi telah meriwayatkan isnad berikut tentang khotbah ini dari kompilasi Syeikh Qutbuddin ar-Rawandi, Minhājul Barā 'ah fī Syarh Nahjul Balāghah:&lt;br /&gt;"Syeikh Abu Nashr al-Hasan Ibnu Muahammad Ibnu Ibrahim menyampaikan kepada saya dari al-Hajib Abul Wafa' Muhammad Ibnu Badi', al-Husain Ibnu Ahmad Ibnu Badi' dan al-Husain Ibnu al-Husain Ibnu Ahmad Ibnu 'Abdur-Rahman, dan mereka (mendengar) dari al-Hafizh Abu Bakr (Ahmad Ibnu Musa) Ibnu Mardawaih al-Ishbahani (m. 426 H.) dan dia dari al-Hafizh Abul Qasim Sulaiman Ibnu Ahmad ath-Thabarani (m. 360 H.) dan dia dari Ahmad Ibnu Ali al-Abbar dan dia dari Ishaq Ibnu Sa'id Abu Salamah ad-Dimasyqi dan dia dari Khulaid Ibnu Da'laj dan dia dari Atha’ Ibnu Abi Rabah dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Biharul Anwār, edisi pertama, jilid VIII, h. 160-161).&lt;br /&gt;(6) Dalam konteks itu Allamah al-Majlisi menulis bahwa khotbah ini juga termuat dalam kompilasi Abu Ali (Muhammad Ibnu 'Abdul Wahhab) al-Jubba'i (m. 303 H.).&lt;br /&gt;(7) Dalam hubungan dengan otentiknya khotbah ini sendiri, Allamah al-Majlisi menulis:&lt;br /&gt;"Qadhi 'Abdul Jabbar Ibnu Ahmad al-Asadabadi (415 H.), seorang Mu'tazilah yang tegar, menerangkan beberapa ungkapan dari khotbah ini dalam buku Al-Mughni dan berusaha membuktikan bahwa khotbah itu tidak menyerang para khalifah mana pun sebelumnya, tetapi tidak menolak bahwa itu komposisi Amirul Mukminin." (Ibid., h. 161).&lt;br /&gt;(8) Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ali, Ibnu Babawaih (m. 381 H.) menulis:&lt;br /&gt;"Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Ishaq ath-Thalaqani mengatakan kepada kami bahwa 'Abdul 'Aziz Ibnu Yahya al-Jaludi (m. 332 H.) mengatakan kepadanya bahwa Abu 'Abdullah Ahmad Ibnu 'Ammar Ibnu Khalid mengata&amp;shy;kan kepadanya bahwa Yahya Ibnu 'Abdul Hamid al-Himmani (m. 228 H.) mengatakan kepadanya bahwa 'Isa Ibnu Rasyid meriwayatkan khotbah ini dari Ali Ibnu Hudzaifah, dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Ilal asy-Syarā'i, bab XXII, h. 360-361).&lt;br /&gt;(9) Kemudian Ibnu Babawaih mencatat rangkaian isnad berikut:&lt;br /&gt;"Muhammad Ibnu Ali Majilawaih meriwayatkan khotbah ini kepada kami, dan ia mengambilnya dari pamannya Muhammad Ibnu Abil Qasim, dia dari Ahmad Ibnu Abi 'Abdillah (Muhammad Ibnu Khalid) al-Barqi dan dia dari ayahnya dan dia dari Muhammad Ibnu Abi 'UMalr dan dia dari Aban Ibnu 'Utsman dan dia dari Aban Ibnu Taghlib dan dia dari 'Ikrimah dan dia dari Ibnu 'Abbas. ('Ial asy-Syarā'i', I, bab 122, h. 146; Ma'am al-Akhbar, bab 22, h. 361).&lt;br /&gt;(10)  Abu Ahmad al-Hasan Ibnu 'Abdillah Ibnu Sa'id al-'Askari (m. 382 H.), yangtergolong ulama besar Sunni, telah menulis syarah dan penjelasan tentang khotbah ini, yang telah dicatat oleh Ibnu Babawaih dalam. 'Ial asy-Syard'i dan Ma 'dni al-Akhbār.&lt;br /&gt;(11)  Sayid Ni'matullah al-Jaza'iri menulis:&lt;br /&gt;"Penulis Kitdb al-Ghardt, Abu Ishaq, Ibrahim Ibnu Muhammad ats-Tsaqafi al-Kufi (m. 283 H.) telah meriwayatkan khotbah ini melalui rangkaian sanad-nya sendiri. Tanggal selesainya menulis buku ini hari Selasa, 13 Syawal 255 H. dan pada tahun itu juga Murtadha al-Musawi lahir. la lebih tua dari saudaranya Sayid RadhT." (Anwar an-Nu 'māniyyah, h. 37).&lt;br /&gt;(12)  Sayid Radhiuddin Abul Qasim Ali Ibnu Musa, Ibnu Thawus al-Husaini al-Hilli (m. 664 H.) telah meriwayatkan khotbah ini dari Kitab al-Ghārāt dengan rangkaian sanad berikut:&lt;br /&gt;"Khotbah ini diriwayatkan kepada kami oleh Muhammad Ibnu Yusuf, yang meriwayatkan dari Hasan Ibnu Ali Ibnu 'Abdul Karim az-Za'farani, dan ia (meriwayatkan) dari Muhammad Ibnu Zakariyya al-Ghallabi, dan dia dari Ya'qub Ibnu Ja'far Ibnu Sulaiman, dan dia dari ayahnya, dan dia dari kakek-nya, dan dia dari Ibnu 'Abbas." (terjemahan Ath-Thara'if, h. 202)&lt;br /&gt;(13) Syeikh ath-Tha'ifah, Muhammad Ibnu al-Hasan ath-Thusi (m. 460 H.) me&amp;shy;nulis:&lt;br /&gt;"(Abul Path Hilal Ibnu Muhammad Ibnu Ja'far) al-Haffar meriwayatkan khot&amp;shy;bah ini kepada kami. la meriwayatkan dari Abdul Qasim (Isma'il Ibnu Ali Ibnu Ali) ad-Di'bili, dan dia dari ayahnya, dan dia dari saudaranya Di'bil (Ibnu Ali al-Kuza'i), dan dia dari Muhammad Ibnu Salamah asy-Syami, dan dia dari Zurarah Ibnu A'yan dan dia dari Abu Ja'far Muhammad Ibnu Ali (asy-Syeikh ash-Shaduq), dan dia dari Ibnu 'Abbas." (Al-Amali, h. 137)&lt;br /&gt;(13)  Syeikh Mufid (Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu an-Nu'man, m. 413 H.), guru Sayid Radhi, menulis tentang rangkaian sanad khotbah ini:&lt;br /&gt;"Sejumlah periwayat hadis telah meriwayatkan khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai isnad." (Al-Irsyād, h. 135)&lt;br /&gt;(15)  'Alam al-Huda (lambang petunjuk) Sayid Murtadha, kakak Sayid Radhi, telah mencatatnya pada h. 203-204 bukunya Asy-Sydfi.&lt;br /&gt;(16)  Abu Manshur ath-Thabarsi menulis:&lt;br /&gt;"Sejumlah perawi telah meriwayatkan tentang khotbah ini dari Ibnu 'Abbas melalui berbagai sanad. Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa ia bersama Amirul Mukminin di ar-Rahbah; ketika percakapan beralih kepada kekhalifahan dan mereka yang telah mendahuluinya sebagai Khalifah, Amirul Mukminin menghembuskan nafas keluhan dan menyampaikan khotbah ini." (Al-Ihtijaj)&lt;br /&gt;(17)  Abu al-Muzhaffar Yusuf Ibnu 'Abdillah dan Sibth Ibnu Jauzi al-Hanafi (m. 654 H.) menulis:&lt;br /&gt;"Syeikh kita Qasim an-Nafts al-Anbari meriwayatkan khotbah ini kepada kami melalui rangkaian sanadnya yang berakhir pada Ibnu 'Abbas, yang mengatakan bahwa setelah dilakukan pembaiatan kepada Amirul Muk&amp;shy;minin sebagai khalifah, ia sedang duduk di mimbar ketika seorang laki-laki dari hadirin bertanya mengapa ia berdiam diri ketika itu, lalu Amirul Mukminin serta merta mengucapkan khotbah ini." (Tadzkirat Khawashsh al-Ummah, h. 73)&lt;br /&gt;(18) Qadhi Ahmad Ibnu Muhammad, asy-Syihab al-Khafaji (m. 1069 H.) menulis setalian dengan keasliannya:&lt;br /&gt;"Dinyatakan dalam ucapan-ucapan Amirul Mukminin Ali (ra), 'Aneh, selama hayatnya ia (Abu Bakar) hendak melepaskan kekhalifahannya, tetapi ia memperkuat fondasinya untuk orang lain setelah matinya.'" (Syarh Durrat al-Ghawwash, h. 17)&lt;br /&gt;(19) Syeikh 'Ala ad-Daulah as-Simnani menulis:&lt;br /&gt;"Amirul Mukminin SayyidAl-'Arifin Ali a.s. telah menyatakan dalam satu khotbahnya yang cemerlang, "Ini syiqsyiqah yang menyembur keluar". (al-'Urwah li Ahl al-Khalwah wa al-Jalwah, h. 3, naskah di Perpustakaan Nasiriah, Lucknow, India)&lt;br /&gt;(20) Abul Fadhl Ahmad Ibnu Muhammad al-Maldant (m. 518 H.) menulis sehubungan dengan kata syiqsyiqah:&lt;br /&gt;"Satu khotbah Amirul Mukminin terkenal sebagai Khotbah asy-Syiqsyt-qiyyah (khotbah busa unta)." (Majma' al-Amtsāl, jilid I, h. 369)&lt;br /&gt;(21) Pada lima belas tempat dalam An-Nihayah, sementara menerangkan kata-kata dari khotbah ini, Abu as-Sa'adat Mubarak Ibnu Muhammad, Ibnu al-Atsir al-Jazari (m. 606 H.) telah mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;(22) Syeikh Muhammad Thahir Patnt, ketika menerangkan kata-kata itu dalam Majma' al-Bihar al-Anwar, membenarkan khotbah ini dari Amirul Muk&amp;shy;minin dengan kata-kata, "Ali mengatakan demikian."&lt;br /&gt;(23) Abul Fadhl Ibnu Manzur (m. 711 H.) telah mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin, dalam Lisan al-'Arab, jilid XII, h. 54, dengan mengata&amp;shy;kan, "Itu adalah busa unta yang mencetus, kemudian mereda."&lt;br /&gt;(24) Majduddln al-Firuzabadt (m. 816/7 H.) telah mencatat kata syiqsyiqah dalam kamusnya (Al-Qdmus, III, h. 251):&lt;br /&gt;"Khotbah asy-Syiqsytqiyyah Ali dinamakan demikian karena ketika Ibnu 'Abbas meminta kepadanya untuk meneruskannya di mana ia telah me-ninggalkannya, ia berkata, "Wahai, Ibnu 'Abbas! Itu busa unta (syiqsyiqah) yang mencetus keluar lalu mereda."&lt;br /&gt;(25)  Penyusun Muntahd al-Adab menuliskan:&lt;br /&gt;"Khotbah Asy-Syiqsyiqiyyah Ali diatributkan pada Ali (karramallahu wajhahu)."&lt;br /&gt;(26) Syeikh Muhammad 'Abduh, Mufti Mesir, mengakuinya sebagai ucapan Amirul Mukminin; ia telah menulis keterangannya dalam bukunya Syarh Nahjul Baldghah.&lt;br /&gt;(27) Muhammad Muhyiddm 'Abdul Hamid, guru besar pada Fakultas Bahasa Arab, Universitas al-Azhar, telah menulis anotasi tentang Nahjul Baldghah dengan membubuhkan prakata, di mana ia mengakui semua khotbah yang mengandung pernyataan-pernyataan menyinggung semacam itu sebagaiucapan Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;Di hadapan semua penyaksian dan semua bukti yang tak tersangkal ini, tidak ada tempat untuk menganggap bahwa khotbah itu bukan dari Amirul Mukminin dan bahwa itu buatan Sayid Radhi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt; Amirul Mukminin mengacu pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah, sebagai berbusana dengan itu. Ini kiasan biasa. Maka, ketika 'Utsman diminta untuk menyerahkan kekhalifahan, ia menjawab, "Saya tidak akan menanggalkan busana yang telah dipakaikan Allah kepadaku ini." Tiada ragu bahwa Amirul Mukminin tidak mengatributkan "baju kekhalifahan" ini kepada Allah, melainkan kepada Abu Bakar sendiri, karena menurut pandangan ijmak, kekhalifahannya bukanlah dari Allah melainkan urusannya sendiri. Itulah sebabnya Amirul Muk&amp;shy;minin mengatakan bahwa Abu Bakar membusanai dirinya sendiri dengan kekhalifahan. la mengetahui bahwa busana ini telah dijahit untuk badannya sendiri, sedang kedudukannya sendiri sehubungan dengan kekhalifahan adalah kedudukan poros pada penggiling yang dapat mempertahankan posisi pusatnya dan tak ada gunanya tanpa itu. Seperti itu pula, ia berpendapat, "Saya adalah sumbu pusat kekhalifahan; bila saya tidak di sana, seluruh sistemnya akan tersesat dari pusat&amp;shy;nya. Sayalah yang bertindak sebagai pengawal bagi organisasi dan ketertibannya, dan mengawalnya melewati berbagai kesulitan. Arus pengetahuan mengalir dari dada saya dan mengairinya pada semua sisi. Kedudukan saya tinggi di atas ima-jinasi, tetapi pencari keserakahan duniawi untuk pemerintahan menjadi batu sandungan bagi saya, dan saya harus mengurung diri dalam keterasingan. Kegelapan yang membutakan merajalela di mana-mana, gelap pekat di mana-mana. Yang muda menjadi tua dan yang tua berpisah ke kuburan, tetapi masa menanggung sabar ini tak mau berakhir. Saya terus melihat dengan mata saya penjarahan atas warisan saya dan melihat berlalunya kekhalifahan dari satu tangan ke tangan lain, tetapi saya tetap bersabar, karena tak dapat menghentikan kesewenang-wenangan mereka tanpa sarana."&lt;br /&gt;Perlunya Khalifah dan Cara Pengangkatannya&lt;br /&gt;Setelah Nabi Muhammad (saw) wafat, dibutuhkan adanya pribadi yang mampu mencegah perpecahan umat dan mengawal hukum Islam dari perubahan, pengubahan dan penyelewengan oleh orang-orang yang hendak memenuhi hawa nafsunya. Bila kebutuhan mendesak ini disangkal maka mengapa suksesi Nabi dianggap begitu penting sehingga pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah dipandang lebih utama daripada penguburan Nabi? Bila kebutuhan ini diakui, maka timbul pertanyaan apakah Nabi juga menyadarinya atau tidak. Bila kita anggap beliau tidak menyadarinya dan tidak dapat menilai ada atau tiadanya kebutuhan tersebut, maka hal ini akan merupakan bukti yang sangat kuat untuk menganggap bahwa Nabi tidak memikirkan cara menyetop kejahatan-kejahatan bidah dan hojatan; padahal beliau telah memberikan peringatan-peringatan tentang masaalah ini.&lt;br /&gt;Apabila dikatakan bahwa beliau menyadari kebutuhan akan adanya pribadi tersebut tetapi tidak membereskannya, karena melihat adanya manfaat dengan membiarkannya, maka beliau tidak akan mendiamkannya tanpa menunjukkan manfaat itu dengan jelas; apabila tidak demikian maka mendiamkan masalah tersebut tanpa tujuan merupakan pelanggaran dalam pelaksanaan tugas Kenabian. Apabila ada halangan, haruslah pula diungkapkan. Karena Nabi tidak meninggalkan masalah agama dalam keadaan tidak sempurna maka beliau tidak akan membiarkan masalah ini terbengkalai, melainkan akan mengajukan jalan pemecahan untuk mengamankan agama dari campur tangan orang lain.&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang, bagaimana seharusnya pengambilan keputusan pada masa awal tersebut dan apa yang akan dilakukan. Bila keputusan itu berdasarkan konsensus umat maka hal itu tidak mungkin terjadi, karena pada konsensus semacam itu diperlukan adanya persetujuan tiap individu; tetapi mengingat perbedaan temperamen manusia, maka mustahil mereka akan sepakat. Tak ada contoh di masa itu di mana keputusan dapat diambil dengan mufakat tanpa satu pun yang menolak. Maka bagaimana mungkin kebutuhan mendasar semacam itu digantungkan pada terjadinya peristiwa yang mustahil seperti itu, sedangkan kebutuhan itu menyangkut masa depan Islam dan kemaslahatan umat. Oleh karena itu maka akal sehat tidak dapat menerima tolok ukur ini. Tidak ada pula sunah yang selaras dengannya sebagaimana ditulis oleh Qadhi 'AdhuddTn al-'Ijlt dalam Syarh al-Mawāqif:&lt;br /&gt;"Anda seharusnya tahu bahwa kekhalifahan tidak dapat bergantung pada ijmak pemilihan, karena tidak ada argumen yang logis atau sunah yang dapat dijadikan sandaran."&lt;br /&gt;Kenyataannya, tatkala para pembela pemilihan dalam pelaksanaannya sukar mencapai aklamasi, mereka lalu menempuh persetujuan mayoritas dengan mengabaikan minoritas.&lt;br /&gt;Dalam hal semacam ini sering juga terjadi kekuatan jujur ataupun palsu, cara benar atau tidak, mengubah arus pendapat mayoritas dan mengabaikan keutamaan individu dan kebajikan pribadi. Akibatnya, orang yang mampu dan jujur ter-sembunyi, dan yang tidak kompeten maju ke depan. Bila orang berkemampuan tersisih, terhalang oleh ambisi-ambisi pribadi, lalu bagaimana mengharapkan adanya pemilihan orang yang tepat? Sekalipun, misalnya, semua pemberi suara punya kebebasan dan tidak memihak, lidaklah mesti keputusan mayoritas harus benar dan tak tersesat. Pengalaman menunjukkan bahwa setelah keputusan dijalankan, mayoritas lalu berpendapat bahwa keputusannya sendiri ternyata salah. Bila setiap keputusan mayoritas benar, maka keputusannya yang pertama adalah salah, karena keputusan yang menganggapnya salah adalah juga dari mayoritas.&lt;br /&gt;Tentang pendapat bahwa untuk menghindari kekacauan maka tokoh-tokoh umat dibiarkan memilih siapa saja yang mereka sukai, di sini pun pergesekan dan pertengkaran akan merajalela. Karena, di sini juga pemusatan watak manusia untuk satu persetujuan tidaklah mesti, dan tidak dapat juga dikatakan bahwa mereka dapat mengatasi tujuan-tujuan pribadi mereka. Dalam kenyataannya di sini konflik dan benturan akan lebih kuat. Karena, kalau tidak semua, sekurang-kurangnya kebanyakan dari mereka ingin menjadi calon dan akan berusaha dengan segala daya untuk mengalahkan lawannya, dan membuka jalan yang sebaik-baiknya untuk dirinya. Akibat yang tidak dapat dihindarkan ialah pergumulan dan pergolakan.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, tidak mungkin menyingkirkan bencana dengan cara ini, dan ketimbang menemukan tokoh yang tepat, umat hanya akan jadi alat untuk me-menuhi ambisi pribadi orang lain. Lagi pula, bagaimana seharusnya tolok ukur orang yang akan memegang tampuk kekuasaan ini? Sebagaimana biasa, siapa saja yang dapat mengumpul beberapa pendukung dan mampu membuat geger dan ribut-ribut dalam suatu pertemuan dengan menggunakan kata-kata keras maka dialah yang dianggap paling tepat sebagai penguasa. Ataukah kemampuan seseorang juga akan dinilai? Bila penilaian kemampuan seseorang ditentukan juga dengan cara pemilihan umum seperti ini, maka kerumitan dan kekacauan serupa akan muncul. Bila ada patokan lain, maka sebagai ganti menilai para pemberi suara seperti itu, mengapa tidak menilai orang yang dipandang pantas untuk kedudukan itu? Selanjutnya berapa banyak tokoh yang dianggap cukup untuk mengambil keputusan? Jelas bahwa sekali patokan ini diambil maka hal ini akan jadi preseden, teladan dan contoh di masa mendatang, dan jumlah orang yang berwenang mengambil keputusan akan jadi patokan juga di masa depan. Qadhi al-'Ajali menulis:&lt;br /&gt;"Malah satu atau dua orang telah cukup menentukan terpilihnya pemimpin, karena kita tahu bahwa para ulama yang tegas dalam agama menganggap cukup pengangkatan Abu Bakar oleh 'Umar dan pengangkatan 'Utsman oleh 'Abdur-Rahman." (Syarh al-Mawaqif, h. 351)&lt;br /&gt;Beginilah riwayat "Pemilihan secara mufakat" di Saqifah Bani Sa'idah dan kegiatan Syura dalam pemilihan 'Utsman: tindakan satu orang telah diberi nama "pemilihan secara mufakat", dan perbuatan satu orang dinamakan majelis syura. Abu Bakar telah memahami kenyataan bahwa pemilihan berarti hanya satu atau dua suara yang akan diatributkan pada rakyat umum yang sederhana. Itulah sebabnya ia mengabaikan tuntutan dengan suara bulat, suara mayoritas atau metode pemilihan melalui majelis yang dipilih, dan ia sendiri mengangkat 'Umar. 'A'isyah pun memandang bahwa membiarkan masalah kekhalifahan pada suara beberapa individu berarti mengundang kekacauan dan kesulitan. la mengirimkan pesan kepada 'Umar menjelang matinya:&lt;br /&gt;"Jangan biarkan umat Islam tanpa pemimpin. Angkatlah seorang khalifah untuk itu dan jangan Anda tinggalkan umat tanpa pewenang, karena apabila tidak demikian saya melihat kekacauan dan kesulitan."&lt;br /&gt;Ketika pemilihan oleh orang yang berwenang terbukti gagal, hal itu ditinggalkan, dan hanya "kekuatan adalah kebenaran" yang menjadi ukurannya—yakni siapa saja yang menundukkan dan menguasai orang lain, diterima sebagai khalifah Nabi dan pelanjutnya yang sebenarnya. Ini prinsip buatan sendiri, padahal ada serangkaian hadis Nabi yang disampaikan pada "Pertemuan 'Asyirah", pada ma-lam Hijrah, pada Perang Tabuk, pada kesempatan menyampaikan surah al-Bara'ah (at-Taubah) dan di Ghadlr Khum. Yang aneh, setiap orang dari khalifah itu di-dasarkan pada pilihan individu, sementara pilihan Nabi sendiri ditolak! Padahal, penunjukan oleh Nabi adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri perselisihan, yakni bahwa Nabi sendiri yang semestinya menyelesaikan dan menyelamatkan umat dari kekacauan-kekacauan di masa depan dan menghindarkan pengambilan keputusan di tangan orang-orang yang terlibat dalam tujuan dan maksud-maksud pribadi. Ini prosedur yang tepat yang sesuai dengan nalar dan juga mendapat dukungan hadis-hadis Nabi yang tegas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt; Hayyan Ibnu Samin al-Hanafi al-Yamamah adalah kepala suku Bani Hanifah dan penguasa benteng dan tentara. Jabir adalah nama adiknya, sedang A'sya, yang nama sesungguhnya Malmun Ibnu Qais Ibnu Jandal, adalah sahabat karib dan hidup pantas dan bahagia atas kemurahannya. Dalam bait syair ini ia membandingkan kehidupannya sekarang ini dengan yang sebelumnya, yakni masa ketika ia berkelana mencari nafkah, dengan masa hidup berbahagia bersama Hayyan. Pada umumnya dianggap bahwa Amirul Mukminin mengutip bait ini untuk mem&amp;shy;bandingkan masanya yang kesusahan dengan masa-masa daMal yang dilaluinya dalam asuhan dan perlindungan Nabi, ketika ia bebas dari segala kerisauan dan menikmati kedaMalan mental. Tetapi, mengingat peristiwa ia membuat perbandingan ini, serta pokok bait syair itu, bukanlah penjelasan yang dicari-cari apabila itu dianggap menunjukkan perbedaan antara kedudukan yang tak penting dari orang-orang yang sekarang sedang berkuasa, di masa kehidupan Nabi, dan wewenang dan kekuasaan mereka sesudahnya; yakni, pada masa Nabi tiada perhatian diberikan kepada mereka, karena kepribadian Ali; tetapi, sekarang waktu telah berubah demikian rupa sehingga orang-orang itu menjadi penguasa dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;[iv]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt; Ketika 'Umar terluka oleh Abu Lu'lu'ah dan ia melihat bahwa sulit baginya untuk hidup lebih lama lagi, karena luka yang parah itu, ia membentuk suatu komite musyawarah (Syura) dan menunjuk Ali Ibnu Abt Thalib, 'Utsman Ibnu 'Affan, 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf, Zubair Ibnu 'Awwam, Sa'id Ibnu Abi Waqqash dan Talhah Ibnu 'Ubaidillah, seraya mengikat mereka dengan ketentuan bahwa setelah tiga hari sesudah kematiannya, mereka harus memilih salah seorang di antara mereka sendiri sebagai khalifah, sementara untuk tiga hari itu Shuhaib akan bertindak sebagai khalifah sementara.&lt;br /&gt;Ketika menerima instruksi ini, beberapa orang bertanya kepadanya bagaimana pikirannya tentang setiap orang dari mereka itu, untuk memungkinkan mereka berlaku sesuai dengan sorotannya. Karenanya, 'Umar mengungkapkan pandangannya sendiri tentang setiap individu itu. Ia mengatakan bahwa Sa'd bertempramen kasar dan berkepala panas; 'Abdurrahman adalah Fir'aunnya umat; Zubair, apabila disenangkan, adalah seorang mukmin yang sebenarnya, tetapi apabila tidak disenangkan adalah seorang kafir; Thalhah adalah pengejawantahan kebanggaan dan kesombongan, yang apabila dijadikan khalifah ia akan memasang cincin kekhalifahan di jari istrinya, sedang 'Utsman tidak melihat melampaui keluarga-nya. Mengenai Ali, ia terpikat kekhalifahan, walalupun saya tahu hanya ia sendiri yang dapat melaksanakannya pada garis yang benar.&lt;br /&gt;Walaupun demikian pengakuannya, ia menganggap perlu untuk membentuk Syura itu, dan dalam memilih para anggotanya dan meletakkan prosedur kerjanya, ia meyakinkan bahwa kekhalifahan akan mengarah ke mana ia menginginkannya. Maka, seorang yang berkebijaksanaan biasa dapat mengambil kesimpulan bahwa semua faktor keberhasilan 'Utsman terdapat di dalamnya.&lt;br /&gt;Apabila kita perhatikan para anggotanya, kita lihat bahwa, pertama, 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf adalah suami saudara perempuan 'Utsman; berikutnya, Sa'd Ibnu AbT Waqqash, selain menaruh dengki terhadap Ali, adalah teman dan keluarga 'Abdur-Rahman; keduanya tak dapat diharapkan akan menentang 'Utsman.&lt;br /&gt;Yang ketiga, Thalhah Ibnu 'Ubaidillah yang tentangnya Muhammad 'Abduh menulis dalam anotasinya mengenai Nahjul Balaghah:&lt;br /&gt;"Thalhah cenderung kapada 'Utsman, dan sebabnya adalah tak kurang dari ia menentang Ali, karena ia sendiri seorang anggota suku Taim, dan naiknya Abu Bakar pada kekhalifahan telah menciptakan perseteruan antara Bani Taim dan Bani Hasyim."&lt;br /&gt;Mengenai Zubair, sekiranyapun ia memilih Ali, apa gunanya satu suara ini? Menurut pernyataan Thabari, Thalhah tidak hadir di Madinah pada waktu itu, tetapi absennya tidak menghalangi keberhasilan 'Utsman. Malah, sekiranyapun ia hadir, sebagaimana ia akhirnya datang ke Syura itu, dan ia dianggap pendukung Ali, tetap tidak akan meragukan keberhasilan 'Utsman, karena pikiran 'Umar yang cerdik telah menetapkan prosedur bahwa:&lt;br /&gt;"Apabila dua orang menyetujui yang satu, sedang yang dua orang lagi me-nyetujui seorang lainnya, maka 'Abdullah Ibnu 'Umar akan bertindak sebagai penengah. Kelompok yang diperintahkannya harus mamilih khalifah di antara mereka sendiri. Apabila mereka tidak menerima keputusan 'Abdullah Ibnu 'Dinar, maka dukungan harus diberikan kepada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf; tetapi, apabila yang lain-lainnya tidak menyetujuinya maka mereka harus dipancung kepalanya karena menentang ke&amp;shy;putusan ini." (Thabari, I, h. 2779-2780; Ibnu Atsir, III, h. 67)&lt;br /&gt;Di sini ketidaksepakatan dengan keputusan 'Abdullah Ibnu 'Umar tidak berarti apa-apa, karena ia diarahkan untuk mendukung kelompok yang meliputi 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf. la telah memerintahkan anaknya 'Abdullah, dan Shuhaib, bahwa:&lt;br /&gt;"Apabila orang-orang itu berselisih, Anda harus memihak kepada mayoritas; tetapi apabila ada tiga di antara mereka di satu sisi dan tiga di sisi lainnya, Anda harus memihak pada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf." (Thabari, jilid I, h. 2725, 2780; Ibnu AtsTr, jilid II, h. 51, 67)&lt;br /&gt;Dalam instruksi ini persetujuan mayoritas juga berarti mendukung 'Abdur-Rahman, sebab mayoritas tak mungkin memihak pada siapa pun lainnya, karena lima puluh pedang haus darah telah disiapkan terhadap kelompok lawan, dengan perintah untuk memancung kepala mereka atas keputusan 'Abdur-Rahman. Mata Amirul Mukminin telah membaca pada saat itu juga bahwa kekhalifahan akan berpindah kepada 'Utsman, sebagaimana nampak pada kata-kata berikut ini, yang disampaikannya kepada 'Abbas Ibnu 'Abdul Muththalib:&lt;br /&gt;"Kekhalifahan telah disingkirkan dari kami." 'Abbas bertanya bagaimana ia mengetahuinya. Lalu ia menjawab, '"Utsman juga telah disetarakan dengan saya, dan telah diatur bahwa mayoritas harus didukung; tetapi, apabila dua orang menyetujui yang satu, dan dua lagi menyetujui yang lain, maka dukung&amp;shy;an harus diberikan kepada kelompok di mana termasuk 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf. Nah, Sa'd akan mendukung saudara sepupunya 'Abdur-Rahman yang tentu saja adalah suami saudara perempuan 'Utsman." (ibid)&lt;br /&gt;Alhasil, setelah wafatnya 'Umar, pertemuan ini berlangsung di rumah 'A'isyah. Di pintunya berdiri Abu Thalhah al-Anshari dengan lima puluh orang yang telah menghunus pedang di tangannya. Thalhah memulai acara, dan seraya mengundang semua yang lain-lainnya untuk menyaksikan, ia berkata bahwa ia memberikan hak pilihnya kepada 'Utsman. Ini menyinggung harga diri Zubair karena ibunya Safiyyah putri 'Abdul Muthtalib adalah saudara perempuan ayah Nabi. Maka ia memberikan hak suaranya kepada Ali. Sesudah itu Sa'd Ibnu Abi Waqqash memberikan hak suaranya kepada 'Abdur-Rahman. Tinggal tiga anggota Syura yang belum memilih, di antaranya 'Abdur-Rahman Ibnu 'Auf yang mengatakan ia mau melepaskan haknya sendiri untuk dipilih apabila Ali a.s. dan 'Utsman memberikan hak kepadanya untuk memilih seseorang di antara mereka, atau salah satu di antara kedua orang ini harus mendapatkan hak memilih dengan jalan menarik diri dari pencalonan. Ini perangkap di mana Ali telah dilibat dari semua sisi, yakni ia harus meninggalkan haknya sendiri atau mengizinkan 'Abdur-Rah&amp;shy;man bertindak semaunya. Yang pertama tak mungkin baginya, yakni melepaskan haknya dan memilih 'Utsman atau 'Abdur-Rahman. Maka, ia berpegang pada haknya, sementara 'Abdur-Rahman melepaskan diri dari pencalonan itu lalu me-megang kekuasaan ini seraya berkata kepada Amirul Mukminin, "Saya membaiat Anda dengan syarat Anda mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan perilaku kedua Syeikh (Abu Bakar dan 'Umar)." Ali menjawab, "Akan mengikuti Kitab Allah, sunah Nabi dan pendapat saya." Ketika ia memberikan jawaban yang sama seka-lipun pertanyaan itu telah diulang tiga kali, 'Abdur-Rahman berpaling kepada 'Utsman seraya berkata, "Apakah Anda menerima persyaratan ini?" 'Utsman tidak beralasan untuk menolak; maka ia menyetujui persyaratan itu, dan baiat pun dilakukan baginya. Ketika Amirul Mukminin melihat haknya terpijak-pijak demikian, ia berkata:&lt;br /&gt;"Ini bukan hari pertama Anda berlaku menentang kami. Saya hanya harus bersabar. Allah adalah Penolong terhadap segala yang Anda katakan. Demi Allah, Anda tidak membuat 'Utsman menjadi khalifah melainkan dengan harapan bahwa ia akan mengembalikan kekhalifahan kepada Anda."&lt;br /&gt;Setelah mencatat peristiwa Syura (komite musyawarah pengangkatan 'Utsman itu), Ibnu Abil Hadid menulis bahwa ketika pembaiatan telah dilakukan kepada 'Utsman, Ali menegur 'Utsman dan 'Abdur-Rahman dengan mengatakan, "Semoga Allah menaburkan benih perselisihan di antara Anda," dan demikian terjadinya sehingga keduanya bermusuhan sengit, dan 'Abdur-Rahman tak pernah lagi berbicara dengan 'Utsman hingga matinya. Bahkan di ranjang kematiannya ia memalingkan muka ketika melihat 'Utsman.&lt;br /&gt;Melihat peristiwa ini timbul pertanyaan, apakah Syura bermaksud membatasi urusan kepada enam orang, kemudian kepada tiga orang, dan akhirnya hanya pada satu orang saja? Juga, apakah syarat untuk mengikuti perilaku kedua Syeikh untuk kekhalifahan ditetapkan oleh 'Umar, atau hanya sekadar halangan yang diletakkan oleh 'Abdur-Rahman antara Ali a.s. dan kekhalifahan; khalifah yang per&amp;shy;tama tidak meletakkan syarat pada waktu mengangkat khalifah yang kedua, yakni bahwa ia harus mengikuti langkah-langkah khalifah yang pertama. Maka, apakah alasan untuk syarat itu di sini?&lt;br /&gt;Namun, Amirul Mukminin telah menyetujui untuk turut serta dalam Syura itu untuk menjauhkan bencana dan untuk menghentikan orang menggunakannya sebagai dalih, sehingga orang-orang lain dibungkamkan dan tak akan dapat meng-aku bahwa mereka sebenarnya akan memilih dia dan bahwa ia sendiri meng-elakkan komite musyawarah itu dan tidak memberikan kesempatan kepada mereka memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/003.htm#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;[v]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt; Tentang pemerintahan khalifah yang ketiga itu, Arnirul Mukminin mengatakan bahwa scgera setelah ia berkuasa, Ban? Umayyah mendapatkan lahan dan mulai menjarahi Baitul Mal (perbendaharaan negara), dan seperti ternak melihat rumput hijau setelah musim kemarau, dengan sembrono mereka mcnyerbu uang milik Allah lalu melahapnya. Akhirnya keserakahan dan nepotisme ini membawa&amp;shy;nya ke tahap di mana rakyat mengepung rumahnya, membunuhnya dan membuatnya memuntahkan semua yang telah ditelannya.&lt;br /&gt;Malakelola pemerintahan yang terjadi dalam masa ini sedemikian rupa sehing&amp;shy;ga tiada seorang Muslim yang tak tergugah melihat para sahabat berkcdudukan tinggi dibiarkan terlantar, dilanda kemiskinan dan dikepung kemelaratan, sementara kekuasaan atas Baitul Mal berada di tangan Bani Umayyah, jabatan pemerintahan diduduki orang-orang muda mereka yang tak berpengalaman, hak-hak khusus kaum Muslim mereka kuasai, padang penggembalaan hanya untuk ternak mereka, rumah-rumah dibangun hanya untuk mereka, dan kebun-kebun hanya bagi mereka saja. Apabila ada seseorang merasa belas kasihan kepada orang lain lalu berbicara tentang pelanggaran batas-batas ini, ia diusir dari kota. Penggunaan zakat dan sedekah yang dimaksudkan untuk fakir miskin, dan Baitul Mal yang merupakan hak umum kaum Muslim, dapat dilihat pada gambaran berikut:&lt;br /&gt;(1) Hakam Ibnu Abil 'Ash yang telah diusir oleh Nabi dari Madinah, diizinkan kembali ke kota itu, bukan saja bertentangan dengan sunah Nabi tetapi juga bertentangan dengan perilaku kedua khalifah sebelumnya; ia bahkan diberi tiga ratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Ansāb al-Asyrāf, V, h. 27, 28, 125)&lt;br /&gt;(2) Walid Ibnu 'Uqbah yang telah dinaMal munafik dalam Qur'an, dibayari seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Al-'Iqd al-Farid, III, h. 94)&lt;br /&gt;(3) Khalifah itu mengawinkan anak perempunnya Umm Aban dengan Marwan Ibnu Hakam dan memberikan kepada Marwan seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 194-199)&lt;br /&gt;(4) la mengawinkan anaknya 'A'isyah dengan Harits Ibnu Hakam dan mem&amp;shy;berikan kapada Harits seratus ribu dirham dari Baitul Mal. (ibid)&lt;br /&gt;(5)  'Abdullah Ibnu Khalid diberi empat ratus ribu dirham. (Ibnu Qutaibah, Al-Ma'ārif, h. 84)&lt;br /&gt;(6) la memberikan hak atas khums (pajak keagamaan) dari Afrika, sejumlah lima ratus ribu dinar, kepada Marwan Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;(6) Kebun Fadak yang tidak diserahkan kepada putri Rasulullah Fathimah az-Zahra' berdasarkan alasan bahwa itu merupakan sedekah umum, diberikan sebagai hadiah kepada Marwan Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;(7) Mahzur, suatu tempat di area perdagangan Madinah, yang telah dimaklumkan sebagai milik umum oleh Nabi, dihadiahkan kepada Hants Ibnu Hakam. (ibid)&lt;br /&gt;(8) Di padang-padang sekitar Madinah, lak ada unta selain milik Bani Umayyah yang digembalakan. (Syarh Ibnu Abil Hadid, I, h. 199)&lt;br /&gt;(10) Setelah meninggalnya ('Utsman), seratus lima puluh ribu dinar (mala uang mas) dan satu juta dirham (mata uang perak) terdapat di rumahnya. Tak ada batas tanah-tanah yang bebas pajak; dan nilai total harta perkebunan yang dimilikinya di Wadi al-Qura dan Hunain adalah seratus ribu dinar. Di sana terdapat unta dan kuda yang tak terhitung banyaknya. (Muruj adz-Dzahab,I, h. 435)&lt;br /&gt;(11) Famili-famili khalifah memerintah semua kota penting. Di Kuf'ah, Walid Ibnu 'Uqbah adalah gubernurnya. Tetapi ketika dalam keadaan mabuk anggur ia mengimami salat Subuh empat rakaat, bukannya dua, dan rakyat menggugat, la pun dipindahkan. Tetapi, khalifah menggantikkannya dengan seorang munafik, Sa'id bin al-'Ash. Di Mesir 'Abdullah Ibnu Sa'd Ibnu AbT Sarh, diSuriah Mu'awiah Ibnu Abi Sufyan, di Bashrah 'Abdullah Ibnu 'Amir.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#333333;"&gt;KHOTBAH 4&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangan Jauh Amirul Mukminin dan Keimanannya yang Kukuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بِنَا اِهْتَدَيْتُمْ فِي اَلظَّلْمَاءِ وَ تَسَنَّمْتُمْ ذُرْوَةَ اَلْعَلْيَاءِ وَ بِنَا أَفْجَرْتُمْ عَنِ السِّرَارِ وُقِرَ سَمْعٌ لَمْ يَفْقَهِ اَلْوَاعِيَةَ وَ كَيْفَ يُرَاعِي اَلنَّبْأَةَ مَنْ أَصَمَّتْهُ اَلصَّيْحَةُ رُبِطَ جَنَانٌ لَمْ يُفَارِقْهُ اَلْخَفَقَانُ مَا زِلْتُ أَنْتَظِرُ بِكُمْ عَوَاقِبَ اَلْغَدْرِ وَ أَتَوَسَّمُكُمْ بِحِلْيَةِ اَلْمُغْتَرِّينَ حَتَّى سَتَرَنِي عَنْكُمْ جِلْبَابُ اَلدِّينِ وَ بَصَّرَنِيكُمْ صِدْقُ اَلنِّيَّةِ أَقَمْتُ لَكُمْ عَلَى سَنَنِ اَلْحَقِّ فِي جَوَادِّ اَلْمَضَلَّةِ حَيْثُ تَلْتَقُونَ وَ لاَ دَلِيلَ وَ تَحْتَفِرُونَ وَ لاَ تُمِيهُونَ اَلْيَوْمَ أُنْطِقُ لَكُمُ اَلْعَجْمَاءَ ذَاتَ اَلْبَيَانِ عَزَبَ رَأْيُ اِمْرِئٍ تَخَلَّفَ عَنِّي مَا شَكَكْتُ فِي اَلْحَقِّ مُذْ أُرِيتُهُ لَمْ يُوجِسْ مُوسَى ع خِيفَةً عَلَى نَفْسِهِ بَلْ أَشْفَقَ مِنْ غَلَبَةِ اَلْجُهَّالِ وَ دُوَلِ اَلضَّلاَلِ اَلْيَوْمَ تَوَاقَفْنَا عَلَى سَبِيلِ اَلْحَقِّ وَ اَلْبَاطِلِ مَنْ وَثِقَ بِمَاءٍ لَمْ يَظْمَأْ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Melalui kami Anda beroleh petunjuk dan mendapatkan kedudukan tinggi, dan melalui kami Anda keluar dari malam gelap. Telinga yang tidak hendak mendengar teriakan mungkin menjadi tuli. Bagaimana mungkin seseorang tetap tuli terhadap teriakan nyaring (Al Quran dan Nabi) akan mendengar suara (saya) yang lemah. Hati yang selalu berdebar (dengan takwa kepada Allah) akan mendapat kedamaian.&lt;br /&gt;Saya selalu mengkhawatirkan dari Anda akibat-akibat pendurhakaan, dan saya telah melihat Anda dibalik busana tipuan. Tirai agama telah membiarkan saya tersembunyi dari Anda, tetapi keikhlasan niat saya meng-ungkapkan Anda kepada saya. Saya berdiri untuk Anda pada jalan kebenaran di antara jalur-jalur di mana Anda saling bertemu tetapi tak ada pemimpin, dan Anda menggali tetapi tidak mendapatkan air.&lt;br /&gt;Hari ini saya akan membuat hal-hal yang bisu ini berkata-kata kepada Anda (yakni gagasan-gagasan dan renungan-renungan saya yang mendalam) yang penuh dengan kekuatan yang menguraikan. Pandangan orang yang meninggalkan saya mungkin tersesat. Saya tak pernah meragukan kebenaran itu sejak (kebenaran) itu ditunjukkan kepada saya. Musa tidak merasa takut bagi dirinya sendiri,&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/004.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt; melainkan dia prihatin atas kemenangan orang bodoh dan berkuasanya kesesatan. Sekarang kita berdiri di simpang jaian kebenaran dan kebatilan. Orang yang yakin akan mendapatkan air, tidak merasakan haus. ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/004.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;em&gt;[1]&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;em&gt;Rujukannya kepada Musa, ketika para penyihir dikirimkan untuk menantangnya dan mereka memperlihatkan sihir mereka dengan melemparkan tali dan tongkat ke tanah dan Musa merasa takut. Demikianlah, Al-Qur'an mencatat,&lt;br /&gt;"... terbayang kepada Musa seakun-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musd merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul." (QS. 20:66-68)&lt;br /&gt;Dan Amirul Mukminin berkata bahwa alasan takutnya Musa ketika melihat tali dan tongkat bergerak itu bukanlah demi nyawanya sendiri; ia lakut jangan sampai kaumnya terkesan oleh sihir itu lalu tersesat dan kebatilan beroleh kemenangan karena perbuatan sihir itu. Itulah sebabnya maka Musa tidak dihibur dengan mengatakan bahwa nyawanya aman, tetapi dcngan mcngatakan bahwa ia sebenarnya lebih unggul, dan dakwahnya akan terangkat. Karena ketakutannya adalah atas kekalahan yang hak dan kemenangan yang batil, bukan nyawanya scndiri, hiburan diberikan kepadanya untuk kemenangan yang hak, dan bukan untuk perlindungan tcrhadap nyawanya.&lt;br /&gt;Amirul Mukminin memaksudkan bahwa la pun mempunyai ketakulan yang sama, yakni jangan sampai umat terperangkap dalam jebakan orang-orang ini (Thalhah, Zubair, dan sebagainya) dan tersesat dari jalan yang benar. la tak pernah menghawatirkan kehidupannya sendiri.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#999999;"&gt;&lt;strong&gt;KHOTBAH 5&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diucapkan ketika Nabi (saw) wafat dan 'Abbas serta Abu Sufyan ibn Harb menawarkan diri untuk membaiat Amirul Mukminin untuk jabatan khalifah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;أَيُّهَا اَلنَّاسُ شُقُّوا أَمْوَاجَ اَلْفِتَنِ بِسُفُنِ اَلنَّجَاةِ وَ عَرِّجُوا عَنْ طَرِيقِ اَلْمُنَافَرَةِ وَ ضَعُوا تِيجَانَ اَلْمُفَاخَرَةِ أَفْلَحَ مَنْ نَهَضَ بِجَنَاحٍ أَوِ اِسْتَسْلَمَ فَأَرَاحَ هَذَا مَاءٌ آجِنٌ وَ لُقْمَةٌ يَغَصُّ بِهَا آكِلُهَا وَ مُجْتَنِي اَلثَّمَرَةِ لِغَيْرِ وَقْتِ إِينَاعِهَا كَالزَّارِعِ بِغَيْرِ أَرْضِهِ خلقه و علمه فَإِنْ أَقُلْ يَقُولُوا حَرَصَ عَلَى اَلْمُلْكِ وَ إِنْ أَسْكُتْ يَقُولُوا جَزِعَ مِنَ اَلْمَوْتِ هَيْهَاتَ بَعْدَ اَللَّتَيَّا وَ اَلَّتِي وَ اَللَّهِ لاَبْنُ أَبِي طَالِبٍ آنَسُ بِالْمَوْتِ مِنَ اَلطِّفْلِ بِثَدْيِ أُمِّهِ بَلِ اِنْدَمَجْتُ عَلَى مَكْنُونِ عِلْمٍ لَوْ بُحْتُ بِهِ لاَضْطَرَبْتُمْ اِضْطِرَابَ اَلْأَرْشِيَةِ فِي اَلطَّوِيِّ اَلْبَعِيدَةِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;Wahai manusia!&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/005.htm#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt; Menghindarlah dari gelombang-gelombang bencana dengan bahtera keselamatan, berpalinglah dari jalan perpecahan dan tanggalkanlah mahkota kesombongan. Beruntunglah orang yang bangkit dengan sayap (berkuasa) atau dia dalam kedamaian dan orang lain menikmati ketenteraman. (Kekhalifahan) itu adalah seperti air kabur atau sebagai suatu suapan yang akan mencekik orang yang menelannya. Orang yang memetik buah sebelum matang adalah seperti orang yang menanam di ladang orang.&lt;br /&gt;Apabila saya katakan maka mereka akan menyebut saya serakah akan kekuasaan, tetapi apabila saya berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa saya takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/005.htm#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt; lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. Saya mempunyai pengetahuan yang tersembunyi; apabila saya membukakannya, Anda akan gemetar seperti tali yang terulur ke sumur dalam. ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/005.htm#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt; Ketika Nabi (saw) wafat, Abu Sufyan tidak berada di Madinah. Dalam perjalanannya kembali ke Madinah ia mendapat berita duka itu. Segera ia mencaritahu siapa yang telah menjadi pemimpin. Kepadanya dikatakan bahwa rakyat telah membaiat Abu Bakar. Ketika mendengar ini, orang yang terkenal sebagai pembuat onar di Arabia ini berpikir dalam-dalam dan akhirnya mendatangi 'Abbas ibn 'Abdul Muththalib dengan membawa sebuah usul. la berkala kepadanya, "Lihat, dengan liciknya mereka menyerahkan kekhalifahan kepada orang Taim dan merebut hak Bani Hasyim untuk selama-lamanya, dan sesudahnya orang ini akan menempatkan di atas kepala kita seorang yang sombong dari Bani 'Adi. Marilah kita pergi kepada 'Ali ibn Abi Thalib dan meminta kepadanya keluar dari rumahnya dan mengangkat senjata untuk memperoleh haknya." Maka, dengan membawa 'Abbas besertanya ia datang kepada Ali seraya mengatakan, "Berikanlah tangan Anda kepada saya; saya akan rnembaiat Anda, dan apabila seseorang bangkit menentang, akan saya penuhi jalan-jalan Madinah dengan tentara berkuda dan ini'antri." Ini saat yang paling peka bagi Amirul Mukminin. la merasa dinnya sebagai pemimpin sesungguhnya dan pelanjut Nabi, sedangkan seseorang dengan dukungan suku dan partainya seperti Abu Sufyan siap hendak mendukungnya. Satu isyarat sudah cukup untuk menyulut api peperangan. Tetapi, pandangan jauh Amirul Mukminin scrta penilaiannya yang benar menyelamalkan kaum Muslim dari perang saudara! Matanya yang tajam melihal bahwa orang ini hendak memulai suatu perang saudara dengan membangkitkan sikap kesukuan dan keistimewaan darah, sehingga Islam akan terpukul dengan ledakan yang menggoncangnya hingga ke akar-akarnya. Karena itu, Amirul Mukminin menolak anjurannya dan memperingatkannya dengan keras dan mengucapkan kata-kata yang menghentikan perbuatan onar dan tipu daya yang licik, dan memaklumkan sikapnya bahwa baginya hanya ada dua jalan, mengangkal senjata atau duduk diam-diam di rumah. Apabila ia bangkit untuk berperang, tak ada pendukung yang dapat mcnekan kekacauan yang timbul. Satu-satunya jalan yang tertinggal ialah menunggu saat yang sesuai.&lt;br /&gt;Ketenangan Amirul Mukminm pada tahap ini menunjukkan kearifannya yang tinggi dan pandangannya yang jauh. Sekiranya dalam suasana itu Madinah menjadi pusat peperangan, apinya akan membahana di scluruh Arabia. Perselisihan dan pergolakan yang telah mulai di kalangan kaum Muhajirtn dan Anshar akan memuncak, api hasutan kaum munafik akan merajalela, dan bahtera Islam akan terjebak dalam badai sehingga sukar mengimbangkannya. Amirul Mukminin menderita kesusahan dan percobaan, tetapi tidak mengangkat tangannya. Sejarah menyaksikan bahwa selama hidupnya di Makkah, Nabi menanggung scgala macam kesusahan, tetapi beliau tidak mau berbentrokan atau berjuang dengan meninggalkan kesabaran, karena beliau sadar bahwa apabila terjadi peperangan pada tahap itu maka jalan pertumbuhan dan pembuahan Islam akan tertutup. Tentu saja, ketika beliau telah mengumpulkan para pendukung dan penolong yang cukup untuk menekan banjir kejahatan dan menumpas kekacauan, beliau bangkit menghadapi musuh. Demikian pula Amirul Mukminin, dengan mengikuti kehidupan Nabi sebagai suluh petunjuk, ia menahan diri dari adu kekuatan, karena ia menyadari bahwa bangkit menentang musuh tanpa penolong dan pendukung akan menjadi sumber pemberontakan dan kekalahan sebagai ganti keberhasilan dan kemenangan. Karena itu, pada kesempatan ini ia telah menyerupakan hasrat unluk kekhalilahan dengan air keruh atau suapan yang mencekik kerongkongan. Mereka tak dapat menelannya, tak dapai pula memuntahkannya. Yakni, mereka tak dapat mengelolanya, sebagaimana nampak pada kesalahan-kesalahan besar yang mereka lakukan sehubungan dcngan perintah-perintah Islam, tak siap pula melepaskan yang mencekik leher mereka.&lt;br /&gt;Ia mengungkapkan kembali gagasan yang sama ini dengan kata-kata lain, "Apabila saya telah mencoba untuk memetik buah kekhalifahan yang belum masak maka dengan ini kebun buah-buahan akan terkucil dan saya pun tak akan mendapatkan apa-apa, seperti orang-orang ini, yang menanam di kebun orang tetapi tak dapat menjaganya, tak dapat mengairinya pada waktu yang semestinya, tak dapat pula memetik sualu hasil darinya. Kedudukan orang-orang ini, apabila saya mcnyuruh mereka meninggalkannya agar si pemilik dapat menanaminya scndiri dan melindunginya, mereka akan mengatakan betapa serakahnya saya, sedangkan bila saya berdiam diri, mereka mengira saya takut mati. Mereka seharusnya mengatakan kapada saya kapan saya pernah merasa takut atau lari dari medan pertempuran untuk menyelamatkan nyawa, sedang tiap pertarungan kecil atau besar membuktikan keberanian saya dan menjadi saksi atas keberanian dan kesatriaan saya. Orang yang bermain dengan pcdang dan memancung bukit tidak akan takut kcpada maut. Saya begitu akrab dengan maut sehingga bahkan bayi tak akan seakrab itu dengan buah dada ibunya. Perhatikan! Sebab diamnya saya ialah pengetahuan yang telah diletakkan Nabi dalam dada saya. Apabila saya bentangkan itu maka Anda akan bingung dan tercengang. Biarlah beberapa hari berlalu, maka Anda akan mengctahui sebabnya saya tidak bertindak; dan lihatlah dengan mata Anda sendiri jenis manusia macam bagaimana yang akan muncul dalam gelanggang ini dengan nama Islam, dan kerusakan apa yang ditimbulkannya. Diamnya saya ialah karena ini akan terjadi; itu bukan diam tanpa sebab."&lt;br /&gt;Seorang sufi Iran mngatakan, "Diam mengandung arti yang lak dapat disampaikan dcngan kata-kata."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/kh/01/005.htm#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt; Tentang kematian, Amirul Mukminin berkata bahwa maut begitu dicintainya sehingga bahkan seorang bayi tak sebegitu mau sampai melompat ke sumber makanannya itu sementara ia dalam pangkuan ibunya. Keterlekatan bayi pada buah dada ibunya adalah karena pengaruh dorongan alami, tetapi dikte dorongan alami itu berubah dengan majunya waktu. Ketika masa bayi yang terbatas itu berakhir dan temperamen anak itu berubah, ia bahkan tak ingin melihat apa yang dahulunya begitu akrab baginya, bahkan memalingkan wajah darinya. Tetapi, kecintaan para nabi dan wali uniuk bertemu dengan Allah bersitat mental dan spiritual, dan perasaan mental dan spiritual tidak berubah, tidak pula kelemahan atau kelapukan terjadi padanya. Karena maut adalah sarana dan tangga pertama ke tujuannya maka cinta mereka kepada maut semakin bertambah sehingga kekerasannya menjadi sumber kesenangan bagi mereka, dan kepahitannya terasa sebagai sumber kenikmatan. Cinta mereka kepadanya adalah sebagai cinta orang haus kepada sumber air, atau kerinduan musafir yang tersesat kepada tujuannya. Maka, ketika Amirul Mukminm diciderai oleh serangan fatal 'Abdur-Rahman ibn Muljam, ia berkata, "Saya sebagai seorang pcjalan yang telah mencapai (tujuan), seperti pencari yang sudah mendapatkan (maksud), dan apa yang ada di sisi Allah adalah baik bagi orang yang takwa." Nabi mengatakan bahwa tak ada kesenangan bagi seorang mukmm selain persaiuan dengan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#c0c0c0;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492560304000696372-1975858465923009336?l=pakoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pakoz.blogspot.com/feeds/1975858465923009336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8492560304000696372&amp;postID=1975858465923009336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/1975858465923009336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492560304000696372/posts/default/1975858465923009336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pakoz.blogspot.com/2008/07/metaforasenja.html' title='NAHJUL BALAGHAH JILID 1'/><author><name>pakoz.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06250621242944093363</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SIS7acmz1eI/AAAAAAAAAEY/OpZv4q6N0MM/S220/1_943269368l.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Ck5dvzXYWDY/SH3WXkE5KkI/AAAAAAAAABI/TlhdJJBSTMM/s72-c/NB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
